Rabu, 27 April 2016

Dasar Teologis Pendidikan Agama Kristen @Tuah Ginting


Dasar Teologis Pendidikan Agama Kristen
 I.Pendahuluan
            Pendidikan Agama Kristen merupakan proses pembelajaran yang berdasarkan pengetahuan alkitab,berpusat pada Kristus  dan Firman Tuhan sebagai dasarnya guna mempersiapkan manusia sehingga menjadi bait Allah.Namun disini bukan pengertian Pendidikan Agama Kristen(PAK) yang akan dibahas tetapi apa dasar Teologis Pendidikan Agama Kristen itu sendiri yang akan kita bahas sehingga tidak hanya pengertiannya saja kita ketahui bahkan dasar teologisnya sangat penting kita ketahui.

II.Pembahasan
2.1.Pengertian Dasar Teologis Pendidikan Agama Kristen
            Secara Etimologi dasar (Foundation), menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang artinya tempat menumpangkan sebuah bangunan: suatu hamparan yang terletak di bawah bagian benda (cair atau padat).
            Teologi (Theological), Yunani: Theos artinya “Allah” dan Logos artinya  “pengetahuan”. Maka teologia adalah: ‘pengetahuan tentang Allah’
Arti secara khusus: Teologi adalah “suatu usaha/ kegiatan untuk mencermati kehadiran Allah, karena Allah berkenan untuk menyatakan dirinya dalam kehidupan jemaat (orang percaya), maupun masyarakat, dan tanggapan jemaat (orang Kristen) maupun masyarakat terhdap penyataan-Nya tersebut.”
            Pendidikan Agama Kristen adalah Usaha yang sadar, sistematis, berkesinambungan, untuk mendidik orang lain dalam proses kepercayaan (iman) kepada Allah yang menyatakan diri dari kehendak-Nya, yang mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus.
            Sehingga berdasarkan uraian di atas, pengertian Dasar Teologi Pendidikan Agama Kristen adalah: “Pondasi (tempat untuk meletakkan) cara berpikir (ilmu pengetahuan) tentang Allah, dalam usaha sadar, sistematis, berkesinambungan, untuk mendidik orang lain dalam proses kepercayaan (iman) kepada Allah yang menyatakan diri dari kehendak-Nya, yang mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus.”



Berikut ini beberapa pendapat para tokoh tentang dasar teologis Pendidikan Agama Kristen,antara lain :
1.    Martin Luther
Ada empat dasar teologis pendidikan agama Kristen: (a) Keadaan berdosa setiap warga: banyak teolog lain yang juga mengakui dosa asal, tetapi pengakuan itu cenderung tetaplah sebuah ajaran kering saja. Namun berbeda halnya dengan Luther yang melalui pengalamannya[1] mendorong dia untuk mencari jalan keluar yang mengenyangkan kelaparan jiwa, yang menurutnya tidak bisa diatasi melalui seluk-beluk sistem sakramental yang merupakan soko-guru gereja zamannya. Karena itu baginya usaha menyelamatkan jiwa menjadi pendorong utama menuju jalan memperbarui gereja dan bukan pertengkarannya dengan lembaga Kepausan;
(b) Pembenaran oleh iman: melalui penderitaan jiwanya, Luther diyakinkan tentang kebenaran dosa sebagai faktor dalam diri seiap orang. Dosa itu meresap ke dalam semua kebajikan insane di samping tindakannya yang buruk. Jadi, dampaknya mengendalikan segala kegiatan yang diprakarsai manusia termasuk pendidikan agama Kristen. Oleh karena itu ia mutlak diperhatikan oleh para pendidik di kalangan jemaat/ gereja.
 (c) Imamat semua orang percaya: menurut Luther, di dalam pengalaman pembenaran karena iman tersebut tersirat pula persamaan hak setiap orang di hadapan Allah. Tidak ada satu golongan tertentu yang menjadi penyalur anugerah Tuhan sehingga kemudian disampaikan kepada orang yang lebih rendah martabatnya. Sebenarnya semua oleh iman telah dijadikan makhluk baru dalam Yesus Kristus. Dengan kata lain, setiap warga adalah imam bagi warga seimannya; (d) Firman Allah: dasar teologi ini sudah tersirat dalam ketiga dasar lainnya, karena semuanya berakar dalam Alkitab, yaitu: Yesus secara pribadi dan ajaran-Nya aalah Firman Allah, Alkitab sebagai Firman dan Firman

2. Calvin
            Ada 5 dasar Teologis yang dikemukakan oleh Calvin yang antara lain
a.        Kedaulatan Allah
            Kesadaran Calvin akan keagungan Allah dapat diumpamakan dengan membandingkan pengalaman Nabi Yesaya, sebagaimana tercatat dalam Yes 6. Dihadapan Allah yang demikian agung tak ada tanggapan yang lebih wajar daripada mengatakan dengan rendah hati, “inilah aku, utuslah aku !” ( ayat 8c ).
            Pertama-tama Allah yang wajib ingin dilayani itu berdaulat atas diri-Nya sendiri dan semua pembicaraan manusia tentang Allah harus bertitik tolak dari sudut bagaimana Allah sendiri ingin diketahui-Nya. Singkatnya Allah yang hendak dilayani manusia bukanlah berhala yang dijadikan oleh pikiran manusia.
b.      Alkitab sebagai firman Allah
            Sumber pengetahuan bagi Calvin adalah Alkitab .peranan mutlak Alkitab menjadi faktor utama dalam pikiran dan pengalaman Calvin. Ia menyebut dirinya hamba Allah, itu sama artinya dengan menaklukan diri pada firman-Nya. Peranan mutlak Alkitab dalam kehidupan Calvin ditunjukan pula oleh buku-buku tafsirannya yang banyak jumlahnya.Demikian Alkitab akan menjadi isi pokok PAK dikalangan jemaat dan tolak ukur yang harus dipakai untuk menyoroti proses pelaksanaan pembinaan semua warga Kristen.[2]
c.       Ajaran tentang manusia
Ada dua sudut yang harus dibahas.
a.       Manusia sebagai mahluk yang diciptakan segambar dengan Allah, dan yang kemudian jatuh dengan dampak luas yang tersirat didalamnya.
b.      Sejumlah manusia ini dipilih dalam Yesus Kristus untuk diselamatkan dari akibat kejatuhannya agar mewujudkan buah keselamatan dalam kehidupan dan pelayanan terhadap sesamanya.
            Kejatuhan manusia kedalam dosa yang dipelopori oleh Adam dan Hawa menularkan penyakit yang gawat kepada keturunannya yang dinamakan dosa warisan. Menurut Calvin artinya dapat dirumuskan dengan kata-kata berikut :
            “Dosa turunan itu adalah suatu kerusakan dan kebejatan kodrat kita yang turun temurun, yang sudah menyebar kesemua bagian jiwa, dan membuat kita pertama-tama layak ditimpa kemurkaan Allah, kemudian menimbulkan dalam diri kita perbuatan-perbuatan yang oleh Alkitab dinamakan “perbuatan-perbuatan daging” (Gal 5 : 19).
            Gambaran manusia sejati tampak pada Yesus Kristus. Dia menyatakan jenis pengabdian diri yang diharapkan Allah untuk semua orang yang pecaya. Menurut Calvin pertumbuhan menuju pengabdian diri inilah yang menuntut pengalaman belajar dan khususnya dikalangan gereja, terutama orang-orang yang mengakui diri terpilih dalam Kristus.
d.       Ajaran Gereja
            Menurut Calvin , “kita melihat bagaimana Allah, yang dapat saja membuat umat-Nya sempurna dalam sekejap mata,tidak menghendaki mereka mencapai kedewasaan, kecuali mendapat pendidikan dari gereja.” Karena dengan sarana kaum pendidik, Allah mengulurkan tangan-Nya secara manusiawi untuk menarik orang-orang percaya datang kepada-Nya.
            Melalui wahana mulut dan lidah manusia yang dikuduskan Roh Kudus yaitu para pendidik gereja, sama seperti Dia sendiri hadir. Disamping didik langsung, melalui bimbingan seorang guru dalam kelompok orang-oramg percaya, pertumbuhan rohani dialami pula melalui kebaktian yang terdiri dari keikutsertaan semua warga didalamnya.
            Calvin juga menekankan mengenai dua sakramen yaitu sakramen Babtisan kudus dan Perjamuan Kudus, dimana kedua-duanya itu dikaruniakan demi pertumbuhan iman dan dialami melalui indra warga gereja.
Secara ringkas, boleh dikatakan bahwa gereja adalah persekutuan kaum terpilih dalam Yesus Kristus yang di didik melalui sarana kebaktian, yang pada pokoknya pemberitaan Firman Tuhan dan Sakramen.
5.      Ajaran Tentang Hubungan Antara Gereja Dengan Negara
            Pengertian Calvin tentang pokok teologis ini bertitik tolak dari 4 praduga utama yakni:
a.       Dia tidak tidak dapat membayangkan Negara terbagi menurut isi iman warganya. Demi keamanan Negara, semua warga wajib mengakui iman yang sama. Untuk siapasaja yang tidak setuju demikian hendaknya diberi 3 pilihan : mengubah pendapat, mengungsi, atau ditangkap.
b.      Setiap pemerintah yang dikenalnya dari dekat terdiri dari warga yang menganggap diri pengikut Kristus. Kalau begitu, sebagian kewajibannya sebagai pengikut Kristus dipenuhi melalui pemerintahan Negara.
c.       Sungguhpun demikian para pemimpin Negara adalah manusia yang berdosa juga. Dengan demikian mesti ada cara untuk menghalangi ekspresi dosanya dalam negara.
d.      Meskipun hubungan antara gereja dan Negara itu amat erat, namun para pelayan wajib menentukan isi firman yang diproklamasikan dan siapa yang boleh menerima sakramen.


3. Yohanes Amos Comenius
            Comenius berpendapat bahwa ada beberapa dasar teologis Pendidkan Agama Kristen,diantaranya:
a.       Kedaulatan Allah
            Menurutnya bahwa manusia telah diciptakan segambar dan serupa dengan Allah,maka semakin dekat kelihatan gambar dengan modelnya,semakin mulia pula gambaran itu. “Tetapi semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”(Rm.3:23).Jadi agar manusia tidak kehilangan kemuliaan Allah,maka semua orang harus diajar untuk tidak berbuat dosa,tidak berbuat salah dan gagal dalam panggilannya memenuhi jati dirinya yang segambar dengan Allah.Segala sesuatu yang terjadi dalam dunia berlangsung melulu karena kehendak-Nya saja,dari hal-hal yang paling besar sampai yang paling kecil.Semua ini,telah tinjau dengan mata sendiri.[3]
b.      Manusia
            Ia  memulai pembahasan tentang manusia dengan mengutip dari Kejadian 1:26: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita,supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas binatang melata yang merayap di bumi.Di dalamnya tersirat tiga pokok tentang jati diri manusia.Yang pertama,manusia adalah mahluk rasional,artinya bahwa Tuhan telah memberiakan tugas khusus kepadanys menanami segala sesuatu(Kej.2:19).Kedua,manusia adalah tuan atas segala mahluk lain oleh karena itu ia wajib memanfaatkan  segalanya sesuai dengan panggilan ilahi yang berkaitan dengan setiap jenis ciptaan.Dan yang ketiga,manusia wajib mencerminkan semua sifat asli dari gambar Allah di dalam dirinya.Demikianlah tertulis “Kuduslah kamu,sebab Aku,Tuhan Allahmu,Kudus”(Im.19:2).[4]Apabila manusia akan menghayati  jati dirinya sebagai mahluk yang kudus,ia harus mengetahui banyak,bertindak secara moral dan senantiasa mengabdikan diri kepada Tuhan.

c.       Iman Mistis
            Iman mistis Comenius berporos pada kehidupan pribadi yang semakin mirip dengan gaya hidup Yesus ,yang tidak kunjung besandar pada kekuatan negara.Dari iman mistis itu bertumbuhlah orang kristen yang berbudi tinggi,bijaksana dan saleh.Mereka ingin mengasihi Allah dan sesamanya dengan segenap hatinya.
d.      Gereja
            Dengan hati sedih,Comenius berseru kepada Gereja Luteran untuk kembali lagi pada injil sebagaimana diberitakan oleh Dr.Luter dulu. “Kamu telah mulai dengan iman yang hidup,tetapi cenderung meninggalkannya demi kepentingan iman yang mati yang terlepas dari perbuatan yang baik.[5]
Mulai pendidkan di Herbon dan Heidelberg,Comenius merasa diri dekat dengan teologi Gereja Reformasi(Calvinis),tetapi karena penghargaan terhadap gereja itu menyediakan peluang belajar baginya,ia merasa terpanggil untuk menasehatinya untuk berpikir dan hidup lebih sederhana serta mengurangi gaya spekulasi tentang hal-hal teologis.


4. Johann Heinrich Pestalozzi
Pestalozzi berpendapat bahwa ada lima dasar teologis dalam Pendidikan Agama Kristen,diantaranya:
a.       Kepercayaan Kepada Allah Bapa
            Ia tidak menjelaskan mengapa dia bersandar  pada Allah Bapa.Kenyataan itu adalah sama pastinya dengan udara yang dihirup tiap harinya.Bila kita tidak ada dasar yang dapat dipercayai untuk menghadapi tantangan hidup ataupun untuk mengembangkan pendidikan yang berhasil.Untuk itu “Dapatkah anda percaya bahwa Allah adalah Bapa umat manusia dan bahwa Dia sudi membiarkan kematian untuk mengakhiri makna hidup bagi kaum penderita?
Kalau Allah bukanlah Bapa umat manusia,maka umat adalah titik akhir bagi semua..Allah adalah Bapa kita dan anak-anak-Nya hidup selama-lamanya...Allah adalah Bapa untuk orang: setiap orang yang percaya adalah anak Allah.Ya,hubungan itulah yang menjadi berita sederhana dari iman kristen.”[6]
b.      Alam Sebagai Pedoman
            Menurutnya alam itu merupakan kata yang searti bagi ketertiban yang tampak dalam dunia yang diciptakan Allah dan hasilnya adalah cara makhluk hidup berkembang dan bertumbuh.Ia juga berpendapat bahwa bertindak berdasarkan naluri tidak berlaku lagi.Anak didik perlu dimasyarakatkan sesuai dengan asas-asas yang sudah dikembangkan oleh umat manusia sepanjang abad.Tidak hanya itu,anak harus diantar untuk bertindak secara moral dan untuk menjadi percaya kepada Allah.
c.       Yesus Sebagai Juruselamat Dunia
            Sebab Allah mendamaikan dunia dengan dirinya oleh Yesus Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka.Apakah orang lain berkeberatan tentang pengakuan yang menyamakan pengajaran Yesus dengan pertanyaan dari Allah? Barangkali,bagi mereka,Yesus sendiri adalah pernyataan dan bukan hanya pengajaran dari Allah.
d.      Manusia:Jati Diri dan Tugasnya
            Jati diri manusia ada tiga pokok,yakni manusia makhluk dari alam,manusia sebagai mahluk sosial dan manusia makhluk moral.
e.       Pengalaman Beriman Secara Pribadi
            Pestalozzi adalah seorang yang  hidup dalam lingkungan usaha untuk mengabdikan diri kepada Allah.Ia berhasil menyampaikan pengalaman itu melalui karya tulis atau pun  tidak.



5. Friedrich W.A.Froebel
            Menurutnya ada beberapa hal yang menjadi dasar teologis Pendidikan Agama Kristen,diantaranya:
a.       Ajaran Tentang Allah
            Segala sesuatu perlu menyingkapkan hakikatnya,yaitu kesatuan Ilahi itu sendiri.Segala sesuatu itu harus menyatakan Allah,baik melalui inti lahiriahnya maupun yang tidak kekal,karena berbuat demikian adalah maksud utama dan panggilan hidupnya.[7]Demikianlah yesus memerintahkan murid-murid-Nya, “Pegilah,ajarlah semua bangsa; yakni bimbinganlah mereka untuk mengetahui Allah,Bapa Yesus,Anak Allah dan Roh Kudus dari Allah agar hidup sesuai dengan pengetahuan ini dan semua pemahaman yang berasal darinya.”


b.      Pengertian Tentang Yesus
            Ucapan Yesus yang sering diulangi, “Percayalah kepada-Ku”,berarti: “Anda sebagai ciptaan Allah yang berasal dari debu tanah dapat merasa,mengetahui dan melihat bahwa sebetulnya apa yang luhur tentang manusia-yaitu asal-usulnya yang ilahi dan ketergantungan dengan Allah sudah dinyatakan dengan jelas dalam hidup-Ku.
c.       Pengertian Teologis Tentang Manusia
            Artinya setiap orang hendaklah dilihat dan diperlakukan sebagai pengejawatantahan dari Roh Allah dalam rupa seorang manusia dan tersirat juga manusia adalah karunia Allah.Manusia merupakan anak Allah yang secara harmonis dan menyatu dalam mempermuliakan nama-Nya


6. Ignatius Loyola
            Ada beberapa dasar teologis Pendidikan Agama Kristen menurut pendapatnya,yakni:
a.       Pengalaman Militer
            Melihat keberanian Loyola memukul mundur kesatuan militer yang menyerang bentengnya,semangat para serdadu Spanyol lainnya berkobar kembali sehingga nyaris menang.Dari pengalaman itu ia mengambil kesimpulan yang bermanfaat,yaitu: a) Bahwa semangat tidak dapat mengantikan perlunya ada tenaga dan sarana untuk mencapai tujuan. b) Karena dia berkeberatan terhadap kebijakan panglima dan para penasihatnya,maka secara pribadi dia mengalami kesulitan yang bukan main hebatnya dan sesungguhnya Loyola tidak ingin bertindak terlalu kejam atau keras.[8]
b.      Kebatinan,Mistik Injil
            Karya kehidupan Loyola berasal dari pengalaman bersemedi.Dengan kata lain,pandangannya tidak dihasilkan oleh refleksinya selama duduk di belakang meja tulis.Ia cenderung menulis pada lembar kertas apa yang ia alami secara pribadi melalui penglihatan-penglihatan yang berporos pada “para penghuni surga”.

c.       Kehidupan Gereja Katolik Roma
            Mengingat bagaimana Loyola bertobat dalam kesunyian kamar rumah keluarganya sebagai akibat pembacaan dan penglihatan yang dialaminya selalu menjadi teka-teki mengapa justru orang ini mencurahkan seluruh akal dan tenaganya untuk pelayanan gereja.


7. C.L.J.Sherrill[9]
            Ada tiga keyakinan teologis utama yang menyoroti pandangan Sherrill,yakni:
a.       Ajaran Tentang Pernyataan
            Bila kita memahami bahwa pernyataan sebagai pengalaman dinamis dengan Tuhan dan suatu perjumpaan dengan Tuhan.Dalam usaha berbicara tentang pernyataan sebagai penyikapan diri,sedang tersirat bahwa apa yang dinyatakan,dalam perjumpaan antara Allah dan manusia,bukanlah keterangan tentang Allah,melainkan Allah sendiri sebagai diri pribadi.
b.      Ajaran Tentang Manusia
            Dalam satu pihak dialah tokoh yang gagal menncapai kemungkinannya yang laus,yang cenderung memutuskan hubungan dengan sesamanya dan dengan Allah,seorang tokoh yang terbelah dua,yang suka menipu dan mampu bertumbuh tapi tidak semestinya.Akan tetapi,pada pihak lain dialah tokoh yang berbahagia,karena ia diciptakan untuk hidup dalam persekutuan.
c.       Persekutuan Kristen
            Persekutuan ini dirumuskan sebagai kumpulan hubungan yang berdampak pada mutu pertumbuhan bagi anggotanya sebagai diri pribadi yang utuh dan mengatas namakan Tuhan Yesus dalam persekutuan tersebut.


8. D.D Campbell Wyckoff
            Menurut Campbell ada beberapa dasar teologis Pendidikan Agama Kristen,antara lain:
a.       Kebudayaan
            Perkembangan kebudayaanmencakup cara masyarakat memperoleh keuntungan dalam kehidupannya.Didalamnya terwujud pula cara masyarakat menentukan tatanan hidup bersama.Akhirnya,kebudayaan itu terdiri atas nilai-nilai yang diterima masyarakat dan sarana yang dipakainya untuk mengejawantahkan nilai-nilai tersebut.[10]


b.      Pendidikan,Pengemban Kebudayaan
            Pendidikan Agama Kristen mencakup cara yang dikembangkan dalam masyarakat untuk memperkenalkan setiap angkatan baru pada nilai-nilai khusus yang memberikan arti dasariah pada kebudayaan.Lagi pula,pendidikan agama itu adalah cara yang manfaatkan masyarakat untuk membawa setiap angkatan baru pada hubungan langsung dan dinamis dengan kekuatan yang mengendalikan kehidupannya.Akhirnya,pendidikan agama menolong angkatan baru untuk semakin memahami dan menghargai pokok-pokok ajaran yang menjelaskan makna kehidupan dan sejarah masyarakatnya.
c.       Kebudayaan,Teologi Kristen dan Pendidikan Agama Kristen
            Pendidikan Agama Kristen melayani kehidupan orang yang ditebus,yakni kehidupan yang dijadikan baru oleh Allah yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya,menyatakan diri sejelas mungkin dalam Yesus Kristus dan yang senantiasa membimbingnya dengan Roh kudus.Jadi,sifat yang paling khas dari pendidikan agama kristen ialah bahwa ia mencakup pelayanan Firman,dan Firman yang Allah sabdakan kepada manusia.


9. A.H.Shelton Smith[11]
            Smith mengemukakan pendapatnya mengenai dasar teologis pendidikan agama kristen,diantaranya:
a.       Kerajaan Allah
            Pada dasarnya,pemikir pendidikan agama meredakan ketegangan antara kedua gagasan utama pokok Kerajaan Allah.Pertama,Kerajaan itu berakar didalam keadaan baru yang diploklamasikan Yesus.Kedua,Kerajaan itu bersifat transenden,artinya Kerajaan itu tidak dikaitkan secara total dengan lembaga apa pun yang didirikan oleh manusia.         
b.      Manusia
            Banyak pandangan terhadap Allah yang menista  martabat manusia,tetapi kesaksian khususnya dari nabi-nabi Israel kuno dan Yesus sendiri,memperkaya nilai-nilai manusia secara pribadi.
c.       Yesus Kristus,Penyataan Allah
            Asuahan Kristen yang bermakna harus berakar iman yang teguh,yang menolak sifat sementara dan proses mendidik yang tampak dalam teori dan praktek pendidikan Dewey.Dibalik asuhan Kristen terdapat iman yang lebih mendalam dari pada kepercayaan pada nilai-nilai yang senantiasa bertumbuh.Oleh karena itu,hendaklah guru kristen memberikan/membagikan iman kepada anak dengan keyakinan bahwa dalam kristus Allah telah menyiapkan firman yang berlaku secara abdi kepada manusia.
d.      Gereja
            Jelaslah bahwa segi dari gereja dan segi sosialnya yang melampaui perkara sosial itu,perlu diakui dalam permasalahan apa pun tentang permunculan persekutuan Kristen.Kristen mengidentifikasi gereja sebagai kelompok sosial ideal apa pun.


10. Harrison S.Elliott
            Menurutnya ada beberapa dasar teologis Pendidikan Agama Kristen,diantaranya:
a.       Allah
            Bagaimanapun juga interpretasi manusia tentang Allah,pengejawantahan dan sumber-Nya tampak dalam jagat raya ini:....sumber-sumber ini hanya tersedia bagi manusia sejauh mana ia menemukan persyaratan yang berlaku untuk memperolehnya;...manusia bebas pula menolak sumber-sumber tersebut,atau sebaliknya memenuhi persyaratan yang akan membuka suber tersebut bagi penggunaannya.
b.      Penyataan
            Yang penting ialah supaya pikiran manusia tidak membatasi Allah hanya pada hubungan tertentu saja dalam kehidupan; sebenarnya kenyataan yang senantiasa.Ada itu yang kita namakan Allah,dan Dialah yang mendasari segala upaya manusia.Dengannya setiap bagian kehidupan dijadikan menjadi sesuatu yang suci,karena Ia senantiasa berhubungan dengan kekuatan dan kemungkinan yang ajaib dan penuh misteri.
c.       Tabiat Manusia
            Sejak lahir,seorang bayi tidak berdosa dan juga tidak suci murni atau dapat dikatakan tabiatnya netral.Kepribadian dan wataknya ditentukan oleh sifat keadaan sosialnya,yakni bahwa kepribadian manusia adalah hasil hubungan sosialnya.
d.      Masalah Dosa
            Kenyataan dosa dalam hidup manusia perlu dihubungkan dengan cara kelakuan dan tindakan itu berdampak terhadap kehidupan sesamanya manusia.Berdasarkan persekutuan-persekutuan itu orang-orang siap memecahkan masalah-masalah di dunia ini.Mereka diharapkan memprakarsai tindakan,mengambil keputusan,menerima pertanggungjawaban,tetapi semua itu dilakukan dalam hubungan dengan Allah.

         
IV.Daftar Pustaka
______,The Gospel and Christian Education,Philadelphia:Westminster,1959
Boehike.Robert R.Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek dari Plato sampai         lg.Loyola,Jakarta: BPK Gunung Mulia,1994
Boehlke.Robert R,Sejarah Perkembangan Pikiran & Praktek PAK dari Yohanes Amos      Comenius Sampai Perkembangan PAK di Indonesia,Jakarta :BPK-GM,1997
Bowan James,”Introduction”,hlm.8,dalam Comenius,Orbis Pictus
Comenius John Amos,The Labyrinth of  The World and Paradise of the       Heart,Amerika;Chicago,1942
Froebel Friedrich,The Educution of Man,terj.W.N.Hailmann,New York:D.Appleton and    Company,1910
Haroutunian Joseph,Introduction,dalam         Calvin:Commentaries,Philadelphia:Westminster,1985
Loyola Ignatius,Powers of Imagining,terj.Antonio T.de Nicolas,New York:Albany,1986
Pestalozzi, “Evening Hours of a Hermit”,dalam Significant Contributions,hlm.25-26
Plato,Laws,The Great Didactic,New York:Russell and Russell,1967
Smith H.Shelton,Faith and Nurture,New York: Charles Scribner’s Sons,1946


           





                [1]Robert R.Boehike.Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek dari Plato sampai lg.Loyola,(Jakarta: BPK Gunung Mulia),1994,321-330
[2] Joseph Haroutunian,Introduction,dalam Calvin:Commentaries,(Philadelphia:Westminster,1985),35
[3] John Amos Comenius,The Labyrinth of  The World and Paradise of the Heart,(Amerika;Chicago,1942)
[4] Plato,Laws,The Great Didactic,(New York:Russell and Russell,1967),3
[5] James Bowan,”Introduction”,hlm.8,dalam Comenius,Orbis Pictus
[6] Pestalozzi, “Evening Hours of a Hermit”,dalam Significant Contributions,hlm.25-26
[7] Friedrich Froebel,The Educution of Man,terj.W.N.Hailmann,(New York:D.Appleton and Company,1910),1-2
[8] Ignatius Loyola,Powers of Imagining,terj.Antonio T.de Nicolas,(New York:Albany,1986),327
                [9]Robert R.Boehlke,Sejarah Perkembangan Pikiran & Praktek PAK dari Yohanes Amos Comenius Sampai Perkembangan PAK di Indonesia,(Jakarta :BPK-GM,1997),714-720
                [10] ______,The Gospel and Christian Education,(Philadelphia:Westminster,1959),14
                [11] H.Shelton Smith,Faith and Nurture,(New York: Charles Scribner’s Sons,1946)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar