ALIRAN-ALIRAN
PENDIDIKAN
I. Pendahuluan
Pendidikan
merupakan suatu proses yang kegiatannya membimbing orang agar mampu
mengembangkan dan menyiapkan diri guna mengambil tempat semestinya dalam
pengembangan masyarakat dan dunianya dihadapan sang pencipta.[1]
Sehingga melalui pendidikan manusia akan dibekali moral dan nilai-nilai
kemasyarakatan. Sebenarnya masih banyak sekali peranan-peranan pendidikan bagi manusia.
Nah, untuk itu pada kesempatan ini kita akan membahas bagaimana sebenarnya
peranan pendidikan jika dilihat melalui aliran-aliran yang ada pada pendidikan
tersebut. Apakah pendidikan memiliki peranan atau malah sebaliknya, yang tidak
sama sekali memiliki peranan dalam membentuk manusia.
II. Pembahasan
2.1. Pengertian Aliran
Aliran diartikan sebagai sesuatu
yang mengalir, namun aliran yang dimaksud disini merupakan pendapat, paham dan
andangan hidup.[2]
2.2. Pengertian Pendidikan
Pendidikan
merupakan kebutuhan esensial manusia yang menyentuh kerangka otak atau dapat
juga dikatakan suatu proses berpikir tentang pengetahuan, pemahaman, skill, etika
dan sebagainya, yang aktivitasnya menuju suatu proses transmition. Transmition sering
disebut sebagai pepindahan sesuatu (pengetahuan, pemahaman, skill, etika) dari
pikiran seseorang ke pikiran orang lain. Pendidikan tidak akan berlangsung
tanpa adanya proses transmitif, sehingga guru harus mempunyai something dimana murid tidak memilikinya dan pendidik adalah fasilitas untuk belajar.
Istilah
pendidikan dalam bahasa Inggris disebut dengan “Education” dengan kata dasar Educate(mendidik
atau membimbing).[3]
Kata Education juga berhubungan
dengan bahasa Latin yaitu Educare (e = keluar dan ducare = mengangkat atau memimpin.[4]
Jadi, Education adalah mengangkat keluar dengan cara mendidik anak.
Secara Etimologi pendidikan berarti Pedagogie yang berasal dari kata Yunani “paedos”, yang berarti anak dan “agogos” artinya mengantar atau
membimbing.[5]Jadi
Paeogogie adalah suatu usaha yang
kegiatannya membimbing atau mengarahkan anak. Dalam proses Paeogogie hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat
mengarahkan, serta pengalaman guru dialihkan ke pihak murid. Sehingga gurulah
yang menentukan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses
pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dengan demikian
peran gurulah yang lebih menonjol dalam paeogogie
dan murid belum memiliki cara pikir yang kreatif.
Dari Istilah bahasa Yunani
pendidikan berarti Andragogie yang
terdiri atas dua kata “Andr” berarti
orang dewasa dan “agogos” yang
berarti memimpin atau membimbing.Jadi, Andragogie
adalah membimbing dan membantu orang dewasa untuk belajar.[6] Dalam
Andragogie hubungan itu bersifat
timbal-balik dan saling membantu, serta pengalaman yang dimiliki seorang
pelajar dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Sehingga anak
didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri
dan guru hanya sebagai fasitator. Dengan demikian anak didik disini telah
memiliki cara pikir yang keatif dan aktif.
2.3. Jenis-jenis Aliran
pendidikan
1. Aliran Nativisme
Aliran nativisme
(aliran pembawaan) dipelopori oleh Schopenhauer. Aliran ini berkeyakinan bahwa
anak yang baru lahir membawa bakat, kesanggupan dan sifat-sifat tertentu dari
orang tuanya. Pendidikan dan lingkungan tidak berpengaruh sama sekali dan tidak
berkusa dalam menentukan perkembangan seseorang. Jadi, dapat dikatakan bahwa
perkembangan manusia dalam hidup bermasyarakat itu tergantung kepada pembawaan,
sehingga pengaruh luar sangat sedikit sekali dan bahkan hampir tidak ada. Orang
menjadi ali agama, pelukis, guru dan lain-lainnya itu semua semata-mata faktor
karena pembawaan, bukan karena pengaruh lingkungan atau pendidikan.[7]
Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka kemungkinan besar anaknya juga akan ahli
musik.
Namun,
apabila dipandang dari segi ilmu pendidikan hal itu tidak dapat dibenarkan, karena
jika benar segala sesuatu tergantung pada dasar, jadi pengaruh lingkungan dan
pendidikan dianggap tidak ada, maka konsekuensinya harus kita tutup saja semua
sekolah, sebab sekolah toh tidak mampu mengubah anak. Akan tetapi hal yang
demikian justru bertentangan dengan kenyataan yang kita hadapi, karena sudah
sejak zaman dahulu hingga sekarang orang berusaha mendidik generasi muda,
karena pendidikan itu perlu dan bahkan harus dilakukan. Jadi, konsepsi
nativisme itu tidak dapat dipertahankan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.[8]
Aliran
empirisme ini juga dapat dianggap sebagai aliran yang pesimistis, karena
menerima kepribadian sebagaimana adanya, tanpa ada kepercayaan adanya terhadap
pendidikan untuk merubahnya[9]
2.
Aliran Empirisme
Aliran
Empirisme merupakan aliran yang menganggap bahwa manusia semata-mata ditentukan
oleh dunia luar. Sedangkan pengaruh-pengaruh dari dalam (faktor keturunan)
dianggapnya tidak ada. Aliran ini dipelopori oleh John Locke, dengan teorinya
Tabularasa. Ia mengangggap bahwa seorang anak yang baru lahir ibarat kertas
putih dan lingkungan itulah yang menulisinya.[10]
Namun
apakah aliran empirisme ini memang tahan diuji? Jika sekiranya konsepsi ini
memang benar, maka kita dapat menciptakan manusia yang ideal sebagaimana kita
cita-citakan asalkan kita dapat menyediakan kondisi-kondisi yang diperlukan
untuk itu. Tetapi kenyataan yang kita jumpai menunjukkan hal yang berbeda
daripada yang digambarkan itu. Banyak anak-anak orang kaya yang mengecewakan
orang tuanya karena tidak berhasil di dalam belajar, walaupun
fasilitas-fasilitas bagi mereka sangat luas, sebaliknya banyak juga orang yang
kurang mampu berhasil dalam belajar, walaupun fasilitas mereka perlukan sangat
jauh dari mencukupi. Jadi, aliran empirisme ini juga tidak tahan uji dan tidak
dapat dipertahankan.[11]
3.
Aliran Konvergensi
Konvergensi
berasal dari kata Convergenti yang artinya, penyatuan hasil atau kerjasama
untuk mencapai satu hasil. Aliran ini merupakan kombinasi antara aliran
Nativisme dan Empirisme. Aliran ini mengatakan bahwa pertumbuhan dan
perkembangan manusia itu tergantung pada dua faktor, yakni faktor
bakat/pembawaan dan faktor lingkungan, pengalaman/pendidikan.
William
Stern, pelopor aliran ini mengatakan bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dibawa
lahir itu adalah petunjuk-petunjuk nasib. Namun, tenaga-tenaga dari luar dapat
menolong tetapi bukanlah ia yang menyebabkan pertumbuhan itu, karena ini
datangnya dari dalam yang mengandung
dasar keaktifan dan tenaga pendorong. Sebagai contoh, anak dalam tahun pertama
belajar mengoceh, kemudian baru bercakap-cakap. Ia meniru suara-suara yang
didengarnya dari ibunya dan dari orang-orang sekitarnya. Bakat dan dorongan itu
tidak dapat berkembang, jika tidak ada bantuan dari luar yang membantunya.
Dalam hal ini, jika tidak ada suara-suara atau kata-kata yang didengarnya, maka
tidak mungkin anak tersebut bercakap- cakap.
Teori
ini digambarkan sebagai bakat, dorongan hasil, tujuan, pengalaman, lingkungan
dan pendidikan. Aliran ini mempunyai dasar yang kuat dari pada teori-teori yang
lain, karena dalam kenyataannya kedua faktor itu memang tidak bisa diabaikan.
Namun, aliran ini juga mempunyai kelemahan.[12]
4.
Aliran Behaviorisme
Aliran ini merupakan aliran ilmu jiwa di Amerika.
Pelopor aliran ini ialah: William James, Thorndike, dan Waston.
Ciri-ciri aliran
Behaviorisme
1. Aliran
ini mempelajari perbuatan menusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya
mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan.
Pengalaman-pengalaman batin di kesampingkan dan hanya perubahan pada badan saja
yang dipelajari. Maka sering dikatakan bahwa behaviorisme adalah ilmu jiwa
tanpa jiwa.
2. Semua
perbuatan dikembalikan pada reflek. Behaviorisme mencari unsur-unsur yang
paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran yang dinamakan
reflek.
3. Behaviorisme
berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Menurut aliran
ini pendidikan adalah maha kuasa. Manusia hanya makhluk yang berkembang karena
kebiasaan-kebiasaan dan pendidikan dapat mempengaruhinya.[13]
5.
Aliran Progressivisme
Aliran ini
berkeyakinan bahwa manusia mempunyai kesanggupan-kesanggupan untuk
mengendalikan hubungannya dengan alam, sanggup meresapi rahasia-rahasia alam
dan menguasainya. Namun, disisi lain ada kesangsian bahwa apakah manusia dapat
belajar bagaimana mempergunakan kesanggupan itu. Tetapi meskipun demikian
Progressivisme bersikap optimis, tetap percaya bahwa manusia dapat menguasai
seluruh lingkungannya, lingkungan alam dan lingkungan sosial.
Maka
tugas pendidikan menurut pragmatisme ialah meneliti sejelasnya kesanggupan -kesanggupan
manusia itu dan menguji kesanggupan-kesanggupan itu dalam pekerjaan praktis . Yang
dimaksud disini ialah bahwa manusia hendaknya mempekerjakan ide-ide atau
pikiran-pikirannya. Istilah progressivisme dalam bagian ini akan dipakai dalam
hubungannya dengan pendidikan dan menunjukkan sekelompok keyakinan-keyakinan
yang tersusun secara harmonis dan sisitematis dalam hal mendidik. Keyakinan
yang didasarkan pada sekelompok keyakinan-keyakinan filsafat yang lazim disebut
orang pragmatisme,instrumentalisme dan eksperimentalisme.
Dewey
berpendapat bahwa tujuan umum pendidikan ialah menjadikan warga masyarakat yang
demokratis, isi pendidikan lebih mengutamakan bidang bidang studi seperti: IPA,
Sejarah, Keterampilan, serta hal-hal yang berguna atau langsung dirasakan oleh
masyarakat. Metode scientific lebih dipentingkan dan bukan metode memorisasi
seperti pada aliran esensialisme. Praktek kerja di laboratorium, di bengkel, di
kebun (lapangan) merupakan kegiatan yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya
“learning by doing” Progressivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang
diberikan secara terpisah, melainkan harus diusahakan terintegrasi dalam unit, karena
perubahan yang selalu terjadi maka diperlukan fleksibilitas dalam
pelaksanaannya dalam arti tidak kaku,tidak menghindar dari perubahan, tidak
terikat oleh doktrin tertentu bersifat ingin tahu, toleran, dan berpandangan
luas serta terbuka.[14]
6.
Aliran Essensialisme
Tujuan
utama aliran essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan
akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal
yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi essensialisme
semacam miniatur dunia yang bisa dijadiakan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran
dan keagungan.[15]
Bagi
essensialisme, pendidikan yang berpijak pada dasarnya itu mudah goyah dan
kurang terarah karena itu essensialisme memandang bahwa pendidikan harus
berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga
memberikan kestabilan dan arah yang jelas. Essensialisme didasari atas
pandangan tumanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian,
ilmiah dan metrialistik. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari
paham penganut aliran idealisme dan realisme. Ada beberapa beberapa tokoh utama
yang berperan dalam peyebaran aliran essensialisme, yaitu:
1. Johhnn Amos Comenius(1592-1670)
Comenius
berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan membentuk anak sesuai dengan
kehendak tuhan, karena pada hakekatnya dunia adalah dinamis dan bertujuan.
2. John Locke(1692-1704)
Ia
berpendapat bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi.
3. Johann Henrich
Pestalozzi(1746-1852)
Pestalozzi
mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada
manusia,sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampan wajarnya. Selain
itu, ia mempunyai keyakinan bahwa manusia juga mempunyai hubungan trasendental
langsung dengan Tuhan.
4. Johann Friederich Frobel(1782-1852)
Frobel berkeyakinan bahwa manusia
adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini, sehingga
manusia harus tunduk dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum alam. Terhadap
pendidikan Frobel memandang anak sebagai makhluk yang berekspresi kreatif, yang
dalam tingkah lakunya akan nampak adanya kualitas metafisis. Jadi tugas
pendidikan ada diri sendiri yang murni selaras dengan fitrah kejadiannya.
Melalui
organisasi ini pandangan-pandangan esensialisme dikembangkan dalam dunia
pendidikan pandangan yang dipengaruhi oleh paham idelisme dan realisme, maka
konsep-konsepnya tentang pendidikan sedikit banyak ikut diwarnai oleh konsep-konsep
idealisme dan realisme. Tujuan umum aliran essensialisme adalah membentuk
pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu
pengetahuan,kesenian dan segala yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum
sekolah bagi esensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan
sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam sejarah
perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum seperti
pola idealisme, realisme dan sebagainya. Sehingga peranan sekolah dalam
menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan
kenyataan sosial yang ada di masyarakat.[16]
7.
Aliran Perennialisme
Aliran
perennialisme mengandung kepercayaan fisafat yang berpegang pada nilai- nilai dan
norma-norma yang bersufat jejak abadi. Perennialisme melihat bahwa akibat dari
kehidupan zaman modern telah menimbulkan banyak krisis diberbagai bidang
kehidupan umat manusia. Untuk mengatasi krisis ini perennialisme memberikan
jalan keluar berupa “kembali kepada kebudayaan masa lampau “regressive road to
culture”. Oleh sebab itu perennialisme memandang penting peranan pendidikan
dalam proses memgablikan keadaan manusia zaman modern ini kepada kebudayaan
masa lampau yang dianggap cukup ideal dan yang telah terpuji ketangguhannya. Sikap
kembali pada masa lampau bukanlah berarti nostalgia sikap yang membanggakan
kesuksesan dan memulihkan kepercayaan pada nilai-nilai asasi abad silam yang
diperlukan dalam kehidupan abad modern.
Prinsip-prinsip perennialisme
Menurut
plato, manusia secara kodrati memliki tiga potensi yaitu:nafsu, kemauan dan
pikiran. Pendidikan hendaknya beorientasi pada potensi itu dan kepada
masyarakat,agar supaya kebutuhan yang da pada setiap lapisan masyarakat bisa
terpenuhi. Ide-ide plato itu dikembangkan oleh aristoteles dengan lebih
mendekatkan kepada dunia kenyataan.Bagi aristoteles tujuan pendidikan adalah
kebahagiaan. Untuk mencapai tujuan pendidikan itu,maka aspek jasmani, emosi, dan
intelek harus dikembangkan secara seimbang.
Menurut
Thomas Aqunias, tujuan pendidikan adalah sebagai usaha mewujudkan kapasitas
yang ada dalam individu agar menjadi aktulisasi aktif dan nyata. Dalam hal ini
peranan guru adalah mengajar memberi bantuan pada anak didik untuk
mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. Prinsip-prinsip pendidikan
perenialisme tersebut perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan
modren, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan
tinggi dan pendidikan orang dewasa.[17]
8.
Aliran Rekonstruksionalisme
Pada
dasarnya aliran rekonstruksionalisme adalah sepaham dengan aliran perennialisme
dalam hendak mengatasi krisis kehidupan modern, hanya saja jalan yang
ditempuhnya berbeda dengan apa yang dipakai oleh perennialisme, tetapi sesuai dengan
istilah yang dikandungnya, yaitu tentang tujuan utama dan tertinggi dalam
kehidupan manusia. Untuk mencapai tujuan itu, rekonstruksionalsme berusaha
mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata
kehidupan manusia dalam suatu tatanan baru seluruh lingkungannya. Maka melalui
lembaga dan proses pendidikan, rekonstruksionalisme ingin merombak susunan yang
lama, dan membangun susunan hidup kebudayaan yang baru.
Dalam
rangka mewujudkan cita-cita pendidikan yang dimaksud ini, diperlukan adanya
kerja sama semua bangsa-bangsa. Para penganut aliran rekonstruksionalisme
berkeyakinan bahwa bangsa-bangsa di dunia memppunyai hasrat yang sama untuk
menciptakan satu dunia baru, dengan satu kebudayaan baru di bawahsatu
kedaulatan dunia, dalam pengawasan mayoritas umat manusia.[18]
9.
Aliran Eksistensialisme
Aliran
eksistensialisme biasanya dialamatkan sebagai salah satu reaksi dari sebagian
terbesar reaksi terhadap peradaban manusia yang hampir punah akibat perang
dunia kedua. Dengan demikian eksistensialisme pada hakikatnya merupakan aliran
filsafat yang bertujuan mengembalikan kebenaran umat manusia sesuai dengan
keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya.
Kierkegaard mengatakan bahwa eksistensialisme adalah suatu
penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah.
Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional. Dengan demikian
aliran ini hendak memadukanhidup yang dimiliki dengan pengalaman, dan situasi
sejarah yang dialami, dan tidak mau
terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak dan spekulatif. Baginya segala
sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan
kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya.
Van Cleve Morris berpendapat bahwa eksistensialisme tidak
menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk. Olewh karena
itu, eksistensialisme dalam hal ini menolak bentuk-bentuk pendidikan
sebagaimana yang ada sekarang. Namun bagaimana konsep pendidikan
eksistensialisme menurut morris sebagai Existentialisme’s
concept of freedom in education.[19]
III.
Kesimpulan
Dari beberapa
pemaparan diatas, saya sebagai penyaji menyimpulkan bahwa aliran-aliran
pendidikan itu memiliki ciri-ciri atau cara pandang yang berbeda terhadap
faktor yang mempengaruhi perubahan-perubahan manusia. Namun, dari setiap aliran
tersebut memiliki kelemahan satu sama lain, sehingga dari kelemahan tersebut
bisa dijadikan sebagai pemersatu atau saling memperlengkapi satu sama lain.
Dengan demikian kita dapat melihat bagaimana sebenarnya proses pembentukan
manusia tersebut apakah di pengaruhi oleh faktor keturunan atau faktor
lingkungan/pendidikan, atau bahkan faktor keduanya.
IV.
Daftar Pustaka
-----,
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,2007
-------,
Pengantar Dasar-dasar Kependidikan,
Surabaya: Usaha Nasional, 1988
AhmadAbu
i, Ilmu Pendidikan , Jakarta: PT.
RINEKA CIPTA, 2013
Brajonegoro, Pengantar Umum Pendidikan,
Jakarta:Hksara Baru,1988
Ismail
Andar,Selamat Ribut Rukun,
Jakarta:BPK-GM,1993
Jalaluddin, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997
Mardiatmaadja B.S, Tantangan Dunia Pendidikan, Yogyakarta:Kanisius,1986
Suprijanto
H, Pendidikan Orang Dewasa,
Jakarta:Bumi Aksara,200
Suryabrata
Sumadi, Psikologi Pendidikan,
Yogyakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, 2013
Syah
Muhibbin, Psikologi Pendidikan,
Bandung:Remaja Rasda Karya,1995