Nama : Tuah
Ginting
NIM :
15.02.587
MENUJU KEMATANGAN PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN (III)
Yang
Berorientasi Pada Teologi Gereja, 1940-1970
I.
Pendahuluan
Sejumlah
pemikir dalam bidang pendidikan agama ingin mengakhiri peran dominan yang
dimainkan oleh Dewey, Coe, dan Elliot dalam pendidikan agama. Mereka tidak
bermaksud menolak pengertian penting yang dihasilakan ilmuan di bidang-bidang
ilmu pendidikan, ilmu jiwa, ilmu masyarakat dan antropologi, namun mereka tidak
rela bersandar secara tidak kritis pada kesimpulan yang diambil dari ilmu-ilmu
tersebut, karena mereka yakin bahwa pengertian teologis perlu memainkan peran
utama dalam teori dan praktek pendidikan yang berelangsung dalam jemaat.
Untuk itu, marilah kita bahas
sumbangan yang dibuat oleh H. Shelton Smith, Randolph Crump Miller, Lewis J.
Sherrill dan D. Campbell Wyckoff.
II. Pembahasan
H.
Shelton Smith
Agen
Perubahan
Smith
Pernah melayani sebagai dosen di fakultas Teologi, Universitas Duke yang terletak
dikota Chapel Hill, negara bagian North Carolina di bagian tenggara Amerika
Serikat. Sumbangan utama Smith terhadap bidang ilmu pendidikan agama Kristen
baru berporos pada satu karya, yaitu Faith
and Nurture. Setelah Faith and
Nurture itu diterbitkan , rupanya sudah ada pendidikan gerejawi lain yang
tidak puas lagi dengan pendekatan dominan dalam gerakan pendidikan agama.
Mereka ingin melihat sumbangan Smith dan siap menerima undangannya untuk
membangun ulang bidang itu berdasarkan teologi gereja.
Dunia
keserjanaan pendidikan agama dikejutkan
oleh nada kecaman terhadap dugaan dasariah yang sudah lama menjadi darah
daging para kerja daalam gerakan tersebut. Smith berkeberatan khususnya terhadap
pembahasan tentang empat pokok ajaran teologi yang dibuat oleh para pendidik
gerakan pendidikan agama, yakni kerajaan Allah, Manusia, Yesus Kristus dan
Gereja.
1. Kerajaan Allah
Dalam
tangan pendidik pendidikan agama, kerajaan Allah itu menjadi antroposentris
(manusia- sentris) dan tidak teosentris (Allah- sentris) lagi, dengan dampak
yang luar biasa buruk terhadap teori dan praktek pendidikan agama. Menurut
mereka, Allah tidak lagi berdaulat lagi atas seluruh unsur jagat raya termasuk
manusia, karena gagasan itu sudah usang dalam lingkungan demokrasi, di mana
kekuatan dasariah berada ditangan rakyat
dan bukan pemerintah. Alhasil, kepentingan manusia dinaikkan, sedangkan
kekuatan segala kekuasaan lain termasuk kekuasaan Allah perlu dikurangi. Manusialah yang bertanggung jawab atas
urusnnya.
2. Manusia
Smith
melihat tiga cara pemahaman Kristen tentang manusia yang bertentangan dengan
teori sekulernya. Petama, pemikiran
seperti Dewey berdalil bahwa percaya kepada Allah berarti merendahkan martabat
manusia dan kalau kita mau mempetinggi martabatnya, maka kita perlu membebaskan
manusia dari belenggu ilahi. Menjawab dalil itu Smith mengakui bahwa memang
terdapat pandangan terhadap Allah yang menista martabat manusia, tetapi
kesaksian, khususnya dari para nabi Israel kuno pada abad ke-8 dan Yesus sendiri,
memperkaya nilai-nilai secara pribadi. Lebih lanjut, tidak ada data empiris
yang membuktikan kebenaran dalil bahwa martabat manusia dipertinggi kalau Allah
diusir dari kesadaran nalar manusia. Justru sebaliknya yang benar. Masyarakat
yang menolak Allah merendahkan martabat manusia. Kedua, teologi liberal yang berlaku dalam gerakan pendidikan agama
memutlakkan pentingnya nalar manusia. Tetapi, kalau manusia tidak
mengabdikan diri kepada Allah sebagai nilai
mutlak yang diperlukan dimuliakan, maka ia senantiasa digoda untuk memutlakkan
semua nilai yang sebenarnya nisbi sifatnya. Ketiga,
pentingnya manusia bergantung pada penilaian Allah saja dan tidak pada
penilaian orang-orang yang hidup dalam kebudayaan tertentu pada titik waktu
sejarah tertentu, karena segala macam penilaian insiani dicap dengan kefanaanya
pula.
Smith menghargai tekanan pada jati
diri manusia sebagai makhluk sosial yang dibuat oleh para pemikir dalam gerakan
pendidikan agama dan pentingnya memperbaiki mutu segala struktur masyarakat.
Tetapi bersandar pada keinginan dan kemampuan orang-orang untuk membangun
masyarakat adil dan makmur tidak sama kuatnya dengan dorongan yang berasal dari
kasih Allah terhadap manusia.
3. Yesus Kristus, Penyataan Allah
Sepanjang
abad, iman gereja hidup berdasarkan keyakinan bahwa dalam Yesus dari desa
Nazaret provinsi Galilea Allah telah menyatakan kehendak dan kebenaran-Nya yang
mutlak tentang arti kehidupan manusia. Sebutan itu tidak searti dengan menyatakan
bahwa terdapat penjelasan tertentu tentang Yesus yang mencakup seluruh
makna-Nya. Namun, perbedaan penjelasan tersebut tidak meniadakan dalil iman
bahwa bagi pemahaman Kristen, Yesus sendiri adalah satu-satunya jalan,
kebenaran dan hidup, ketimbang menerima-Nya sebagai salah satu jalan, kebenaran
dan hidup yang ada di antara sekian banyak yang berlaku. Tetapi teologi liberal
dan pendidik agama seperti Coe dan Elliot tidak hanya menyangkal kemutlakan
penyataan itu, mereka bahkan menyangkal perlunya orang bertobat dan
diselamatkan dalam Yesus Kristus.
Penolakan penyataan mutlak dalam
Yesus Kristus berarti bahwa para pendidik agama menisbikan pentingnya
nilai-nilai historis termasuk yang terdapat dalam Alkitab. Bagi mereka, tugas
guru bukanlah mengajarkan isi kesaksian yang disamapaikan oleh orang percaya
yang hidup pada masa lampau, melainkan untuk memperlihatkan bagaimana
orang-orang itu bergumul dengan masalah-masalah tertentu dalam terang iman.
Menurut Smith, asuhan Kristen yang bermakna harus berakar dalam iman yang
teguh, yang menolak sifat sementara dan proses mendidik yang tampak dalam teori
dan praktek pendidikan Dewey. Di balik asuhan Kristen terdapat iman yang lebih
mendalam daripada kepercayaan pada nilai-nilai yang senatiasa dalam proses bertumbuh.
Memeng, pendidik Kristen akan menerima setiap fakta ilmiah yang betul-betul
benar, padahal ia tidak rela menduga secara membabi-buta bahwa tidak ada yang
baru dalam usaha insani untuk mencari kebenaran. Oleh karena itu, hendaklah
guru Kristen membagikan iamn kepada anak dengan keyakinan bahwa dalam Kristus
Allah telah menyampaikan firman yang berlaku secara abadi kepada umat manusia,
daripada memberikan kesan bahwa dasar iman Kristen hanya berlaku sebentar saja.
Suatu gereja Kristen yang dinamis tidak kunjung memberitakan dan mendidik
menurut pendekatan yang betul-betul objektif secara ilmiah.
4. Gereja
Sesudah
Smith memeriksa karya tulis para pendidik agama, ia menarik kesimpulan bahwa
rupanya mereka kurang peduli terhadap intisari gereja ketimbang kelompok
profesional apa pun di bidang agama. Kesimpulan yang mengherankan itu
berhubiungan dengan lima faktor, diantaranya:
a. Sejak
semula Sekolah Minggu hidup sedikit- banyak terpisah dari gereja sebagai
lembaga. Oleh karena itu, para pendidik setempat cenderung menganggap diri
terlibat dalam urusan pendidikan umum dan bukan yang gerejawi.
b. Teori
pendidikan agama yang dikembangkan pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat
berakar dalam pikiran pedagogis yang cenderung mengenali gereja sebagai
persekutuan khas ilahi.
c. Teologi
liberal yang bekaitan dengan “ gerakan Injil sosial” mementingkan Kerajaan
Allah, sementara itu meremehkan pentingnya gereja.
d. Para
pendidik agama terlampau sibuk dengan “agama” atau “pengalaman agamawi”
ketimbang menghiraukan gereja, bahkan mereka khawatir bahwa lembaga gereja
berdampak negatif terhadap perkembangan agama yang hidup.
e. Pendidikan
agama berkembang dalam tanah persekutuan injil yang mengidentifikasi gereja
sebagai jenis pagayuban yang orang masuki dengan sengaja, yakni karena sudah
mengalami agama secara hangat dan bukan suatu persekutuanyang dijadikan oleh
prakarsa Allah dalam Yesus Kristus.
Randolph
Crump Miller (1910- )
PAK
yang Teologis-Sentris
1. Riwayat Hidup
Miller
lahir pada 1 oktober 1910, anak seorang pendeta gereja inggris. Ayahnya berasal
dari keluarga petani dan ibunya adalah putri pemilik tambang batu bara. Setelah
tamat dari Pomona Colloge di negara bagian Califronia pada tahun 1931, ia
memulai studi lanjutan di Universitas Yale dan meraih gelar Ph.D. pada tahun
1936. Disertasinya membahas pikiran Henry Nelson Wieman dan pikiran filsafat
proses sebagaimana dikembangkan oleh “mazhab chicago”. Disamping itu, selama
tahun akademis 1935-36, ia mengikuti kuliah teologi pula pada Sekolah Tinggi
Teologi Gereja Inggris di Cambridge, negara bagian Massachusetts dan
ditahbiskan sebagai seorang pendeta pada tanggal 6 januari 1937.
Tatkala
ia masih di Cambridge, ia menerima undangan dari Sekolah Tinggi Teologi Inggris
di Berkeley, negara bagian California, untuk menjadi seorang dosen. Gajinya
cukup hanya untuk ongkos penginapan dan makan saja ! Namun dia masih mensyukuri
kesempatan bekerja dan gaji yang begitu rendah itu, karena perekonomian amerika
masa itu sedang mengalami yang hebat. Bidang yang digelutinya adalah etika Kristen
dan filsafat agama kristen, padahal ia sendiri tidak pernah mengikuti kuliah
PAK sebelumnya! Ia selalu mengatakan bahwa untuk memenuhi tugas itu ia harus
meminjam catatan kuliah tunangannya, Muriel (mereka menikah tanggal 9 Juni
1938) yang ia susun ketika mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Baptis!
Benar tidaknya ucapan jenaka itu, undangan membawakan kuliah tersebut menjadi
titik balik dalam kariernya. Setelah itu, namanya termasyhur karena
sumbangannya dibidang yang dipilih secara “kebetulan saja ! Disamping
membawakan kuliah PAK ia dipilih sebagai Ketua Departemen Pendidikan Agama
Kristen Keuskupan California. Pada tahun 1940 pula ia diangkat sebagai pendeta
jemaat kecil yang tidak mempunyai gedung gereja sendiri. Sebelum meletakkan
jabatan pendeta sebelas tahun kemudian, jumlah anggotanya terus bertambah
sampai menjadi lebih dari dua ratus lima puluh warga. Lalu ia pindah dari
California untuk menerima undangan menjadi odsen dibidang pendidikan agama di
Sekolah Tinggi Teologi Universitas Yale.
Pada
tahun 1958 tugasnya rangkap dua, tatkala dipilih menjadi redaktor majalah
Religious Education yang sudah disebutkan dalam bab VIII. Pada tahun sabat
pertama di Yale (1959-60), ia dan istri belajar di Institut Oikumenis di
Bossey, Swiss, dan mengunjungi beberapa tempat di Eropa untuk tukar-menukar
pikiran dengan para pemimpin gerejawi. Tatkala di Eropa ia mengarang buku
pedoman berdasarkan Christian Nurture and the Church bagi Institut Pendidikan
Agama Kristen yang diselenggarakan pada tahun 1961 di Belfast, Irlandia Utara, oleh
Dewan Pendidikan Agama Kristen se-Dunia dan Asosiasi Sekolah Minggu ( WCCESA). Pada
tahun sabat kedua (tahun 1966-67) ia mengajar di Libanon dan India serta ambil bagian dalam
Institut Pendidikan Agama Kristen di
Nairobi, Kenya,yang juga diselenggarakan oleh WCCESA. Selama di Libanon itu, ia
mengarang buku yang berjudul The
Language Gap dan God untuk tahun sabat ketiga(1970), ia dan istri pergi ke
Selandia Baru, Australia, Indonesia, Asia Tenggara dan khususnya di Singapura sebagai
penceremah utama pada Institut Teologi yang diselenggarakan oleh Asosiasi
Sekolah Teologi di Asia Tenggara.
Menjelang
bagian akhir dari kariernya ia kembali lagi kebidang teologi proses,
“kekasihnya yang semula”, dengan jalan mengarang The American Spirit in
Theology yang membahas pikiran dari beberapa filsuf dan teolog yang berporos
pada aliran empiris, pragmatis dan proses. Teologi proses dan dampaknya atas
pendidikan agama Kristen dibahas secara khusus dalam buku berjudul, The Theory
of Christian Education Practice sepintas lalu “teologi proses” itu dirumuskan
oleh miller dengan kata-kata berikut:
Ia
(teologi proses) mencerminkan banyak pengertian dari Alkitab, tetapi ia
bertanya lagi tentang tambahan yang termasuk dalam teologi klasik seperti ajaran
predestinasi, kemahakuasaan dan keabadian (immutability) teologi proses
memandang Allah sebagai kekasih yang menderita yang berusaha menyakinkan orang,
ketimbang memandang-Nya dibawah kiasan diktator yang sedemikian rupa terpisah
dari keadaan insani. Mustahil Dia mengalami perubahan dan penderitaan. Didalamnya
terisrat perlunya meninjau ulang pikiran kristologis. Disamping itu, ajaran Roh
Kudus akan diperkaya.
2. Dasar Teologi
Ia
melihat bahwa teologi gereja tidak memainkan peranan yang mencolok di dalam
teori mereka. Oleh karena itu, Miller berusaha menemukan kunci(clue) yang
menyoroti hubungan erat antara ilmu teologi dengan pengalaman pribadi, antara
isi Pendidikan Agama Kristen dengan metodologi dan antara kebenaran dengan
kehidupan. Sesudah mempertimbangkan kekuatan dan kelemahannya dari pelbagai
kemungkinan, ia yakin bahwa justru teologi yang relevanlah kunci yang perlu oleh para pemikir dan pekerja di
bidang Pendidikan Agama Kristen. Bagi Miller istilah teologi sendiri dirumuskan
sebagai kebenaran-tentang-Allah-dalam-hubungan-dengan-manusia.
Kunci
bagi Pendidikan Agama Kristen adalah penemuan suatu teologi yang relevan yang
akan menjembatani jurang pemisah antara isi dan metode. Teologi itu akan
menjadi latar blakang dan titik tolak untuk memahami kebenaran Kristen. Dengan
itu metode-metode terbaik dan isi kurikulum akan dipakai sebagai sarana untuk
mengantar para pelajar ke dalam hubungan yang benar dengan Allah yang hidup, yang
menyatakan diri kepada kita dalam Yesus Kristus, bimbingan orangtua dan
persekutuan kehidupan jemaat akan dimanfaatkan sebagai konteks bagi pelaksanaan
asuhan Kristen.
Lebih
lanjut, teologi itulah yang ditentukan pandangan kita atas lingkungan dimana
iman cenderung berakar dan bertumbuh, yakni rumah tangga dan jemaat, persekutuan
orang yang percaya kepada Kristus. Singkatnya, kita bertumbuh lebih banyak
dalam iman Kristen melalui mutu hubungan kita ketimbang melalui gagasan agamawi
tertentu yang mungkin kita anut terpisah dari pengalaman hidup.
3.Rumusan Pendidikan Agama Kristen
Miller mencari rumusan yang
mengutamakan pendidikan agama Kristen sebagai pelayanan yang berdiri dalam
tradisi Kristen. Ia harus bertanggungjawab dari sisi teologi yang pada pokoknya
bertitik-tolak dari keyakinan bahwa gereja berasal dari Injil Yesus
Kristus.Pendidikan agama Kristen dimulai tatkala kita diperhadapkan dengan
Injil itu. Pengalaman itu disifatkan oleh beberapa ciri khas.
Pendidikan tersebut terjadi dalam
lingkungan sosial. Pada suatu pihak lingkungan tempat pengalaman sosial itu
berlangsung adalah rumah tangga Kristen dan pada pihak lain adalah gereja
sebagai persekutuan yang menebus (redemptive fellowship). Pendidikan Agama
Kristen mencakup kegiatan perorangan sebagaimana orang itu sedang mengambil
keputusan pribadi, tetapi pendidikan itu berdampak terhadap masyarakat pula
tatkala orang yang sama itu memenuhi tanggung jawabnya dalam kehidupan dan
pekerjaan. Pendidikan agama Kristen mencakup historis. Jadi, pengetahuan
tentang masa lampau adalah mutlak penting untuk memahami baik masa kini maupun
harapan akan masa depan. Pedidikan yang asasi yang tidak hanya mendasari watak
Kristen, yang menentukan ciri khas dalam masyarakat yang berdampak pada
kesetiaaan pribadi bahkan yang kadang kadang merusaknya juga. Hubungan-hubungan
pribadi ini di alami dalam kehidupan antara orang-orang, dan pihak lain antara
orang-orang dan Allah terhadap saudara-saudara yang dilihat. Pendidikan agama
Kristen terlibat pula tatkala orang-orang memutuskan hubungan-hubungan tersebut
dan tatkala anugerah allah yang menyembuhkan memperbaharui hubungan-hubungan
tersebut.
4.Tujuan Pendidikan Agama Kristen.
Dalam
tulisannya, Miller mengingatkan para pembaca bahwa pusat pendidikan agama
Kristen bukanlah sejumlah pengetahuan dan bukanlah sejumlah pengetahuan dan
bukanlah keprihatinan manusia, melainkan Allah. Kalau begitu, tugas pendidik
ialah mengantar pelajar sedemikian rupa, sehingga ia mengalami
pengalaman-pengalaman agama kristen mesti ada pelbagai perjumpaan yang
memerlukkan keputusan pribadi dari pihak pelajar agar ia semakin hidup sesuai
dengan kepercayaan akan Ketuhanan Yesus. Sebagai hasil dari mengalami Allah
sebagai poros kehidupan dan melibatkan diri dalam proses mengambil keputusan
pribadi secara kontiniu, mempelajari itu sedang bertumbuh menuju kematangan
dalam iman Kristen.
Apa itu kematangan? Miller
mendaftarkan serangkaian sifat seorang warga Kristen yang semakin matang dalam
imannya yang sekaligus berfungsi sebagai
tujuan umum bagi Pendidikan Agama Kristen: Segala tenaga, dana dan sarana yang
dihabiskan jemaat demi rencana pengalaman belajar-mengajar dikalangnya
hendaknya ditujukan pada usaha menolong setiap orang mengenal dirinya sebagai
anak Allah.
5.Lingkungan
Bagi
Miller,lingkungan pendidikan agama Kristen berporos pada hubungan-hubungan yang
berlaku di tempat pelajar belajar dan bertumbuh. Walaupun dalam prosesnya
penggunaan kata memainkan peranan bermakna, namun makna kata tersebut
bergantung pada mutu hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan luas
tertentu.
Demikianlah
rumah tangga Kristen merupakan lingkungan pertama bagi pelaksanaan pendidikan
agama Kristen. Sekarang kita tiba pada lingkungan kedua, yakni gejera yang
disifatkan oleh enam fungsi. Pertama,gereja
adalah yang beribadah dan orang yang belajar beribadah dengan mengambil bagian
dalam kebaktian. Kedua, gereja adalah
persekutuan yang menebus, dalam arti kebutuhan dasariah dari anggotanya
terpenuhi dan hubungan yang terputus dapat di sembuhkan kembali. Walaupun
jemaat adalah persekutuan orang berdosa, namun ia juga melaksanakan pelayanan
pendamaian. Ketiga, menyediakan
kesempatan belajar bagi orang dari segala golongan umur. Keempat, gereja adalah persekutuan yang prihatin akan kebutuhan
orang yang kesepian, sakit, miskin, lemah, lanjut usianya; ia merasa diri hidup
dibawah perintah Tuhan untuk berusaha melayani siapapun,khususnya “yang paling
hina”. Kelima, gereja adalah
persekutuan yang ingin membagikan iman.Keenam,
gereja adalah persekutuan yang bekerja sama dengan warga kelompok Kristen lain.
Pada tahap tertentu, terdapat
lingkungan lain yang penting walaupun bersifat sekunder, yakni sekolah umum dimana
PAK agama adalah salah satu mata pelajaran kurikuler. Menurut Miller, sekolah
itu dapat mengajarkan data tertentu tentang iman, umpamanya isi Alkitab, tetapi
ia tidak mampu menyediakan pengalaman belajar paling mendalam karena sekolah
sewajarnya bukanlah persekutuan yang beribadah. Terdapat lingkungan lain
lagi,yakni “dunia”. Sebenarnya “dunia” melambangkan sebagai gelanggang tempat
orang bermain,bermalas-malas pada waktu senggang, bekerja, melayani, memenuhi
sejumlah tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan negara. Dari “dunia”
timbullah pertanyaan nyata, tantangan nyata, dilema nyata dan seterusnya, yang
perlu disoroti atau diajawab oleh pengertian yang dihasilkan dari teologi dan
pengalaman orang beriman yang menyebut Yesus Kristus Tuhannya.
6. Pelajar
Oleh
karena pengalaman yang bertumbuh disepanjang hidupnya itu di anggap sebagai
peluang yang Allah karuniakan kepada semua orang, maka sewajarnyalah orang-orang
dari segala golongan umur sebagai subyek yang termasuk dalam pelayanan
pendidikan agama Kristen. Pelaksanannya dapat dilancarkan bila ia diperhatikan
dari keempat sisi kebutuhan dasariah yang sadar atau tidak setiap orang
berusaha untuk memenuhinya. 1)Setiap orang memerlukan kasih dan perasaan bahwa
ia diterima oleh pihak lain sebagai seorang yang berharga. 2) Setiap orang
memerlukan struktur hukum dan ketertiban. 3) Setiap orang memerlukan
kemerdekaan untuk bertumbuh. 4) Setiap orang memerlukan pemupukan dan pembinaan
perasaan terhadap misteri kehidupan.
7.Pengajar
Secara
praktis ada tiga pengajar utama,yakni lingkungan rumah tangga jemaat dan korps
guru. Mengingat bahwa kedua yang pertama itu telah dibahas dibawah tema
“lingkungan” diatas, maka titik berat kita di sini adalah guru yang mengajar
berdasarkan rencana tertentu. Pada awal pembicaraan tentang jati diri seorang
guru, Miller membedakan antara dua pengalaman, yakni mengajar dan beriman, kemudian
ia menyesuaikan kedua-duanya satu sama lain.
Mengajar berarti menyampaikan perasaan, pengertian,
sikap, kenyataan dan arti, padahal beriman itu berarti mempercayai, mengabdikan
diri, mengambil keputusan, mempunyai dasar bagi segala sesuatu yang kita
harapkan dan berkeyakinan tentang segala sesuatu yang kita tidak lihat. Mengajar
agar menghasilkan iman berarti mengambil bagian dalam persekutuan dimana
anggotanya mampu saling percaya satu sama lain dan untuk bersama-sama percaya
kepada Allah.
Ciri-ciri
khas apakah yang diharapkan tampak dalam diri seorang guru? Pertama, guru dikalangan jemaat
hendaknya mempunyai pengetahuan dan pengertian dasariah tentang Alkitab, sejarah
gereja dan pokok-pokok ajaran teologi yang relevan bagi kehidupan sehari-hari. Kedua, isi pokok ajaran teologi yang ia
anut perlu menghormati diri-sebagai seorang. Kristen yang mampu berpikir secara
cerdas. Ketiga, ia memiliki keinginan
untuk memperbaiki keterampilan mengajar, yang mencakup teknik-teknik
mengajar.Keempat,guru harus mengabdikan diri kepada Allah dari Yesus Kristus. Sementara
mengakui bahwa ia tidak layak menerima panggilan mengajar yang begitu mulia, namun
ia harus siap menyerahkan bakat dan kemampuannya kepada Tuhan.
8.Ruang Lingkup kurikulum.
Sebenarnya,
pokok-pokok yang tercakup dalam ruang lingkup kurikulum yang dipikirkan oleh
Miller telah tersirat dalam kebanyakan tulisan Miller, tetapi pokok-pokok itu
tampak jelas dan lengkap dalam buku berjudul, Biblical Theology and Christian
Education. Didalam buku tersebut, miller menggambarkan arti amanat Alkitab
sebagai drama keselamatan yang terdiri atas lima babak utama yakni: Penciptaan,
Perjanjian, Penebus, Persekutuan dan Penggenapan. Kelima babak itu ditambah
oleh satu tema lagi, yakni Pengabdian yang hendaknya terjadi secara wajar
sebagai tanggapan terhadap setiap babak tersebut.
a.Bahan-sentris, yakini bahan yang
Alkitab-sentris,gereja-sentris ataupun pokok teologi-sentris.
Pendekatan
Alkitab-sentris mengutamakan pengetahuan Alkitab. Ayat-ayat dan perikop
tertentu dihafalkan. Hasil pendekatan ini adalah setiap pelajar mengetahui isi
dari banyak fakta-fakta, kutipan, cerita dan sejarah. Pendekatan mengajar yang
gereja-sentris memperlihatkan jenis kekuatan dan kelemahan yang serupa dengan
pendekatan yang Alkitab-sentris. Dengan mempelajari sejarah gereja, ciri-ciri
khas dari sinode dan kesetiaan pada seluruh umat Allah, maka para pelajar
diantar mengambil bagian secara bertanggung jawab dalam salah satu jemaat, yakni
dalam kebaktian, rencana pendidikan agama Kristen, pelayanan sosial, penginjilan
dari pertolongan kepada gereja diluar jemaat setempat.
Seyogianya
pendekatan yang teologi-sentris itu mengutamakan ajaran teologi tertentu. Pokok-pokok
teologi yang ingin kita sampaikan adalah yang memberi petunjuk kepada pelajar
supaya bertindak sebagai seorang Kristen. ”Oleh karena itu, amat penting usaha
mencari pokok ajaran teologi yang benar, nilai-nilai yang benar dan Allah yang
benar.
b.Kehidupan/Pengalaman-sentris.
Kurikulum
yang kehidupan atau pengalaman-sentris itu lebih mengutamakan perkembangan
pelajar sebagai seorang yang utuh ketimbang menyampaikan sejumlah keterangan
kepada murid seperti pendekatan yang bahan-sentris. Pada umumnya terdapat tiga
macam masalah yang perlu dipecahkan oleh setiap orang: 1)kebutuhan untuk bertindak 2)kebutuhan untuk
mengetahui; dan 3) kebutuhan untuk mempercayai.
9. Metodologi
Pada
dasarnya metode tertentu dapat digolongkan dibawah empat jenis kegiatan utama, yakni:
a. Memberitahukan
Metode
ini digolongkan dalam rumpun metode yang tertua. Tatkala nenek moyang kita, termasuk
nenek moyang dalam iman, ingin mengajar, mereka bercerita. Kebanyakan cerita
Perjanjian Lama, khususnya yang termuat dalam kitab kejadian, Keluaran,Yosua, Hakim-hakim,
1 & 2 Raja-raja, Rut dan Ester berkali-kali diceritakan ulang sebelum
dituliskan pada bahan tulis seperti kulit binatang. Lagi pula, bercerita itu
menjadi sarana penting untuk mengajarkan pengalaman bangsa Israel dengan
Tuhan.Demikianlah bunyi Mazmur 78:
Pasanglah
telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan
mulutku. Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan tekai-teki
dari zaman purbakala. Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang
diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, tetapi kami akan ceritakan
kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada Tuhan dan kekuatan-Nya dan
perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya (Mzm. 78:1-4).
Metode memberitahukan lain yang
mempunyai sejarah mulai ialah berceramah. Tetapi metode ini harus disesuaikan
dengan minat dan kemampuan kelompok pendengar. Metode panel diskusi, dialog
antara dua pemimpin, laporan tentang wawancara dan mendengar kaset audio
sebagai sumber memperoleh keterangan dalah contoh lain tentang metode
“memberitahukan” itu.
b. Memperlihatkan
Rumpun
metode ini punya sejarah yang mulia pula. Masyarakat purba penghuni gua
memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka mengungkapkan gagasan tentang binatang
yang dipelihara atau yang akan diburu kepada kelompoknya melalui gambar-gambar.
c. Tukar Pikiran
Sering
kali diskusi kelompok dipakai untuk tukar menukar pikiran, tetapi bila hal itu
betul terjadi, diskusi itu harus dipersiapkan lebih dulu oleh kedua belah
pihak, guru dan murid. Penggunaan metode tanya-jawab adalah cara yang baik
untuk tukar menukar pikiran.
d.Perencanaan dan Kegiatan Kelompok
Metode
ini membuka kesempatan bagi peseta untuk bertindak sesuai dengan maksud yang
mereka tentukan dibawah bimbingan guru. Namun agar pendekatan ini berhasil
dengan baik, guru perlu menahan diri. Perannya ialah menjadi sumber yang
menolong dan bukan tokoh berkuasa yang mendominasi.
10.Belajar beribadah
Miller
mengutamakan pentingnya belajar beribadah dengan kata-kata berikut: Gereja
adalah persekutuan yang beribadah.
11.Pengelolaan Pendidikan Agama Kristen
Dibalik
segala pengorganisasian dan pegelolaan yang berkaitan dengan pendidikan agama
Kristen ada empat asumsi: 1)Gereja wajib menghasilkan suasana yang idadalamnya
kesejahteraan perorangan dan persekutan dalam terang Injil dijunjung tinggi;
2)Dalam rangka memenuhi kebutuhan orang-orang dan kelompok-kelompok,segala
unsur kehidupan jemaat bermakna secara pedagogis; 3)Pengorganisasian dan
pengolaan adalah bagian mutlak dari kurikulum Penddikan Agama Kristen; dan 4)Pengorganisasian dan pengelolaan jangan
dianggap sebagai tujuan yang terpisah dari unsur-unsur lain dalam pelayanan
jemaat.
C.L.J.
Sherrill (1892-1957)
PAK
yang Teologis/Psikologis-sentris
1.Riwayat Hidupnya
Sherill lahir di kota kecil Haskell,
negara bagian Texaas Utara. Sebagai seorang pemuda, ia melayani negaranya pada
Perang Dunia I dalam angkatan darat. Ia tamat dari Kolese Austin di Texas, negara
bagian Kentucky. Studi lanjutnya dimulai di Universitas Northwestern di kota
Evanston, negara bagian illinions, tetapi kemudian ia pindah ke Universitas
Yale dan meraih gelar Ph.D dari universitas itu. Sesudah tamat dari Sekolah
Tinggi Teologi Louisville, ia melayani jemaat First Presbyterian Church, di
Covington, negara bagian Tennessee. Pada tahun 1924 alma maternya di Louisville
mengangkatnya dosen dibidang pendidikan agama. Lima tahun kemudian ia dipilih
oleh pengurus untuk enjadi dekan sekolahnya. Pada tahun 1950 ia pindah ke Sekolah Tinggi Union di kota New York sebagai
dosen, dibidang Pendidikan Agama Kristen dan tetap tinggal disana sampai ia
wafat pada tahun 1957.
2.Keyakinan Teologis
Ada
tiga keyakinan teologis utama yang menyoroti pandangan sherill, yakni pokok
ajaran tentang penyataan, manusia dan persekutuan Kristen (koinonia)
a.pernyataan sebagai pengalaman dinamis
dengan tuhan.
b.Pokok teologis dasariah kedua dalam
pikiran Sherrill ialah ajaran tentang manusia.
c.Pengertian teologis ketiga yang amat
dasariah dalam pandangan Sherill ialah persekutuan Kristen.
3.Keyakinan psikologis
Sherrill
lebih memusatkan perhatian pada kecemasan normal, tanpa mengabaikan dimensi
neurotis. Kecemasan itu adalah tanggapan terhadap ancaman nyata yang gagal
manusia indetifisi secara teliti. Sebagai manusia modren, ia cemas karena
keamanannya terancam oleh banyak hal dan ia tidak mengetahui dasar
kecemasannya. Sebagai contoh tentang kecemasan normal, Sherill sendiri tertarik
pada gambaran Tillich tentang kecemasan eksistensial yang mencakup tiga sifat. Pertama, adanya kecemasan terhadap
kematian. Kedua, manusia cemas karena
banyak usahanya tidak bermakna dan ia merasa bahwa segala tenaga yang
dihabiskan untuk itu sia-sia saja hasilnya.
Ketiga, ia cemas karena merasa bersalah dan selayaknya dihukum, tetapi ia
tidak tahu bagaimana melepaskan diri dari perasaan tersebut.
4. Rumusan PAK
Sherill
membedakan pendidikan umum dan pendidikan agama Kristen yakni: Perbedaan pertama itu mencakup tolok
ukur masing-masing. Pendidikan umum yang dibayar oleh kas negara harus sesuai
dengan asas-asas yang ditentukan oleh negara. Pendidikan agama Kristen
ditentukan oleh lembaga gereja, tetapi disamping itu sama seperti gereja itu
sendiri, pendidikan umum itu perlu dipertimbangkan dari pihak penyataan, sehingga
senantiasa dikoreksi oleh tolak ukur yang transenden.
Kedua,
Allah diakui sebagai Peserta aktif dalam proses pendidikan agama
Kristen.Walaupun proses belajar-mengajar dikalangan gereja adalah serupa dengan
yang berlaku di sekolah negara,namun dalam pendidikan agama Kristen kita
percaya bahwa Allah menyatakan diri melalui proses belajar mengajar dan
mempergunakan pelbagai interaksi antara orang orang secara kreatif dan bersifat
menyelamatkan. Ketiga, persekutuan
Kristen menaklukkan diri pada kedaulatan yang lebih berkuasa ketimbang segala
kedaulatan lainnya.
Sesudah
memaparkan perbedaan dan persamaan antara pendidikan umum,dan pendidikan agama
Kristen, Sherill merumuskan pendidikan
agama Kristen dengan kata kata berikut : Pendidikan agama Kristen adalah upaya
yang diprakasai pada lazimnya oleh para anggota persekutuan Kristen yang
berlangsung dalam diri orang orang dalam hubungannya dengan Allah, gereja, orang
lain,dunia alam dan dengan dirinya sendiri.
5. Tujuan
Tujuan
pendidikan agama Kristen menurut Sherill untuk memperkenalkan para pelajar
dikalangan persekutuan Kristen warisannya, khususkan para pelajar di kalangan
persekutuan Kristen dengan warisannya. Khususnya Alkitab, agar dengannya mereka
dipersiapkan menjumpai Allah dan menjawab kepada-Nya, mempelancar komunikasi
pada tahap yang mendalam antar-orang tentang keprihatinan-prihatinan insani dan
mempertajam kemampuannya menerima fakta bahwa merkea di cengkeram oleh kekuatan
dan kasih Allah yang memperbaiki, menebus dan menciptakannya kembali.
6. Lingkungan
Ada
satu lingkungan luas utama bagi kelangusngan pendidikan agama Kristen, yakni
persekutuan Kristen entah wadahnya keluarga Kristen atau jemaat. Oleh karena
itu, segala sesuatu yang sudah ditulis tentang gereja sebagai koinonia berlaku
pula disini.
7. Pengajar
Sesuai
dengan tekanan Sherrill atas pernyataan, Allah dianggap sebagai pengajar utama,
karena Dialah yang memprakarsai hubungan dengan manusia. Disamping itu, jemaat
sebagai koinonia memainkan peranan yang begitu besar dalam pelayanan pendidikan
agama Kristen. Pengajar ketiga adalah guru yang wajib menyelenggarakan
pengalaman belajar demi pelaksanaan komunikasi yang paling mendalam.
8.Pelajar
Jati
diri dari pokok ini sudah tersirat dalam pembahasan diatas, yakni seluruh
jemaat adalah pelajar, karena integritas setiap orang selalu ‘terancam oleh
tantangan yang nampak didalamnya secara pribadi dan dalam masyarakat. Dengan
kata lain, anak-anak dari segala golongan umur, remaja, pemuda dan orang dewasa
dianggap sebagai subyek dari pelayanan pendidikan agama Kristen.
9.Asas penuntun
Sumbangan
paling orisinal dari Sherrill atas apa yang lazim disebut asas menuntun
tercakup dalam penggunaan korelasi antara jalan buntu atau masalah kritis
(predicament)dan tema alkitabiah. Predikamen itu menunjukkan pelbagai
keprihatinan insani yang cenderung mengganggu ketenteraman setiap orang
sepanjang abad. Dasarnya terletak pada kecemasan yang dialami orang,karena pada
akhirnya segala bentuk keamanan kelak terancam. Karena itu, ia tidak melihat jalan keluar. Tema-temalah yang
dianggap sebagai jawaban alkitabiah terhadap predikamen tersebut. Menurut
Sherrill, ada delapan tema am,yakni penciptaan, kedaulatan, panggilan hidup, penghakiman,
penebuasan, penciptaan ulang, pemeliharaan dan kehidupan beriman.
10.Kurikulum
Pada
dasarnya, kurikulum hendaknya dibangun berdasarkan korelasi antara kedelapan
tema alkitabah tersebut dengan delapan predikamen. Masing-masing tema merupakan
wahana yang dimanfaatkan Allah untuk menyatakan diri.
11.Metodologi
Sherrill
menganjurkan tujuh asas metodologi yang hendaknya diperhatikan setiap guru sebelum
ia memilih metode tertentu, Yaitu :
a.Asas Komunikasi Bukan
Lisan(non-verbal)
Sejak
lahirnya orang,komunikasi bukan lisan paling menonjol. Bila mengingat bahwa
hakikat dari amanat Alkitab ialah kasih dan selanjutnya kasih itu dikomunikasikan
melalui bentuk bukan lisan, maka komunikasi bukan lisan tersebut perlu merajai
segala macam pengalaman mengajar di kalangan jemaat.
b.Asas Keikutsertaan
Sesuai
dengan asas ini, pengajar perlu memilih metode yang menolong pelajar berdiri
bersama dengan tokoh-tokoh alkitabiah yang disebutkan dalam perikop yang sedan
dipelajari, yakni pelajar ditolong melihat apa yang dilihat orang-orang dalam
Alkitab, mendengar apa yang mereka dengar dan merasa apa yang mereka rasakan.
c. Asas penyamaan diri(indentification)
Ketika
para pelajar menyamakan diri dengan tokoh-tokoh alkitabiah, mereka tidak
dipandang lagi sebagai benda asing,malahan sebagai cerminan dari pengalaman dan
pergumulan mereka sendiri.
d.Asas Persepsi
Asas
ini berarti bahwa pengajar menolong pelajar ”melihat” peristiwa atau tokoh
alkitabiah dalam terang yang baru.
e.Asas Komunikasi Simbolis
Asas
ini penting sebagaimana tampak dalam gaya berkomunikasi dalam Alkitab. Ternyata
bahasa simbolis adalah bahasa ibu bagi siapa saja yang ingin mempeljari dan
menangkap sumber-sumber tertulis dari iman Kristen.
f.Asas Perasaan Mendua
Disini
Sherrill ingin mengakui bahwa dalam ziarah beriman mesti ada tempat bagi
perasaan mendua ini, yakni mesti ada tempat bagi perasaan dan sekaligus pula
bagi keragu-raguan seperti yang tampak dalam ungkapan Rasul Tomas, “Aku tidak
akan percaya” (Yoh. 20:25c) dan
pengakuan Petrus, “Engkau adalah Mesias” (Mat. 16:16b)
g.Asas Makna yang terpenting (ultimacy)
Sherrill
mengakui kesulitan menyampaikan maksudnya, Tetapi dengan asas ini Sherrill
menunjukkan pentingnya komunikasi dua arah sebagai akhir dan bukanlah sebagai
sarana untuk mencapai tujuang nyag lebih luhur lagi.
D.D
Campbell Wyckoff
Pembangun
Struktur Teori PAK
1.Riwayat Hidup
Walaupun
sejak tahun 1957 kehidupan penulis diperkaya oleh hubungan yang baik dengan
Prof. Dr. Wyckoff,namun penulis tidak pernah mendegnar atau membaca tahun kelahirannya!
Tetapi berdasarkan interprestasi hidup yang Wyckoff sendiri susun,rupanya
beliau lahir sekitar tahun 1918 di kota New York, tempat beliau di besarkan. Ayah
seorang pengacara, sedangkan ibunya melayani sebagai seorang guru. Pada masa
SMP Wyckoff menghadiri konperensi remaja yang berlangsung pada musim panas. Tatkala
tiba waktunya untuk memasuki perguruan tinggi, ia tidak mencari tempat yang
jauh dari keluarga; ia tetap tinggal di New York dan masuk Universitas
Columbia,dalam bagian New College-nya, suatu pendekatan yang menyatupadukan
pengalaman belajar di ruang kuliah dan dalam masyarakat, entah masyarakat perkotaan,
daerah pertanian, ataupun di Eropa. Kedua peluang belajar trakhir ini adalah
pengalaman wajib.Tetapi,pengalaman di Eropa itu mustahil terjadi, karena
ancaman perang disana. Oleh karena bepergian ke Eropa tertutup baginya, maka ia
memperluas pengalaman dengan menghadiri kegiatan-kegiatan kampus kepunyaan New
College yang letaknya di daerah pertanian dinegara bagian North
Callifornia,daerah tenggara Amerika. Para mahasiswa yang kebanyakan berasal
dari kota New York ditugaskan belajar bagaimana orang memenuhi kebutuhannya
dalam keadaan sedehana.
Kembali
ke New York, ada perubahan dalam hal pengelolaan perguruan tinggi yang tidak
sesuai lagi dengan keyakinan Wyckoff. Alhasil ia pindah ke Universitas New
York, yang terletak diarah selatan pulau
Manhattan. Dari sana ia menerima gelar sarjana, magister dan Ph.D. Disana
jugalah ia memulai kariernya sebagai dosen dibidang pendidikan agama. Pada masa
libur Wyckoff bekerja dalam sebuah SMA kristen, kepunyaan Badan Misi Nasional
dari Gereja Presbyterian(Presbyerian Board of National Missions). Sekolah itu
terletak di desa Alpine,negara bagian Tennessee. Disana Wyckoff mengajarkan
pengetahuan Alkitab, musik dan sejarah modren. Disamping mengajar di SMA itu, ia
terlibat dalam Sekolah Minggu,Sekolah Alkitab pada Masa libur dan pembinaan
warga jemaat.
Pada
musim gugur tahun 1947 ia diangkat menjadi dosen pendidikan agama di
Universitas New York. Dia pindah ke Sekolah Tinggi Teologi Princeton pada tahun
1954 dan tetap mengajar disana sampai pensiun pada tahun 1983. Pada tahun 1961
bidang Pendidikan Agama Kristen diperkaya lagi dengan penerbitan Theory and
Design of Christian Education Curriculum.
2.Dasar Pembangunan Teori Pendidikan
Agama Kristen
a. Kebudayaan
Teori
kebudayaan yang Wyckoff sokong dirumuskan dengan empat kalimat singkat, yakni: Perkembangan
kebudayaan mencakup cara masyarakat memperoleh keuntungan dalam kehidupannya. Didalamnya
terwujud pula cara masyarakat memahami gaya hidupnya. Itu merupakan cara
masyarakat menentukan tatanan hidup
bersama. Akhirnya, kebudayaan terdiri atas nilai-nilai yang diterima masyarakat
dan saran yang dipakainya untuk mengejawantahkan nilai-nilai tersebut. Singkatnya,
kebudayaan mencakup adat-istiadat, cerita-cerita yang dituturkan turun-menurun,
kebaktian dan pokok ajaran agamawi.
b.Pendidikan,Pengemban Kebudayaan
Pendidikan
agama mencakup cara yang dikembangkan masyarakat untuk memperkenalkan setiap
angkatan baru pada nilai-nilai khusus yang memberi arti dasariah pada
kebuadayaan. Lagipula, pendidikan agama itu adalah cara yang dimanfaatkan
masyarakat untuk membawa setiap angkatan
baru pada hubungan langsung dan dinamis dengan kekuatan yang mengendalikan
kehidupannya. Dengannya setiap angakta nbaru itu dibimbing untuk bertumbuh
dalam mutu keikutsertaan dalam praktek-praktek ibadah yang dimanfaatkan
masyarakat untuk mengukuhkan hubungannya dengan kekuatan yang paling tinggi(the
ultimate). Akhirnya, pendidikan agama menolong angkatan baru untuk semakin
memahami dan menghargai pokok-pokok
ajaran yang menjelaskan makna kehidupan dan sejarah masyarakatnya.
c.Kebudayaan, Teologi Kristen dan
Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan
agama Kristen melayani kehidupan orang yang ditebus, yakni kehidupan yang
dijadikan baru oleh Allah yang menciptakan manusia menurutu gambar-Nya, menyatakan
diri sejelas mungkin dalam Yesus Kristus dan yang senantiasa membimbingnya
dengan Roh Kudus. Jadi, sifat paling khas dari pendidikan agama Kristen ialah
bahwa ia mencakup pelayanan Firman, Firman yang Allah sabdakan kepada manusia.
3.Pedoman untuk Membangun Teori
Pendidikan Agama Kristen
a.Apa itu Teori ?
“Suatu
teori terdiri dari hipotesis-hipotesis yang telah diujicobakan,ataupun
asas-asas yang berarti pedoman-pedoman yang dapat diandalkan dalam praktek. Jadi,
teori Pendidikan Agama Kristen terdiri dari hipotesis-hipotesis yang
diujicobakan dan asas yang diterima sebagai pedoman-pedoman yang dapat
diandalkan dalam pelayanan dikalangan jemaat. Seorang pendidik yang ingin
mengembangkan teori Pendidikan memperoleh pengetahuan dasariah bagi pelaksanaan
tugasnya,yakni ilmu teologi, kehidupan dan pekerjaan gereja, filsafat, sejarah,
ilmu jiwa, ilmu masyarakat dan ilmu komunikasi.
b. Dasar-dasar bagi Perkembangan Teori
Pendidikan Agama Kristen
1.Asas-asas Penuntun
Istilah
“asas penuntun” sudah disebutkan beberapa kali dalam buku, tetapi Wyckoff
adalah pemikir pertama yang memakainya dalam pembahasannya. Ia merumuskannya
sebagai satu “gagasan agung” yang menyoroti seluruh proses menyusuri tujuan
umum, memilih isi kurikulum besera metodologinya dan gaya mengelola pelayanan
pendidikan agama Kristen. Intinya perlu diperoleh dari ilmu pendidikan dalam
terang teologi, atau dengan ucapan yang lebih saksama lagi, ia akan mencakup
pendidikan orang orang dalam terang Allah.
2.Tujuan Pendidikan Agama Kristen
Tujuan
pendidikan agama Kristen ialah menolong orang-orang menjadi sadar akan
penyingkapan diri Allah dan kasih-Nya dalam Yesus Kristus yang senantiasa
mencari orang serta menjawabnya dengan kerpercayaan dan kasih, agar mereka
mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Dan apa artinya keadaannya, bertumbuh
sebagai anak-anak Allah yang berakar dalam perseketuan Kristen, memenuhi
panggilannya bersama sebagai murid-murid Yesus Kristus di dunia dan tetap
percaya pada pengharapan Kristen.
3.Asas-asas Kurikulum
Menurut
Wyckoff, kurikulum terdiri dari tata
cara (prosedur) yang dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan agama Kristen; ia
disusun agar dimanfaatkan oleh pelbagai kelompok belajar dikalangan jemaat , misalnya
Sekolah Minggu, kelompok remaja, pemuda,
dan warga jemaat.
4.Asas-asas pengelolaan(administrasi)
Ada
tiga fungsi utama pengelolaan: pengorganisasian, manajemen dan pengawasan. Pengorganisasian
rencana pendidikan agama Kristen teridiri dari proses menentukan menentukan
tenaga pimpinan, sarana, waktu dan ruang yang diperlukan untuk melaksanakan
pelayanan pendidikan agama Kristen.
III.
Kesimpulan
Dari
pemaparan, saya sebagai penyaji menyimpulkan bahwa tahap perkembangan ilmu
pendidikan agama berporos pada teologi “liberal” dan dinamakan “gerakan
pendidikan agama”. Prestasinya gemilang, tetapi didalamnya terdapat kelemahan
yang mencolok pula. Kelemahan dalam orientasi teologilah yang justru semakin
tampak kemudian.
Pemikiran
pertama yang menentang arah gerakan itu berjalan ialah H. Shelton Smith,
kemudian disusul oleh Rudolph Crump Miller, L. J. Sherrill dan setelah itu D.
Campbell Wyckoof. Sehingga dari beberapa pemikiran/ pendapat tokoh-tokoh itu
kita dapat melihat bahwa kelemahan yang mencolok itu dapat diperbaiki. Dengan
demikian, PAK akan mencapai kematangan yang berorientasi pada teologi gereja.
IV. Daftar Pustaka
Boehlke.Robert R,Sejarah Perkembangan Pikiran & Praktek
PAK dari Yohanes Amos Comenius Sampai
Perkembangan PAK di Indonesia,Jakarta :BPK-GM,1997
Tidak ada komentar:
Posting Komentar