Dasar Teologis Pendidikan Agama
Kristen
I.Pendahuluan
Pendidikan Agama Kristen merupakan proses pembelajaran yang
berdasarkan pengetahuan alkitab,berpusat pada Kristus dan Firman Tuhan sebagai dasarnya guna
mempersiapkan manusia sehingga menjadi bait Allah.Namun disini bukan pengertian
Pendidikan Agama Kristen(PAK) yang akan dibahas tetapi apa dasar Teologis Pendidikan
Agama Kristen itu sendiri yang akan kita bahas sehingga tidak hanya
pengertiannya saja kita ketahui bahkan dasar teologisnya sangat penting kita
ketahui.
II.Pembahasan
2.1.Pengertian Dasar
Teologis Pendidikan Agama Kristen
Secara Etimologi dasar (Foundation), menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia yang artinya tempat menumpangkan sebuah bangunan: suatu
hamparan yang terletak di bawah bagian benda (cair atau padat).
Teologi (Theological), Yunani:
Theos artinya “Allah” dan Logos artinya
“pengetahuan”. Maka teologia adalah: ‘pengetahuan tentang Allah’
Arti secara khusus: Teologi adalah “suatu usaha/
kegiatan untuk mencermati kehadiran Allah, karena Allah berkenan untuk
menyatakan dirinya dalam kehidupan jemaat (orang percaya), maupun masyarakat,
dan tanggapan jemaat (orang Kristen) maupun masyarakat terhdap penyataan-Nya
tersebut.”
Pendidikan Agama Kristen adalah Usaha yang sadar, sistematis,
berkesinambungan, untuk mendidik orang lain dalam proses kepercayaan (iman)
kepada Allah yang menyatakan diri dari kehendak-Nya, yang mencapai puncaknya
dalam diri Yesus Kristus.
Sehingga berdasarkan uraian di atas, pengertian Dasar
Teologi Pendidikan Agama Kristen adalah: “Pondasi
(tempat untuk meletakkan) cara berpikir (ilmu pengetahuan) tentang Allah,
dalam usaha sadar, sistematis, berkesinambungan, untuk mendidik orang lain
dalam proses kepercayaan (iman) kepada Allah yang menyatakan diri dari
kehendak-Nya, yang mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus.”
Berikut ini beberapa
pendapat para tokoh tentang dasar teologis Pendidikan Agama Kristen,antara lain
:
1.
Martin Luther
Ada empat dasar teologis pendidikan
agama Kristen: (a) Keadaan berdosa setiap warga: banyak teolog
lain yang juga mengakui dosa asal, tetapi pengakuan itu cenderung tetaplah
sebuah ajaran kering saja. Namun berbeda halnya dengan Luther yang melalui
pengalamannya[1]
mendorong dia untuk mencari jalan keluar yang mengenyangkan kelaparan jiwa,
yang menurutnya tidak bisa diatasi melalui seluk-beluk sistem sakramental yang
merupakan soko-guru gereja zamannya. Karena itu baginya usaha menyelamatkan
jiwa menjadi pendorong utama menuju jalan memperbarui gereja dan bukan
pertengkarannya dengan lembaga Kepausan;
(b) Pembenaran
oleh iman: melalui penderitaan jiwanya, Luther diyakinkan tentang kebenaran
dosa sebagai faktor dalam diri seiap orang. Dosa itu meresap ke dalam semua
kebajikan insane di samping tindakannya yang buruk. Jadi, dampaknya
mengendalikan segala kegiatan yang diprakarsai manusia termasuk pendidikan
agama Kristen. Oleh karena itu ia mutlak diperhatikan oleh para pendidik di
kalangan jemaat/ gereja.
(c) Imamat semua orang percaya:
menurut Luther, di dalam pengalaman pembenaran karena iman tersebut tersirat
pula persamaan hak setiap orang di hadapan Allah. Tidak ada satu golongan tertentu
yang menjadi penyalur anugerah Tuhan sehingga kemudian disampaikan kepada orang
yang lebih rendah martabatnya. Sebenarnya semua oleh iman telah dijadikan
makhluk baru dalam Yesus Kristus. Dengan kata lain, setiap warga adalah imam
bagi warga seimannya; (d) Firman Allah: dasar teologi ini sudah
tersirat dalam ketiga dasar lainnya, karena semuanya berakar dalam Alkitab,
yaitu: Yesus secara pribadi dan ajaran-Nya aalah Firman Allah, Alkitab
sebagai Firman dan Firman
2. Calvin
Ada 5
dasar Teologis yang dikemukakan oleh Calvin yang antara lain
a. Kedaulatan Allah
Kesadaran
Calvin akan keagungan Allah dapat diumpamakan dengan membandingkan pengalaman
Nabi Yesaya, sebagaimana tercatat dalam Yes 6. Dihadapan Allah yang demikian
agung tak ada tanggapan yang lebih wajar daripada mengatakan dengan rendah
hati, “inilah aku, utuslah aku !” (
ayat 8c ).
Pertama-tama
Allah yang wajib ingin dilayani itu berdaulat atas diri-Nya sendiri dan semua
pembicaraan manusia tentang Allah harus bertitik tolak dari sudut bagaimana
Allah sendiri ingin diketahui-Nya. Singkatnya Allah yang hendak dilayani
manusia bukanlah berhala yang dijadikan oleh pikiran manusia.
b. Alkitab
sebagai firman Allah
Sumber
pengetahuan bagi Calvin adalah Alkitab .peranan mutlak Alkitab menjadi faktor
utama dalam pikiran dan pengalaman Calvin. Ia menyebut dirinya hamba Allah, itu
sama artinya dengan menaklukan diri pada firman-Nya. Peranan mutlak Alkitab
dalam kehidupan Calvin ditunjukan pula oleh buku-buku tafsirannya yang banyak
jumlahnya.Demikian Alkitab akan menjadi isi pokok PAK dikalangan jemaat dan
tolak ukur yang harus dipakai untuk menyoroti proses pelaksanaan pembinaan
semua warga Kristen.[2]
c. Ajaran
tentang manusia
Ada dua sudut yang harus dibahas.
a.
Manusia sebagai mahluk yang diciptakan segambar dengan Allah, dan yang kemudian
jatuh dengan dampak luas yang tersirat didalamnya.
b.
Sejumlah manusia ini dipilih dalam Yesus Kristus untuk diselamatkan dari akibat
kejatuhannya agar mewujudkan buah keselamatan dalam kehidupan dan pelayanan
terhadap sesamanya.
Kejatuhan
manusia kedalam dosa yang dipelopori oleh Adam dan Hawa menularkan penyakit
yang gawat kepada keturunannya yang dinamakan dosa warisan. Menurut Calvin
artinya dapat dirumuskan dengan kata-kata berikut :
“Dosa turunan itu adalah suatu
kerusakan dan kebejatan kodrat kita yang turun temurun, yang sudah menyebar
kesemua bagian jiwa, dan membuat kita pertama-tama layak ditimpa kemurkaan
Allah, kemudian menimbulkan dalam diri kita perbuatan-perbuatan yang oleh
Alkitab dinamakan “perbuatan-perbuatan daging” (Gal 5 : 19).
Gambaran
manusia sejati tampak pada Yesus Kristus. Dia menyatakan jenis pengabdian diri
yang diharapkan Allah untuk semua orang yang pecaya. Menurut Calvin pertumbuhan
menuju pengabdian diri inilah yang menuntut pengalaman belajar dan khususnya
dikalangan gereja, terutama orang-orang yang mengakui diri terpilih dalam
Kristus.
d. Ajaran Gereja
Menurut
Calvin , “kita melihat bagaimana Allah, yang dapat saja membuat umat-Nya sempurna
dalam sekejap mata,tidak menghendaki mereka mencapai kedewasaan, kecuali
mendapat pendidikan dari gereja.” Karena dengan sarana kaum pendidik, Allah
mengulurkan tangan-Nya secara manusiawi untuk menarik orang-orang percaya
datang kepada-Nya.
Melalui
wahana mulut dan lidah manusia yang dikuduskan Roh Kudus yaitu para pendidik gereja,
sama seperti Dia sendiri hadir. Disamping didik langsung, melalui bimbingan
seorang guru dalam kelompok orang-oramg percaya, pertumbuhan rohani dialami
pula melalui kebaktian yang terdiri dari keikutsertaan semua warga didalamnya.
Calvin
juga menekankan mengenai dua sakramen yaitu sakramen Babtisan kudus dan
Perjamuan Kudus, dimana kedua-duanya itu dikaruniakan demi pertumbuhan iman dan
dialami melalui indra warga gereja.
Secara ringkas, boleh dikatakan bahwa gereja adalah
persekutuan kaum terpilih dalam Yesus Kristus yang di didik melalui sarana
kebaktian, yang pada pokoknya pemberitaan Firman Tuhan dan Sakramen.
5. Ajaran Tentang
Hubungan Antara Gereja Dengan Negara
Pengertian
Calvin tentang pokok teologis ini bertitik tolak dari 4 praduga utama yakni:
a.
Dia tidak tidak dapat membayangkan Negara terbagi menurut isi iman warganya.
Demi keamanan Negara, semua warga wajib mengakui iman yang sama. Untuk
siapasaja yang tidak setuju demikian hendaknya diberi 3 pilihan : mengubah
pendapat, mengungsi, atau ditangkap.
b.
Setiap pemerintah yang dikenalnya dari dekat terdiri dari warga yang menganggap
diri pengikut Kristus. Kalau begitu, sebagian kewajibannya sebagai pengikut
Kristus dipenuhi melalui pemerintahan Negara.
c.
Sungguhpun demikian para pemimpin Negara adalah manusia yang berdosa juga.
Dengan demikian mesti ada cara untuk menghalangi ekspresi dosanya dalam negara.
d.
Meskipun hubungan antara gereja dan Negara itu amat erat, namun para pelayan
wajib menentukan isi firman yang diproklamasikan dan siapa yang boleh menerima
sakramen.
3. Yohanes Amos Comenius
Comenius
berpendapat bahwa ada beberapa dasar teologis Pendidkan Agama
Kristen,diantaranya:
a. Kedaulatan
Allah
Menurutnya
bahwa manusia telah diciptakan segambar dan serupa dengan Allah,maka semakin
dekat kelihatan gambar dengan modelnya,semakin mulia pula gambaran itu. “Tetapi
semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan
Allah”(Rm.3:23).Jadi agar manusia tidak kehilangan kemuliaan Allah,maka semua
orang harus diajar untuk tidak berbuat dosa,tidak berbuat salah dan gagal dalam
panggilannya memenuhi jati dirinya yang segambar dengan Allah.Segala sesuatu
yang terjadi dalam dunia berlangsung melulu karena kehendak-Nya saja,dari
hal-hal yang paling besar sampai yang paling kecil.Semua ini,telah tinjau
dengan mata sendiri.[3]
b. Manusia
Ia memulai pembahasan tentang manusia dengan
mengutip dari Kejadian 1:26: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan
rupa kita,supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di
udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas binatang melata yang
merayap di bumi.Di dalamnya tersirat tiga pokok tentang jati diri manusia.Yang
pertama,manusia adalah mahluk rasional,artinya
bahwa Tuhan telah memberiakan tugas khusus kepadanys menanami segala
sesuatu(Kej.2:19).Kedua,manusia adalah
tuan atas segala mahluk lain oleh karena itu ia wajib memanfaatkan segalanya sesuai dengan panggilan ilahi yang
berkaitan dengan setiap jenis ciptaan.Dan yang ketiga,manusia wajib mencerminkan semua sifat asli dari gambar Allah di dalam
dirinya.Demikianlah tertulis “Kuduslah kamu,sebab Aku,Tuhan
Allahmu,Kudus”(Im.19:2).[4]Apabila
manusia akan menghayati jati dirinya
sebagai mahluk yang kudus,ia harus mengetahui banyak,bertindak secara moral dan
senantiasa mengabdikan diri kepada Tuhan.
c. Iman Mistis
Iman
mistis Comenius berporos pada kehidupan pribadi yang semakin mirip dengan gaya
hidup Yesus ,yang tidak kunjung besandar pada kekuatan negara.Dari iman mistis
itu bertumbuhlah orang kristen yang berbudi tinggi,bijaksana dan saleh.Mereka
ingin mengasihi Allah dan sesamanya dengan segenap hatinya.
d. Gereja
Dengan
hati sedih,Comenius berseru kepada Gereja Luteran untuk kembali lagi pada injil
sebagaimana diberitakan oleh Dr.Luter dulu. “Kamu telah mulai dengan iman yang
hidup,tetapi cenderung meninggalkannya demi kepentingan iman yang mati yang
terlepas dari perbuatan yang baik.[5]
Mulai pendidkan di Herbon dan
Heidelberg,Comenius merasa diri dekat dengan teologi Gereja
Reformasi(Calvinis),tetapi karena penghargaan terhadap gereja itu menyediakan
peluang belajar baginya,ia merasa terpanggil untuk menasehatinya untuk berpikir
dan hidup lebih sederhana serta mengurangi gaya spekulasi tentang hal-hal
teologis.
4. Johann Heinrich Pestalozzi
Pestalozzi berpendapat bahwa ada
lima dasar teologis dalam Pendidikan Agama Kristen,diantaranya:
a. Kepercayaan
Kepada Allah Bapa
Ia
tidak menjelaskan mengapa dia bersandar
pada Allah Bapa.Kenyataan itu adalah sama pastinya dengan udara yang
dihirup tiap harinya.Bila kita tidak ada dasar yang dapat dipercayai untuk
menghadapi tantangan hidup ataupun untuk mengembangkan pendidikan yang
berhasil.Untuk itu “Dapatkah anda percaya bahwa Allah adalah Bapa umat manusia
dan bahwa Dia sudi membiarkan kematian untuk mengakhiri makna hidup bagi kaum
penderita?
Kalau Allah bukanlah Bapa umat
manusia,maka umat adalah titik akhir bagi semua..Allah adalah Bapa kita dan
anak-anak-Nya hidup selama-lamanya...Allah adalah Bapa untuk orang: setiap
orang yang percaya adalah anak Allah.Ya,hubungan itulah yang menjadi berita
sederhana dari iman kristen.”[6]
b. Alam Sebagai
Pedoman
Menurutnya
alam itu merupakan kata yang searti bagi ketertiban yang tampak dalam dunia
yang diciptakan Allah dan hasilnya adalah cara makhluk hidup berkembang dan
bertumbuh.Ia juga berpendapat bahwa bertindak berdasarkan naluri tidak berlaku
lagi.Anak didik perlu dimasyarakatkan sesuai dengan asas-asas yang sudah
dikembangkan oleh umat manusia sepanjang abad.Tidak hanya itu,anak harus
diantar untuk bertindak secara moral dan untuk menjadi percaya kepada Allah.
c. Yesus
Sebagai Juruselamat Dunia
Sebab
Allah mendamaikan dunia dengan dirinya oleh Yesus Kristus dengan tidak memperhitungkan
pelanggaran mereka.Apakah orang lain berkeberatan tentang pengakuan yang
menyamakan pengajaran Yesus dengan pertanyaan dari Allah? Barangkali,bagi
mereka,Yesus sendiri adalah pernyataan dan bukan hanya pengajaran dari Allah.
d. Manusia:Jati
Diri dan Tugasnya
Jati
diri manusia ada tiga pokok,yakni manusia makhluk dari alam,manusia sebagai
mahluk sosial dan manusia makhluk moral.
e. Pengalaman
Beriman Secara Pribadi
Pestalozzi
adalah seorang yang hidup dalam
lingkungan usaha untuk mengabdikan diri kepada Allah.Ia berhasil menyampaikan pengalaman
itu melalui karya tulis atau pun tidak.
5. Friedrich W.A.Froebel
Menurutnya
ada beberapa hal yang menjadi dasar teologis Pendidikan Agama
Kristen,diantaranya:
a. Ajaran
Tentang Allah
Segala
sesuatu perlu menyingkapkan hakikatnya,yaitu kesatuan Ilahi itu sendiri.Segala
sesuatu itu harus menyatakan Allah,baik melalui inti lahiriahnya maupun yang
tidak kekal,karena berbuat demikian adalah maksud utama dan panggilan hidupnya.[7]Demikianlah
yesus memerintahkan murid-murid-Nya, “Pegilah,ajarlah semua bangsa; yakni
bimbinganlah mereka untuk mengetahui Allah,Bapa Yesus,Anak Allah dan Roh Kudus
dari Allah agar hidup sesuai dengan pengetahuan ini dan semua pemahaman yang
berasal darinya.”
b. Pengertian
Tentang Yesus
Ucapan
Yesus yang sering diulangi, “Percayalah kepada-Ku”,berarti: “Anda sebagai
ciptaan Allah yang berasal dari debu tanah dapat merasa,mengetahui dan melihat
bahwa sebetulnya apa yang luhur tentang manusia-yaitu asal-usulnya yang ilahi
dan ketergantungan dengan Allah sudah dinyatakan dengan jelas dalam hidup-Ku.
c. Pengertian
Teologis Tentang Manusia
Artinya
setiap orang hendaklah dilihat dan diperlakukan sebagai pengejawatantahan dari
Roh Allah dalam rupa seorang manusia dan tersirat juga manusia adalah karunia
Allah.Manusia merupakan anak Allah yang secara harmonis dan menyatu dalam
mempermuliakan nama-Nya
6. Ignatius Loyola
Ada
beberapa dasar teologis Pendidikan Agama Kristen menurut pendapatnya,yakni:
a. Pengalaman
Militer
Melihat
keberanian Loyola memukul mundur kesatuan militer yang menyerang
bentengnya,semangat para serdadu Spanyol lainnya berkobar kembali sehingga
nyaris menang.Dari pengalaman itu ia mengambil kesimpulan yang
bermanfaat,yaitu: a) Bahwa semangat tidak dapat mengantikan perlunya ada tenaga
dan sarana untuk mencapai tujuan. b) Karena dia berkeberatan terhadap kebijakan
panglima dan para penasihatnya,maka secara pribadi dia mengalami kesulitan yang
bukan main hebatnya dan sesungguhnya Loyola tidak ingin bertindak terlalu kejam
atau keras.[8]
b. Kebatinan,Mistik
Injil
Karya
kehidupan Loyola berasal dari pengalaman bersemedi.Dengan kata
lain,pandangannya tidak dihasilkan oleh refleksinya selama duduk di belakang
meja tulis.Ia cenderung menulis pada lembar kertas apa yang ia alami secara
pribadi melalui penglihatan-penglihatan yang berporos pada “para penghuni
surga”.
c. Kehidupan
Gereja Katolik Roma
Mengingat
bagaimana Loyola bertobat dalam kesunyian kamar rumah keluarganya sebagai
akibat pembacaan dan penglihatan yang dialaminya selalu menjadi teka-teki
mengapa justru orang ini mencurahkan seluruh akal dan tenaganya untuk pelayanan
gereja.
7. C.L.J.Sherrill[9]
Ada
tiga keyakinan teologis utama yang menyoroti pandangan Sherrill,yakni:
a. Ajaran
Tentang Pernyataan
Bila
kita memahami bahwa pernyataan sebagai pengalaman dinamis dengan Tuhan dan
suatu perjumpaan dengan Tuhan.Dalam usaha berbicara tentang pernyataan sebagai
penyikapan diri,sedang tersirat bahwa apa yang dinyatakan,dalam perjumpaan
antara Allah dan manusia,bukanlah keterangan tentang Allah,melainkan Allah
sendiri sebagai diri pribadi.
b. Ajaran
Tentang Manusia
Dalam
satu pihak dialah tokoh yang gagal menncapai kemungkinannya yang laus,yang
cenderung memutuskan hubungan dengan sesamanya dan dengan Allah,seorang tokoh
yang terbelah dua,yang suka menipu dan mampu bertumbuh tapi tidak
semestinya.Akan tetapi,pada pihak lain dialah tokoh yang berbahagia,karena ia
diciptakan untuk hidup dalam persekutuan.
c. Persekutuan
Kristen
Persekutuan
ini dirumuskan sebagai kumpulan hubungan yang berdampak pada mutu pertumbuhan
bagi anggotanya sebagai diri pribadi yang utuh dan mengatas namakan Tuhan Yesus
dalam persekutuan tersebut.
8. D.D Campbell Wyckoff
Menurut
Campbell ada beberapa dasar teologis Pendidikan Agama Kristen,antara lain:
a. Kebudayaan
Perkembangan
kebudayaanmencakup cara masyarakat memperoleh keuntungan dalam
kehidupannya.Didalamnya terwujud pula cara masyarakat menentukan tatanan hidup
bersama.Akhirnya,kebudayaan itu terdiri atas nilai-nilai yang diterima
masyarakat dan sarana yang dipakainya untuk mengejawantahkan nilai-nilai
tersebut.[10]
b. Pendidikan,Pengemban
Kebudayaan
Pendidikan
Agama Kristen mencakup cara yang dikembangkan dalam masyarakat untuk
memperkenalkan setiap angkatan baru pada nilai-nilai khusus yang memberikan
arti dasariah pada kebudayaan.Lagi pula,pendidikan agama itu adalah cara yang
manfaatkan masyarakat untuk membawa setiap angkatan baru pada hubungan langsung
dan dinamis dengan kekuatan yang mengendalikan kehidupannya.Akhirnya,pendidikan
agama menolong angkatan baru untuk semakin memahami dan menghargai pokok-pokok
ajaran yang menjelaskan makna kehidupan dan sejarah masyarakatnya.
c. Kebudayaan,Teologi
Kristen dan Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan
Agama Kristen melayani kehidupan orang yang ditebus,yakni kehidupan yang
dijadikan baru oleh Allah yang menciptakan manusia menurut
gambar-Nya,menyatakan diri sejelas mungkin dalam Yesus Kristus dan yang
senantiasa membimbingnya dengan Roh kudus.Jadi,sifat yang paling khas dari
pendidikan agama kristen ialah bahwa ia mencakup pelayanan Firman,dan Firman
yang Allah sabdakan kepada manusia.
9. A.H.Shelton Smith[11]
Smith
mengemukakan pendapatnya mengenai dasar teologis pendidikan agama
kristen,diantaranya:
a. Kerajaan
Allah
Pada
dasarnya,pemikir pendidikan agama meredakan ketegangan antara kedua gagasan
utama pokok Kerajaan Allah.Pertama,Kerajaan itu berakar didalam keadaan baru
yang diploklamasikan Yesus.Kedua,Kerajaan itu bersifat transenden,artinya
Kerajaan itu tidak dikaitkan secara total dengan lembaga apa pun yang didirikan
oleh manusia.
b. Manusia
Banyak
pandangan terhadap Allah yang menista
martabat manusia,tetapi kesaksian khususnya dari nabi-nabi Israel kuno
dan Yesus sendiri,memperkaya nilai-nilai manusia secara pribadi.
c. Yesus Kristus,Penyataan
Allah
Asuahan
Kristen yang bermakna harus berakar iman yang teguh,yang menolak sifat
sementara dan proses mendidik yang tampak dalam teori dan praktek pendidikan
Dewey.Dibalik asuhan Kristen terdapat iman yang lebih mendalam dari pada kepercayaan
pada nilai-nilai yang senantiasa bertumbuh.Oleh karena itu,hendaklah guru
kristen memberikan/membagikan iman kepada anak dengan keyakinan bahwa dalam
kristus Allah telah menyiapkan firman yang berlaku secara abdi kepada manusia.
d. Gereja
Jelaslah
bahwa segi dari gereja dan segi sosialnya yang melampaui perkara sosial
itu,perlu diakui dalam permasalahan apa pun tentang permunculan persekutuan
Kristen.Kristen mengidentifikasi gereja sebagai kelompok sosial ideal apa pun.
10. Harrison S.Elliott
Menurutnya
ada beberapa dasar teologis Pendidikan Agama Kristen,diantaranya:
a. Allah
Bagaimanapun
juga interpretasi manusia tentang Allah,pengejawantahan dan sumber-Nya tampak
dalam jagat raya ini:....sumber-sumber ini hanya tersedia bagi manusia sejauh
mana ia menemukan persyaratan yang berlaku untuk memperolehnya;...manusia bebas
pula menolak sumber-sumber tersebut,atau sebaliknya memenuhi persyaratan yang
akan membuka suber tersebut bagi penggunaannya.
b. Penyataan
Yang
penting ialah supaya pikiran manusia tidak membatasi Allah hanya pada hubungan
tertentu saja dalam kehidupan; sebenarnya kenyataan yang senantiasa.Ada itu
yang kita namakan Allah,dan Dialah yang mendasari segala upaya manusia.Dengannya
setiap bagian kehidupan dijadikan menjadi sesuatu yang suci,karena Ia
senantiasa berhubungan dengan kekuatan dan kemungkinan yang ajaib dan penuh
misteri.
c. Tabiat
Manusia
Sejak
lahir,seorang bayi tidak berdosa dan juga tidak suci murni atau dapat dikatakan
tabiatnya netral.Kepribadian dan wataknya ditentukan oleh sifat keadaan
sosialnya,yakni bahwa kepribadian manusia adalah hasil hubungan sosialnya.
d. Masalah Dosa
Kenyataan
dosa dalam hidup manusia perlu dihubungkan dengan cara kelakuan dan tindakan
itu berdampak terhadap kehidupan sesamanya manusia.Berdasarkan persekutuan-persekutuan
itu orang-orang siap memecahkan masalah-masalah di dunia ini.Mereka diharapkan memprakarsai
tindakan,mengambil keputusan,menerima pertanggungjawaban,tetapi semua itu
dilakukan dalam hubungan dengan Allah.
IV.Daftar
Pustaka
______,The Gospel and Christian Education,Philadelphia:Westminster,1959
Boehike.Robert R.Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek
dari Plato sampai lg.Loyola,Jakarta:
BPK Gunung Mulia,1994
Boehlke.Robert R,Sejarah Perkembangan Pikiran & Praktek
PAK dari Yohanes Amos Comenius Sampai
Perkembangan PAK di Indonesia,Jakarta :BPK-GM,1997
Bowan James,”Introduction”,hlm.8,dalam Comenius,Orbis Pictus
Comenius John Amos,The Labyrinth of The World and Paradise of the Heart,Amerika;Chicago,1942
Froebel Friedrich,The Educution of Man,terj.W.N.Hailmann,New
York:D.Appleton and Company,1910
Haroutunian Joseph,Introduction,dalam Calvin:Commentaries,Philadelphia:Westminster,1985
Loyola Ignatius,Powers of Imagining,terj.Antonio T.de
Nicolas,New York:Albany,1986
Pestalozzi, “Evening Hours of a Hermit”,dalam Significant Contributions,hlm.25-26
Plato,Laws,The Great Didactic,New York:Russell and
Russell,1967
Smith H.Shelton,Faith and Nurture,New York: Charles
Scribner’s Sons,1946
[2] Joseph Haroutunian,Introduction,dalam
Calvin:Commentaries,(Philadelphia:Westminster,1985),35
[3] John Amos Comenius,The Labyrinth of The World and Paradise of the Heart,(Amerika;Chicago,1942)
[4] Plato,Laws,The Great Didactic,(New York:Russell and Russell,1967),3
[5] James Bowan,”Introduction”,hlm.8,dalam Comenius,Orbis Pictus
[6] Pestalozzi, “Evening Hours of a Hermit”,dalam Significant Contributions,hlm.25-26
[7] Friedrich Froebel,The Educution of Man,terj.W.N.Hailmann,(New
York:D.Appleton and Company,1910),1-2
[8] Ignatius Loyola,Powers of Imagining,terj.Antonio T.de
Nicolas,(New York:Albany,1986),327
Tidak ada komentar:
Posting Komentar