Kamis, 12 Mei 2016

Pendidikan Agama Kristen Yang Berorientasi Teologi Gereja

Nama                                      : Tuah Ginting
NIM                                        : 15.02.587                 
MENUJU KEMATANGAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (III)
Yang Berorientasi Pada Teologi Gereja, 1940-1970
I. Pendahuluan
            Sejumlah pemikir dalam bidang pendidikan agama ingin mengakhiri peran dominan yang dimainkan oleh Dewey, Coe, dan Elliot dalam pendidikan agama. Mereka tidak bermaksud menolak pengertian penting yang dihasilakan ilmuan di bidang-bidang ilmu pendidikan, ilmu jiwa, ilmu masyarakat dan antropologi, namun mereka tidak rela bersandar secara tidak kritis pada kesimpulan yang diambil dari ilmu-ilmu tersebut, karena mereka yakin bahwa pengertian teologis perlu memainkan peran utama dalam teori dan praktek pendidikan yang berelangsung dalam jemaat.
            Untuk itu, marilah kita bahas sumbangan yang dibuat oleh H. Shelton Smith, Randolph Crump Miller, Lewis J. Sherrill dan D. Campbell Wyckoff.
II. Pembahasan
H. Shelton Smith
Agen Perubahan
           
            Smith Pernah melayani sebagai dosen di fakultas Teologi, Universitas Duke yang terletak dikota Chapel Hill, negara bagian North Carolina di bagian tenggara Amerika Serikat. Sumbangan utama Smith terhadap bidang ilmu pendidikan agama Kristen baru berporos pada satu karya, yaitu Faith and Nurture. Setelah Faith and Nurture itu diterbitkan , rupanya sudah ada pendidikan gerejawi lain yang tidak puas lagi dengan pendekatan dominan dalam gerakan pendidikan agama. Mereka ingin melihat sumbangan Smith dan siap menerima undangannya untuk membangun ulang bidang itu berdasarkan teologi gereja.
            Dunia keserjanaan pendidikan agama dikejutkan  oleh nada kecaman terhadap dugaan dasariah yang sudah lama menjadi darah daging para kerja daalam gerakan tersebut. Smith berkeberatan khususnya terhadap pembahasan tentang empat pokok ajaran teologi yang dibuat oleh para pendidik gerakan pendidikan agama, yakni kerajaan Allah, Manusia, Yesus Kristus dan Gereja.
1. Kerajaan Allah
            Dalam tangan pendidik pendidikan agama, kerajaan Allah itu menjadi antroposentris (manusia- sentris) dan tidak teosentris (Allah- sentris) lagi, dengan dampak yang luar biasa buruk terhadap teori dan praktek pendidikan agama. Menurut mereka, Allah tidak lagi berdaulat lagi atas seluruh unsur jagat raya termasuk manusia, karena gagasan itu sudah usang dalam lingkungan demokrasi, di mana kekuatan dasariah berada ditangan  rakyat dan bukan pemerintah. Alhasil, kepentingan manusia dinaikkan, sedangkan kekuatan segala kekuasaan lain termasuk kekuasaan Allah perlu dikurangi.  Manusialah yang bertanggung jawab atas urusnnya.
2. Manusia
            Smith melihat tiga cara pemahaman Kristen tentang manusia yang bertentangan dengan teori sekulernya. Petama, pemikiran seperti Dewey berdalil bahwa percaya kepada Allah berarti merendahkan martabat manusia dan kalau kita mau mempetinggi martabatnya, maka kita perlu membebaskan manusia dari belenggu ilahi. Menjawab dalil itu Smith mengakui bahwa memang terdapat pandangan terhadap Allah yang menista martabat manusia, tetapi kesaksian, khususnya dari para nabi Israel kuno pada abad ke-8 dan Yesus sendiri, memperkaya nilai-nilai secara pribadi. Lebih lanjut, tidak ada data empiris yang membuktikan kebenaran dalil bahwa martabat manusia dipertinggi kalau Allah diusir dari kesadaran nalar manusia. Justru sebaliknya yang benar. Masyarakat yang menolak Allah merendahkan martabat manusia. Kedua, teologi liberal yang berlaku dalam gerakan pendidikan agama memutlakkan pentingnya nalar manusia. Tetapi, kalau manusia tidak mengabdikan  diri kepada Allah sebagai nilai mutlak yang diperlukan dimuliakan, maka ia senantiasa digoda untuk memutlakkan semua nilai yang sebenarnya nisbi sifatnya. Ketiga, pentingnya manusia bergantung pada penilaian Allah saja dan tidak pada penilaian orang-orang yang hidup dalam kebudayaan tertentu pada titik waktu sejarah tertentu, karena segala macam penilaian insiani dicap dengan kefanaanya pula.
            Smith menghargai tekanan pada jati diri manusia sebagai makhluk sosial yang dibuat oleh para pemikir dalam gerakan pendidikan agama dan pentingnya memperbaiki mutu segala struktur masyarakat. Tetapi bersandar pada keinginan dan kemampuan orang-orang untuk membangun masyarakat adil dan makmur tidak sama kuatnya dengan dorongan yang berasal dari kasih Allah terhadap manusia.
3. Yesus Kristus, Penyataan Allah
            Sepanjang abad, iman gereja hidup berdasarkan keyakinan bahwa dalam Yesus dari desa Nazaret provinsi Galilea Allah telah menyatakan kehendak dan kebenaran-Nya yang mutlak tentang arti kehidupan manusia. Sebutan itu tidak searti dengan menyatakan bahwa terdapat penjelasan tertentu tentang Yesus yang mencakup seluruh makna-Nya. Namun, perbedaan penjelasan tersebut tidak meniadakan dalil iman bahwa bagi pemahaman Kristen, Yesus sendiri adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup, ketimbang menerima-Nya sebagai salah satu jalan, kebenaran dan hidup yang ada di antara sekian banyak yang berlaku. Tetapi teologi liberal dan pendidik agama seperti Coe dan Elliot tidak hanya menyangkal kemutlakan penyataan itu, mereka bahkan menyangkal perlunya orang bertobat dan diselamatkan dalam Yesus Kristus.
            Penolakan penyataan mutlak dalam Yesus Kristus berarti bahwa para pendidik agama menisbikan pentingnya nilai-nilai historis termasuk yang terdapat dalam Alkitab. Bagi mereka, tugas guru bukanlah mengajarkan isi kesaksian yang disamapaikan oleh orang percaya yang hidup pada masa lampau, melainkan untuk memperlihatkan bagaimana orang-orang itu bergumul dengan masalah-masalah tertentu dalam terang iman. Menurut Smith, asuhan Kristen yang bermakna harus berakar dalam iman yang teguh, yang menolak sifat sementara dan proses mendidik yang tampak dalam teori dan praktek pendidikan Dewey. Di balik asuhan Kristen terdapat iman yang lebih mendalam daripada kepercayaan pada nilai-nilai yang senatiasa dalam proses bertumbuh. Memeng, pendidik Kristen akan menerima setiap fakta ilmiah yang betul-betul benar, padahal ia tidak rela menduga secara membabi-buta bahwa tidak ada yang baru dalam usaha insani untuk mencari kebenaran. Oleh karena itu, hendaklah guru Kristen membagikan iamn kepada anak dengan keyakinan bahwa dalam Kristus Allah telah menyampaikan firman yang berlaku secara abadi kepada umat manusia, daripada memberikan kesan bahwa dasar iman Kristen hanya berlaku sebentar saja. Suatu gereja Kristen yang dinamis tidak kunjung memberitakan dan mendidik menurut pendekatan yang betul-betul objektif secara ilmiah.
4. Gereja
            Sesudah Smith memeriksa karya tulis para pendidik agama, ia menarik kesimpulan bahwa rupanya mereka kurang peduli terhadap intisari gereja ketimbang kelompok profesional apa pun di bidang agama. Kesimpulan yang mengherankan itu berhubiungan dengan lima faktor, diantaranya:
a.       Sejak semula Sekolah Minggu hidup sedikit- banyak terpisah dari gereja sebagai lembaga. Oleh karena itu, para pendidik setempat cenderung menganggap diri terlibat dalam urusan pendidikan umum dan bukan yang gerejawi.
b.      Teori pendidikan agama yang dikembangkan pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat berakar dalam pikiran pedagogis yang cenderung mengenali gereja sebagai persekutuan khas ilahi.
c.       Teologi liberal yang bekaitan dengan “ gerakan Injil sosial” mementingkan Kerajaan Allah, sementara itu meremehkan pentingnya gereja.
d.      Para pendidik agama terlampau sibuk dengan “agama” atau “pengalaman agamawi” ketimbang menghiraukan gereja, bahkan mereka khawatir bahwa lembaga gereja berdampak negatif terhadap perkembangan agama yang hidup.
e.       Pendidikan agama berkembang dalam tanah persekutuan injil yang mengidentifikasi gereja sebagai jenis pagayuban yang orang masuki dengan sengaja, yakni karena sudah mengalami agama secara hangat dan bukan suatu persekutuanyang dijadikan oleh prakarsa Allah dalam Yesus Kristus.

Randolph Crump Miller (1910- )
PAK yang Teologis-Sentris
1. Riwayat Hidup
            Miller lahir pada 1 oktober 1910, anak seorang pendeta gereja inggris. Ayahnya berasal dari keluarga petani dan ibunya adalah putri pemilik tambang batu bara. Setelah tamat dari Pomona Colloge di negara bagian Califronia pada tahun 1931, ia memulai studi lanjutan di Universitas Yale dan meraih gelar Ph.D. pada tahun 1936. Disertasinya membahas pikiran Henry Nelson Wieman dan pikiran filsafat proses sebagaimana dikembangkan oleh “mazhab chicago”. Disamping itu, selama tahun akademis 1935-36, ia mengikuti kuliah teologi pula pada Sekolah Tinggi Teologi Gereja Inggris di Cambridge, negara bagian Massachusetts dan ditahbiskan sebagai seorang pendeta pada tanggal 6 januari 1937.
            Tatkala ia masih di Cambridge, ia menerima undangan dari Sekolah Tinggi Teologi Inggris di Berkeley, negara bagian California, untuk menjadi seorang dosen. Gajinya cukup hanya untuk ongkos penginapan dan makan saja ! Namun dia masih mensyukuri kesempatan bekerja dan gaji yang begitu rendah itu, karena perekonomian amerika masa itu sedang mengalami yang hebat. Bidang yang digelutinya adalah etika Kristen dan filsafat agama kristen, padahal ia sendiri tidak pernah mengikuti kuliah PAK sebelumnya! Ia selalu mengatakan bahwa untuk memenuhi tugas itu ia harus meminjam catatan kuliah tunangannya, Muriel (mereka menikah tanggal 9 Juni 1938) yang ia susun ketika mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Baptis! Benar tidaknya ucapan jenaka itu, undangan membawakan kuliah tersebut menjadi titik balik dalam kariernya. Setelah itu, namanya termasyhur karena sumbangannya dibidang yang dipilih secara “kebetulan saja ! Disamping membawakan kuliah PAK ia dipilih sebagai Ketua Departemen Pendidikan Agama Kristen Keuskupan California. Pada tahun 1940 pula ia diangkat sebagai pendeta jemaat kecil yang tidak mempunyai gedung gereja sendiri. Sebelum meletakkan jabatan pendeta sebelas tahun kemudian, jumlah anggotanya terus bertambah sampai menjadi lebih dari dua ratus lima puluh warga. Lalu ia pindah dari California untuk menerima undangan menjadi odsen dibidang pendidikan agama di Sekolah Tinggi Teologi Universitas Yale.
            Pada tahun 1958 tugasnya rangkap dua, tatkala dipilih menjadi redaktor majalah Religious Education yang sudah disebutkan dalam bab VIII. Pada tahun sabat pertama di Yale (1959-60), ia dan istri belajar di Institut Oikumenis di Bossey, Swiss, dan mengunjungi beberapa tempat di Eropa untuk tukar-menukar pikiran dengan para pemimpin gerejawi. Tatkala di Eropa ia mengarang buku pedoman berdasarkan Christian Nurture and the Church bagi Institut Pendidikan Agama Kristen yang diselenggarakan pada tahun 1961 di Belfast, Irlandia Utara, oleh Dewan Pendidikan Agama Kristen se-Dunia dan Asosiasi Sekolah Minggu ( WCCESA). Pada tahun sabat kedua (tahun 1966-67) ia mengajar di  Libanon dan India serta ambil bagian dalam Institut Pendidikan Agama Kristen  di Nairobi, Kenya,yang juga diselenggarakan oleh WCCESA. Selama di Libanon itu, ia mengarang buku  yang berjudul The Language Gap dan God untuk tahun sabat ketiga(1970), ia dan istri pergi ke Selandia Baru, Australia, Indonesia, Asia Tenggara dan khususnya di Singapura sebagai penceremah utama pada Institut Teologi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Sekolah Teologi di Asia Tenggara.
            Menjelang bagian akhir dari kariernya ia kembali lagi kebidang teologi proses, “kekasihnya yang semula”, dengan jalan mengarang The American Spirit in Theology yang membahas pikiran dari beberapa filsuf dan teolog yang berporos pada aliran empiris, pragmatis dan proses. Teologi proses dan dampaknya atas pendidikan agama Kristen dibahas secara khusus dalam buku berjudul, The Theory of Christian Education Practice sepintas lalu “teologi proses” itu dirumuskan oleh miller dengan kata-kata berikut:
Ia (teologi proses) mencerminkan banyak pengertian dari Alkitab, tetapi ia bertanya lagi tentang tambahan yang termasuk dalam teologi klasik seperti ajaran predestinasi, kemahakuasaan dan keabadian (immutability) teologi proses memandang Allah sebagai kekasih yang menderita yang berusaha menyakinkan orang, ketimbang memandang-Nya dibawah kiasan diktator yang sedemikian rupa terpisah dari keadaan insani. Mustahil Dia mengalami perubahan dan penderitaan. Didalamnya terisrat perlunya meninjau ulang pikiran kristologis. Disamping itu, ajaran Roh Kudus akan diperkaya.
2. Dasar Teologi
            Ia melihat bahwa teologi gereja tidak memainkan peranan yang mencolok di dalam teori mereka. Oleh karena itu, Miller berusaha menemukan kunci(clue) yang menyoroti hubungan erat antara ilmu teologi dengan pengalaman pribadi, antara isi Pendidikan Agama Kristen dengan metodologi dan antara kebenaran dengan kehidupan. Sesudah mempertimbangkan kekuatan dan kelemahannya dari pelbagai kemungkinan, ia yakin bahwa justru teologi yang relevanlah kunci  yang perlu oleh para pemikir dan pekerja di bidang Pendidikan Agama Kristen. Bagi Miller istilah teologi sendiri dirumuskan sebagai kebenaran-tentang-Allah-dalam-hubungan-dengan-manusia.
            Kunci bagi Pendidikan Agama Kristen adalah penemuan suatu teologi yang relevan yang akan menjembatani jurang pemisah antara isi dan metode. Teologi itu akan menjadi latar blakang dan titik tolak untuk memahami kebenaran Kristen. Dengan itu metode-metode terbaik dan isi kurikulum akan dipakai sebagai sarana untuk mengantar para pelajar ke dalam hubungan yang benar dengan Allah yang hidup, yang menyatakan diri kepada kita dalam Yesus Kristus, bimbingan orangtua dan persekutuan kehidupan jemaat akan dimanfaatkan sebagai konteks bagi pelaksanaan asuhan Kristen.
            Lebih lanjut, teologi itulah yang ditentukan pandangan kita atas lingkungan dimana iman cenderung berakar dan bertumbuh, yakni rumah tangga dan jemaat, persekutuan orang yang percaya kepada Kristus. Singkatnya, kita bertumbuh lebih banyak dalam iman Kristen melalui mutu hubungan kita ketimbang melalui gagasan agamawi tertentu yang mungkin kita anut terpisah dari pengalaman hidup.

3.Rumusan Pendidikan Agama Kristen
            Miller mencari rumusan yang mengutamakan pendidikan agama Kristen sebagai pelayanan yang berdiri dalam tradisi Kristen. Ia harus bertanggungjawab dari sisi teologi yang pada pokoknya bertitik-tolak dari keyakinan bahwa gereja berasal dari Injil Yesus Kristus.Pendidikan agama Kristen dimulai tatkala kita diperhadapkan dengan Injil itu. Pengalaman itu disifatkan oleh beberapa ciri khas.
            Pendidikan tersebut terjadi dalam lingkungan sosial. Pada suatu pihak lingkungan tempat pengalaman sosial itu berlangsung adalah rumah tangga Kristen dan pada pihak lain adalah gereja sebagai persekutuan yang menebus (redemptive fellowship). Pendidikan Agama Kristen mencakup kegiatan perorangan sebagaimana orang itu sedang mengambil keputusan pribadi, tetapi pendidikan itu berdampak terhadap masyarakat pula tatkala orang yang sama itu memenuhi tanggung jawabnya dalam kehidupan dan pekerjaan. Pendidikan agama Kristen mencakup historis. Jadi, pengetahuan tentang masa lampau adalah mutlak penting untuk memahami baik masa kini maupun harapan akan masa depan. Pedidikan yang asasi yang tidak hanya mendasari watak Kristen, yang menentukan ciri khas dalam masyarakat yang berdampak pada kesetiaaan pribadi bahkan yang kadang kadang merusaknya juga. Hubungan-hubungan pribadi ini di alami dalam kehidupan antara orang-orang, dan pihak lain antara orang-orang dan Allah terhadap saudara-saudara yang dilihat. Pendidikan agama Kristen terlibat pula tatkala orang-orang memutuskan hubungan-hubungan tersebut dan tatkala anugerah allah yang menyembuhkan memperbaharui hubungan-hubungan tersebut.
4.Tujuan Pendidikan Agama Kristen.
            Dalam tulisannya, Miller mengingatkan para pembaca bahwa pusat pendidikan agama Kristen bukanlah sejumlah pengetahuan dan bukanlah sejumlah pengetahuan dan bukanlah keprihatinan manusia, melainkan Allah. Kalau begitu, tugas pendidik ialah mengantar pelajar sedemikian rupa, sehingga ia mengalami pengalaman-pengalaman agama kristen mesti ada pelbagai perjumpaan yang memerlukkan keputusan pribadi dari pihak pelajar agar ia semakin hidup sesuai dengan kepercayaan akan Ketuhanan Yesus. Sebagai hasil dari mengalami Allah sebagai poros kehidupan dan melibatkan diri dalam proses mengambil keputusan pribadi secara kontiniu, mempelajari itu sedang bertumbuh menuju kematangan dalam iman Kristen.
            Apa itu kematangan? Miller mendaftarkan serangkaian sifat seorang warga Kristen yang semakin matang dalam imannya  yang sekaligus berfungsi sebagai tujuan umum bagi Pendidikan Agama Kristen: Segala tenaga, dana dan sarana yang dihabiskan jemaat demi rencana pengalaman belajar-mengajar dikalangnya hendaknya ditujukan pada usaha menolong setiap orang mengenal dirinya sebagai anak Allah.
5.Lingkungan
            Bagi Miller,lingkungan pendidikan agama Kristen berporos pada hubungan-hubungan yang berlaku di tempat pelajar belajar dan bertumbuh. Walaupun dalam prosesnya penggunaan kata memainkan peranan bermakna, namun makna kata tersebut bergantung pada mutu hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan luas tertentu.
            Demikianlah rumah tangga Kristen merupakan lingkungan pertama bagi pelaksanaan pendidikan agama Kristen. Sekarang kita tiba pada lingkungan kedua, yakni gejera yang disifatkan oleh enam fungsi. Pertama,gereja adalah yang beribadah dan orang yang belajar beribadah dengan mengambil bagian dalam kebaktian. Kedua, gereja adalah persekutuan yang menebus, dalam arti kebutuhan dasariah dari anggotanya terpenuhi dan hubungan yang terputus dapat di sembuhkan kembali. Walaupun jemaat adalah persekutuan orang berdosa, namun ia juga melaksanakan pelayanan pendamaian. Ketiga, menyediakan kesempatan belajar bagi orang dari segala golongan umur. Keempat, gereja adalah persekutuan yang prihatin akan kebutuhan orang yang kesepian, sakit, miskin, lemah, lanjut usianya; ia merasa diri hidup dibawah perintah Tuhan untuk berusaha melayani siapapun,khususnya “yang paling hina”. Kelima, gereja adalah persekutuan yang ingin membagikan iman.Keenam, gereja adalah persekutuan yang bekerja sama dengan warga kelompok Kristen lain.
            Pada tahap tertentu, terdapat lingkungan lain yang penting walaupun bersifat sekunder, yakni sekolah umum dimana PAK agama adalah salah satu mata pelajaran kurikuler. Menurut Miller, sekolah itu dapat mengajarkan data tertentu tentang iman, umpamanya isi Alkitab, tetapi ia tidak mampu menyediakan pengalaman belajar paling mendalam karena sekolah sewajarnya bukanlah persekutuan yang beribadah. Terdapat lingkungan lain lagi,yakni “dunia”. Sebenarnya “dunia” melambangkan sebagai gelanggang tempat orang bermain,bermalas-malas pada waktu senggang, bekerja, melayani, memenuhi sejumlah tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan negara. Dari “dunia” timbullah pertanyaan nyata, tantangan nyata, dilema nyata dan seterusnya, yang perlu disoroti atau diajawab oleh pengertian yang dihasilkan dari teologi dan pengalaman orang beriman yang menyebut Yesus Kristus Tuhannya.
6. Pelajar
            Oleh karena pengalaman yang bertumbuh disepanjang hidupnya itu di anggap sebagai peluang yang Allah karuniakan kepada semua orang, maka sewajarnyalah orang-orang dari segala golongan umur sebagai subyek yang termasuk dalam pelayanan pendidikan agama Kristen. Pelaksanannya dapat dilancarkan bila ia diperhatikan dari keempat sisi kebutuhan dasariah yang sadar atau tidak setiap orang berusaha untuk memenuhinya. 1)Setiap orang memerlukan kasih dan perasaan bahwa ia diterima oleh pihak lain sebagai seorang yang berharga. 2) Setiap orang memerlukan struktur hukum dan ketertiban. 3) Setiap orang memerlukan kemerdekaan untuk bertumbuh. 4) Setiap orang memerlukan pemupukan dan pembinaan perasaan terhadap misteri kehidupan.

7.Pengajar
            Secara praktis ada tiga pengajar utama,yakni lingkungan rumah tangga jemaat dan korps guru. Mengingat bahwa kedua yang pertama itu telah dibahas dibawah tema “lingkungan” diatas, maka titik berat kita di sini adalah guru yang mengajar berdasarkan rencana tertentu. Pada awal pembicaraan tentang jati diri seorang guru, Miller membedakan antara dua pengalaman, yakni mengajar dan beriman, kemudian ia menyesuaikan kedua-duanya satu sama lain.
Mengajar berarti menyampaikan perasaan, pengertian, sikap, kenyataan dan arti, padahal beriman itu berarti mempercayai, mengabdikan diri, mengambil keputusan, mempunyai dasar bagi segala sesuatu yang kita harapkan dan berkeyakinan tentang segala sesuatu yang kita tidak lihat. Mengajar agar menghasilkan iman berarti mengambil bagian dalam persekutuan dimana anggotanya mampu saling percaya satu sama lain dan untuk bersama-sama percaya kepada Allah.
            Ciri-ciri khas apakah yang diharapkan tampak dalam diri seorang guru? Pertama, guru dikalangan jemaat hendaknya mempunyai pengetahuan dan pengertian dasariah tentang Alkitab, sejarah gereja dan pokok-pokok ajaran teologi yang relevan bagi kehidupan sehari-hari. Kedua, isi pokok ajaran teologi yang ia anut perlu menghormati diri-sebagai seorang. Kristen yang mampu berpikir secara cerdas. Ketiga, ia memiliki keinginan untuk memperbaiki keterampilan mengajar, yang mencakup teknik-teknik mengajar.Keempat,guru harus mengabdikan diri kepada Allah dari Yesus Kristus. Sementara mengakui bahwa ia tidak layak menerima panggilan mengajar yang begitu mulia, namun ia harus siap menyerahkan bakat dan kemampuannya kepada Tuhan.

8.Ruang Lingkup kurikulum.
            Sebenarnya, pokok-pokok yang tercakup dalam ruang lingkup kurikulum yang dipikirkan oleh Miller telah tersirat dalam kebanyakan tulisan Miller, tetapi pokok-pokok itu tampak jelas dan lengkap dalam buku berjudul, Biblical Theology and Christian Education. Didalam buku tersebut, miller menggambarkan arti amanat Alkitab sebagai drama keselamatan yang terdiri atas lima babak utama yakni: Penciptaan, Perjanjian, Penebus, Persekutuan dan Penggenapan. Kelima babak itu ditambah oleh satu tema lagi, yakni Pengabdian yang hendaknya terjadi secara wajar sebagai tanggapan terhadap setiap babak tersebut.
a.Bahan-sentris, yakini bahan yang Alkitab-sentris,gereja-sentris ataupun pokok teologi-sentris.
            Pendekatan Alkitab-sentris mengutamakan pengetahuan Alkitab. Ayat-ayat dan perikop tertentu dihafalkan. Hasil pendekatan ini adalah setiap pelajar mengetahui isi dari banyak fakta-fakta, kutipan, cerita dan sejarah. Pendekatan mengajar yang gereja-sentris memperlihatkan jenis kekuatan dan kelemahan yang serupa dengan pendekatan yang Alkitab-sentris. Dengan mempelajari sejarah gereja, ciri-ciri khas dari sinode dan kesetiaan pada seluruh umat Allah, maka para pelajar diantar mengambil bagian secara bertanggung jawab dalam salah satu jemaat, yakni dalam kebaktian, rencana pendidikan agama Kristen, pelayanan sosial, penginjilan dari pertolongan kepada gereja diluar jemaat setempat.
            Seyogianya pendekatan yang teologi-sentris itu mengutamakan ajaran teologi tertentu. Pokok-pokok teologi yang ingin kita sampaikan adalah yang memberi petunjuk kepada pelajar supaya bertindak sebagai seorang Kristen. ”Oleh karena itu, amat penting usaha mencari pokok ajaran teologi yang benar, nilai-nilai yang benar dan Allah yang benar.
b.Kehidupan/Pengalaman-sentris.
            Kurikulum yang kehidupan atau pengalaman-sentris itu lebih mengutamakan perkembangan pelajar sebagai seorang yang utuh ketimbang menyampaikan sejumlah keterangan kepada murid seperti pendekatan yang bahan-sentris. Pada umumnya terdapat tiga macam masalah yang perlu dipecahkan oleh setiap orang:  1)kebutuhan untuk bertindak 2)kebutuhan untuk mengetahui; dan 3) kebutuhan untuk mempercayai.

9. Metodologi
            Pada dasarnya metode tertentu dapat digolongkan dibawah empat jenis kegiatan utama, yakni:
a. Memberitahukan
            Metode ini digolongkan dalam rumpun metode yang tertua. Tatkala nenek moyang kita, termasuk nenek moyang dalam iman, ingin mengajar, mereka bercerita. Kebanyakan cerita Perjanjian Lama, khususnya yang termuat dalam kitab kejadian, Keluaran,Yosua, Hakim-hakim, 1 & 2 Raja-raja, Rut dan Ester berkali-kali diceritakan ulang sebelum dituliskan pada bahan tulis seperti kulit binatang. Lagi pula, bercerita itu menjadi sarana penting untuk mengajarkan pengalaman bangsa Israel dengan Tuhan.Demikianlah bunyi Mazmur 78:
            Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan tekai-teki dari zaman purbakala. Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada Tuhan dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya (Mzm. 78:1-4).
            Metode memberitahukan lain yang mempunyai sejarah mulai ialah berceramah. Tetapi metode ini harus disesuaikan dengan minat dan kemampuan kelompok pendengar. Metode panel diskusi, dialog antara dua pemimpin, laporan tentang wawancara dan mendengar kaset audio sebagai sumber memperoleh keterangan dalah contoh lain tentang metode “memberitahukan” itu.
b. Memperlihatkan
            Rumpun metode ini punya sejarah yang mulia pula. Masyarakat purba penghuni gua memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka mengungkapkan gagasan tentang binatang yang dipelihara atau yang akan diburu kepada kelompoknya melalui gambar-gambar.

c. Tukar Pikiran
            Sering kali diskusi kelompok dipakai untuk tukar menukar pikiran, tetapi bila hal itu betul terjadi, diskusi itu harus dipersiapkan lebih dulu oleh kedua belah pihak, guru dan murid. Penggunaan metode tanya-jawab adalah cara yang baik untuk tukar menukar pikiran.

d.Perencanaan dan Kegiatan Kelompok
            Metode ini membuka kesempatan bagi peseta untuk bertindak sesuai dengan maksud yang mereka tentukan dibawah bimbingan guru. Namun agar pendekatan ini berhasil dengan baik, guru perlu menahan diri. Perannya ialah menjadi sumber yang menolong dan bukan tokoh berkuasa yang mendominasi.

10.Belajar beribadah
            Miller mengutamakan pentingnya belajar beribadah dengan kata-kata berikut: Gereja adalah persekutuan  yang beribadah.



11.Pengelolaan Pendidikan Agama Kristen
            Dibalik segala pengorganisasian dan pegelolaan yang berkaitan dengan pendidikan agama Kristen ada empat asumsi: 1)Gereja wajib menghasilkan suasana yang idadalamnya kesejahteraan perorangan dan persekutan dalam terang Injil dijunjung tinggi; 2)Dalam rangka memenuhi kebutuhan orang-orang dan kelompok-kelompok,segala unsur kehidupan jemaat bermakna secara pedagogis; 3)Pengorganisasian dan pengolaan adalah bagian mutlak dari kurikulum Penddikan Agama Kristen; dan  4)Pengorganisasian dan pengelolaan jangan dianggap sebagai tujuan yang terpisah dari unsur-unsur lain dalam pelayanan jemaat.

C.L.J. Sherrill (1892-1957)
PAK yang Teologis/Psikologis-sentris

1.Riwayat Hidupnya
            Sherill lahir di kota kecil Haskell, negara bagian Texaas Utara. Sebagai seorang pemuda, ia melayani negaranya pada Perang Dunia I dalam angkatan darat. Ia tamat dari Kolese Austin di Texas, negara bagian Kentucky. Studi lanjutnya dimulai di Universitas Northwestern di kota Evanston, negara bagian illinions, tetapi kemudian ia pindah ke Universitas Yale dan meraih gelar Ph.D dari universitas itu. Sesudah tamat dari Sekolah Tinggi Teologi Louisville, ia melayani jemaat First Presbyterian Church, di Covington, negara bagian Tennessee. Pada tahun 1924 alma maternya di Louisville mengangkatnya dosen dibidang pendidikan agama. Lima tahun kemudian ia dipilih oleh pengurus untuk enjadi dekan sekolahnya. Pada tahun 1950 ia pindah ke  Sekolah Tinggi Union di kota New York sebagai dosen, dibidang Pendidikan Agama Kristen dan tetap tinggal disana sampai ia wafat pada tahun 1957.
2.Keyakinan Teologis
            Ada tiga keyakinan teologis utama yang menyoroti pandangan sherill, yakni pokok ajaran tentang penyataan, manusia dan persekutuan Kristen (koinonia)
a.pernyataan sebagai pengalaman dinamis dengan tuhan.
b.Pokok teologis dasariah kedua dalam pikiran Sherrill ialah ajaran tentang manusia.
c.Pengertian teologis ketiga yang amat dasariah dalam pandangan Sherill ialah persekutuan Kristen.


3.Keyakinan psikologis
            Sherrill lebih memusatkan perhatian pada kecemasan normal, tanpa mengabaikan dimensi neurotis. Kecemasan itu adalah tanggapan terhadap ancaman nyata yang gagal manusia indetifisi secara teliti. Sebagai manusia modren, ia cemas karena keamanannya terancam oleh banyak hal dan ia tidak mengetahui dasar kecemasannya. Sebagai contoh tentang kecemasan normal, Sherill sendiri tertarik pada gambaran Tillich tentang kecemasan eksistensial yang mencakup tiga sifat. Pertama, adanya kecemasan terhadap kematian. Kedua, manusia cemas karena banyak usahanya tidak bermakna dan ia merasa bahwa segala tenaga yang dihabiskan untuk itu sia-sia saja hasilnya. Ketiga, ia cemas karena merasa bersalah dan selayaknya dihukum, tetapi ia tidak tahu bagaimana melepaskan diri dari perasaan tersebut.

4. Rumusan PAK
            Sherill membedakan pendidikan umum dan pendidikan agama Kristen yakni: Perbedaan pertama itu mencakup tolok ukur masing-masing. Pendidikan umum yang dibayar oleh kas negara harus sesuai dengan asas-asas yang ditentukan oleh negara. Pendidikan agama Kristen ditentukan oleh lembaga gereja, tetapi disamping itu sama seperti gereja itu sendiri, pendidikan umum itu perlu dipertimbangkan dari pihak penyataan, sehingga senantiasa dikoreksi oleh tolak ukur yang transenden.
            Kedua, Allah diakui sebagai Peserta aktif dalam proses pendidikan agama Kristen.Walaupun proses belajar-mengajar dikalangan gereja adalah serupa dengan yang berlaku di sekolah negara,namun dalam pendidikan agama Kristen kita percaya bahwa Allah menyatakan diri melalui proses belajar mengajar dan mempergunakan pelbagai interaksi antara orang orang secara kreatif dan bersifat menyelamatkan. Ketiga, persekutuan Kristen menaklukkan diri pada kedaulatan yang lebih berkuasa ketimbang segala kedaulatan lainnya.
            Sesudah memaparkan perbedaan dan persamaan antara pendidikan umum,dan pendidikan agama Kristen, Sherill merumuskan  pendidikan agama Kristen dengan kata kata berikut : Pendidikan agama Kristen adalah upaya yang diprakasai pada lazimnya oleh para anggota persekutuan Kristen yang berlangsung dalam diri orang orang dalam hubungannya dengan Allah, gereja, orang lain,dunia alam dan dengan dirinya sendiri.

5. Tujuan
            Tujuan pendidikan agama Kristen menurut Sherill untuk memperkenalkan para pelajar dikalangan persekutuan Kristen warisannya, khususkan para pelajar di kalangan persekutuan Kristen dengan warisannya. Khususnya Alkitab, agar dengannya mereka dipersiapkan menjumpai Allah dan menjawab kepada-Nya, mempelancar komunikasi pada tahap yang mendalam antar-orang tentang keprihatinan-prihatinan insani dan mempertajam kemampuannya menerima fakta bahwa merkea di cengkeram oleh kekuatan dan kasih Allah yang memperbaiki, menebus dan menciptakannya kembali.

6. Lingkungan
            Ada satu lingkungan luas utama bagi kelangusngan pendidikan agama Kristen, yakni persekutuan Kristen entah wadahnya keluarga Kristen atau jemaat. Oleh karena itu, segala sesuatu yang sudah ditulis tentang gereja sebagai koinonia berlaku pula disini.

7. Pengajar
            Sesuai dengan tekanan Sherrill atas pernyataan, Allah dianggap sebagai pengajar utama, karena Dialah yang memprakarsai hubungan dengan manusia. Disamping itu, jemaat sebagai koinonia memainkan peranan yang begitu besar dalam pelayanan pendidikan agama Kristen. Pengajar ketiga adalah guru yang wajib menyelenggarakan pengalaman belajar demi pelaksanaan komunikasi yang paling mendalam.

8.Pelajar
            Jati diri dari pokok ini sudah tersirat dalam pembahasan diatas, yakni seluruh jemaat adalah pelajar, karena integritas setiap orang selalu ‘terancam oleh tantangan yang nampak didalamnya secara pribadi dan dalam masyarakat. Dengan kata lain, anak-anak dari segala golongan umur, remaja, pemuda dan orang dewasa dianggap sebagai subyek dari pelayanan pendidikan agama Kristen.


9.Asas penuntun
            Sumbangan paling orisinal dari Sherrill atas apa yang lazim disebut asas menuntun tercakup dalam penggunaan korelasi antara jalan buntu atau masalah kritis (predicament)dan tema alkitabiah. Predikamen itu menunjukkan pelbagai keprihatinan insani yang cenderung mengganggu ketenteraman setiap orang sepanjang abad. Dasarnya terletak pada kecemasan yang dialami orang,karena pada akhirnya segala bentuk keamanan kelak terancam. Karena itu, ia  tidak melihat jalan keluar. Tema-temalah yang dianggap sebagai jawaban alkitabiah terhadap predikamen tersebut. Menurut Sherrill, ada delapan tema am,yakni penciptaan, kedaulatan, panggilan hidup, penghakiman, penebuasan, penciptaan ulang, pemeliharaan dan kehidupan beriman.

10.Kurikulum
            Pada dasarnya, kurikulum hendaknya dibangun berdasarkan korelasi antara kedelapan tema alkitabah tersebut dengan delapan predikamen. Masing-masing tema merupakan wahana yang dimanfaatkan Allah untuk menyatakan diri.

11.Metodologi
            Sherrill menganjurkan tujuh asas metodologi yang hendaknya diperhatikan setiap guru sebelum ia memilih metode tertentu, Yaitu :
a.Asas Komunikasi Bukan Lisan(non-verbal)
            Sejak lahirnya orang,komunikasi bukan lisan paling menonjol. Bila mengingat bahwa hakikat dari amanat Alkitab ialah kasih dan selanjutnya kasih itu dikomunikasikan melalui bentuk bukan lisan, maka komunikasi bukan lisan tersebut perlu merajai segala macam pengalaman mengajar di kalangan jemaat.
b.Asas Keikutsertaan
            Sesuai dengan asas ini, pengajar perlu memilih metode yang menolong pelajar berdiri bersama dengan tokoh-tokoh alkitabiah yang disebutkan dalam perikop yang sedan dipelajari, yakni pelajar ditolong melihat apa yang dilihat orang-orang dalam Alkitab, mendengar apa yang mereka dengar dan merasa apa yang mereka rasakan.
c. Asas penyamaan diri(indentification)
            Ketika para pelajar menyamakan diri dengan tokoh-tokoh alkitabiah, mereka tidak dipandang lagi sebagai benda asing,malahan sebagai cerminan dari pengalaman dan pergumulan mereka sendiri.
d.Asas Persepsi
            Asas ini berarti bahwa pengajar menolong pelajar ”melihat” peristiwa atau tokoh alkitabiah dalam terang yang baru.
e.Asas Komunikasi Simbolis
            Asas ini penting sebagaimana tampak dalam gaya berkomunikasi dalam Alkitab. Ternyata bahasa simbolis adalah bahasa ibu bagi siapa saja yang ingin mempeljari dan menangkap sumber-sumber tertulis dari iman Kristen.
f.Asas Perasaan Mendua
            Disini Sherrill ingin mengakui bahwa dalam ziarah beriman mesti ada tempat bagi perasaan mendua ini, yakni mesti ada tempat bagi perasaan dan sekaligus pula bagi keragu-raguan seperti yang tampak dalam ungkapan Rasul Tomas, “Aku tidak akan percaya”  (Yoh. 20:25c) dan pengakuan Petrus, “Engkau adalah Mesias” (Mat. 16:16b)
g.Asas Makna yang terpenting (ultimacy)
            Sherrill mengakui kesulitan menyampaikan maksudnya, Tetapi dengan asas ini Sherrill menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah sebagai akhir dan bukanlah sebagai sarana untuk mencapai tujuang nyag lebih luhur lagi.



D.D Campbell Wyckoff
Pembangun Struktur Teori PAK
1.Riwayat Hidup
            Walaupun sejak tahun 1957 kehidupan penulis diperkaya oleh hubungan yang baik dengan Prof. Dr. Wyckoff,namun penulis tidak pernah mendegnar atau membaca tahun kelahirannya! Tetapi berdasarkan interprestasi hidup yang Wyckoff sendiri susun,rupanya beliau lahir sekitar tahun 1918 di kota New York, tempat beliau di besarkan. Ayah seorang pengacara, sedangkan ibunya melayani sebagai seorang guru. Pada masa SMP Wyckoff menghadiri konperensi remaja yang berlangsung pada musim panas. Tatkala tiba waktunya untuk memasuki perguruan tinggi, ia tidak mencari tempat yang jauh dari keluarga; ia tetap tinggal di New York dan masuk Universitas Columbia,dalam bagian New College-nya, suatu pendekatan yang menyatupadukan pengalaman belajar di ruang kuliah dan dalam masyarakat, entah masyarakat perkotaan, daerah pertanian, ataupun di Eropa. Kedua peluang belajar trakhir ini adalah pengalaman wajib.Tetapi,pengalaman di Eropa itu mustahil terjadi, karena ancaman perang disana. Oleh karena bepergian ke Eropa tertutup baginya, maka ia memperluas pengalaman dengan menghadiri kegiatan-kegiatan kampus kepunyaan New College yang letaknya di daerah pertanian dinegara bagian North Callifornia,daerah tenggara Amerika. Para mahasiswa yang kebanyakan berasal dari kota New York ditugaskan belajar bagaimana orang memenuhi kebutuhannya dalam keadaan sedehana.
            Kembali ke New York, ada perubahan dalam hal pengelolaan perguruan tinggi yang tidak sesuai lagi dengan keyakinan Wyckoff. Alhasil ia pindah ke Universitas New York,  yang terletak diarah selatan pulau Manhattan. Dari sana ia menerima gelar sarjana, magister dan Ph.D. Disana jugalah ia memulai kariernya sebagai dosen dibidang pendidikan agama. Pada masa libur Wyckoff bekerja dalam sebuah SMA kristen, kepunyaan Badan Misi Nasional dari Gereja Presbyterian(Presbyerian Board of National Missions). Sekolah itu terletak di desa Alpine,negara bagian Tennessee. Disana Wyckoff mengajarkan pengetahuan Alkitab, musik dan sejarah modren. Disamping mengajar di SMA itu, ia terlibat dalam Sekolah Minggu,Sekolah Alkitab pada Masa libur dan pembinaan warga jemaat.
            Pada musim gugur tahun 1947 ia diangkat menjadi dosen pendidikan agama di Universitas New York. Dia pindah ke Sekolah Tinggi Teologi Princeton pada tahun 1954 dan tetap mengajar disana sampai pensiun pada tahun 1983. Pada tahun 1961 bidang Pendidikan Agama Kristen diperkaya lagi dengan penerbitan Theory and Design of Christian Education Curriculum.

2.Dasar Pembangunan Teori Pendidikan Agama Kristen
a. Kebudayaan
            Teori kebudayaan yang Wyckoff sokong dirumuskan dengan empat kalimat singkat, yakni: Perkembangan kebudayaan mencakup cara masyarakat memperoleh keuntungan dalam kehidupannya. Didalamnya terwujud pula cara masyarakat memahami gaya hidupnya. Itu merupakan cara masyarakat  menentukan tatanan hidup bersama. Akhirnya, kebudayaan terdiri atas nilai-nilai yang diterima masyarakat dan saran yang dipakainya untuk mengejawantahkan nilai-nilai tersebut. Singkatnya, kebudayaan mencakup adat-istiadat, cerita-cerita yang dituturkan turun-menurun, kebaktian dan pokok ajaran agamawi.
b.Pendidikan,Pengemban Kebudayaan
            Pendidikan agama mencakup cara yang dikembangkan masyarakat untuk memperkenalkan setiap angkatan baru pada nilai-nilai khusus yang memberi arti dasariah pada kebuadayaan. Lagipula, pendidikan agama itu adalah cara yang dimanfaatkan masyarakat untuk membawa  setiap angkatan baru pada hubungan langsung dan dinamis dengan kekuatan yang mengendalikan kehidupannya. Dengannya setiap angakta nbaru itu dibimbing untuk bertumbuh dalam mutu keikutsertaan dalam praktek-praktek ibadah yang dimanfaatkan masyarakat untuk mengukuhkan hubungannya dengan kekuatan yang paling tinggi(the ultimate). Akhirnya, pendidikan agama menolong angkatan baru untuk semakin memahami dan menghargai pokok-pokok  ajaran yang menjelaskan makna kehidupan dan sejarah masyarakatnya.


c.Kebudayaan, Teologi Kristen dan Pendidikan Agama Kristen
            Pendidikan agama Kristen melayani kehidupan orang yang ditebus, yakni kehidupan yang dijadikan baru oleh Allah yang menciptakan manusia menurutu gambar-Nya, menyatakan diri sejelas mungkin dalam Yesus Kristus dan yang senantiasa membimbingnya dengan Roh Kudus. Jadi, sifat paling khas dari pendidikan agama Kristen ialah bahwa ia mencakup pelayanan Firman, Firman yang Allah sabdakan kepada manusia.

3.Pedoman untuk Membangun Teori Pendidikan Agama Kristen
a.Apa itu Teori ?
            “Suatu teori terdiri dari hipotesis-hipotesis yang telah diujicobakan,ataupun asas-asas yang berarti pedoman-pedoman yang dapat diandalkan dalam praktek. Jadi, teori Pendidikan Agama Kristen terdiri dari hipotesis-hipotesis yang diujicobakan dan asas yang diterima sebagai pedoman-pedoman yang dapat diandalkan dalam pelayanan dikalangan jemaat. Seorang pendidik yang ingin mengembangkan teori Pendidikan memperoleh pengetahuan dasariah bagi pelaksanaan tugasnya,yakni ilmu teologi, kehidupan dan pekerjaan gereja, filsafat, sejarah, ilmu jiwa, ilmu masyarakat dan ilmu komunikasi.
b. Dasar-dasar bagi Perkembangan Teori Pendidikan Agama Kristen
1.Asas-asas Penuntun
            Istilah “asas penuntun” sudah disebutkan beberapa kali dalam buku, tetapi Wyckoff adalah pemikir pertama yang memakainya dalam pembahasannya. Ia merumuskannya sebagai satu “gagasan agung” yang menyoroti seluruh proses menyusuri tujuan umum, memilih isi kurikulum besera metodologinya dan gaya mengelola pelayanan pendidikan agama Kristen. Intinya perlu diperoleh dari ilmu pendidikan dalam terang teologi, atau dengan ucapan yang lebih saksama lagi, ia akan mencakup pendidikan orang orang dalam terang Allah.
2.Tujuan Pendidikan Agama Kristen
            Tujuan pendidikan agama Kristen ialah menolong orang-orang menjadi sadar akan penyingkapan diri Allah dan kasih-Nya dalam Yesus Kristus yang senantiasa mencari orang serta menjawabnya dengan kerpercayaan dan kasih, agar mereka mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Dan apa artinya keadaannya, bertumbuh sebagai anak-anak Allah yang berakar dalam perseketuan Kristen, memenuhi panggilannya bersama sebagai murid-murid Yesus Kristus di dunia dan tetap percaya pada pengharapan Kristen.
3.Asas-asas Kurikulum
            Menurut Wyckoff, kurikulum terdiri dari  tata cara (prosedur) yang dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan agama Kristen; ia disusun agar dimanfaatkan oleh pelbagai kelompok belajar dikalangan jemaat , misalnya Sekolah Minggu, kelompok remaja, pemuda,  dan warga jemaat.
4.Asas-asas pengelolaan(administrasi)
            Ada tiga fungsi utama pengelolaan: pengorganisasian, manajemen dan pengawasan. Pengorganisasian rencana pendidikan agama Kristen teridiri dari proses menentukan menentukan tenaga pimpinan, sarana, waktu dan ruang yang diperlukan untuk melaksanakan pelayanan pendidikan agama Kristen.

III. Kesimpulan
            Dari pemaparan, saya sebagai penyaji menyimpulkan bahwa tahap perkembangan ilmu pendidikan agama berporos pada teologi “liberal” dan dinamakan “gerakan pendidikan agama”. Prestasinya gemilang, tetapi didalamnya terdapat kelemahan yang mencolok pula. Kelemahan dalam orientasi teologilah yang justru semakin tampak kemudian.
            Pemikiran pertama yang menentang arah gerakan itu berjalan ialah H. Shelton Smith, kemudian disusul oleh Rudolph Crump Miller, L. J. Sherrill dan setelah itu D. Campbell Wyckoof. Sehingga dari beberapa pemikiran/ pendapat tokoh-tokoh itu kita dapat melihat bahwa kelemahan yang mencolok itu dapat diperbaiki. Dengan demikian, PAK akan mencapai kematangan yang berorientasi pada teologi gereja.

IV. Daftar Pustaka
Boehlke.Robert R,Sejarah Perkembangan Pikiran & Praktek PAK dari Yohanes Amos      Comenius Sampai Perkembangan PAK di Indonesia,Jakarta :BPK-GM,1997



Tidak ada komentar:

Posting Komentar