KHALAYAK
I.
Pendahuluan
Komunikasi
merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena
tidak ada manusia yang tidak melakukan komunikasi. Dan dalam komunikasi ada
seorang komunikator, pesan, media/saluran, penerima, dan efek. Semua
unsur-unsur tersebut saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain. Namun,
pada kesempatan kali ini kami penyaji akan membahas tentang penerima pesan/khalayak
dalam komunikasi. Dengan demikian, dalam proses komunikasi atau dalam
penyampaian pesan terhadap khalayak bisa semakin mudah apabila kita telah
mengetahui hal-hal yang penting yang berkaitan denagan khalayak. Semoga sajian
ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
II.
Pembahasan
2.1.
Pengertian Khalayak
Khalayak
bisa disebut dengan istilah penerima, sasaran, pembaca, pendengar, pemirsa,
audience, decoder atau komunikan. Khalayak adalah salah satu aktor dari proses komunikasi.
Karena itu unsur khalayak tidak boleh diabaikan, sebab berhasil tidaknya suatu poroses komunikasi sangat
ditentukan oleh khalayak. Khalayak dalam studi komunikasi bisa berupa individu,
kelompok, dan masyarakat.[1] Dalam
hal ini komunikator berperan untuk mengetahui siapa yang akan menjadi
khalayaknya sebelum proses komunikasi berlangsung. Pendekatan dengan khalayak
dimulai dengan suatu anggapan bahwa khalayak adalah sasaran yang hendak
dicapai.[2]
2.2.
Karakteristik Khalayak
Ada
beberapa yang menjadi karakteristik khalayak diantaranya:
a. Khalayak sebagai penggarap
informasi
Pada
dasarnya proses pengelolahan informasi yang terjadi pihak penerima
(khalayak) bersifat “selektif”. Pihak
penerima pesan pada saat berhadapan dengan “bentuk informasi” tertentu akan
melakukan “decoding” (pemecahan atau penginterpretasikan kode). Akhirnya, tidak
semua isi informasi akan diserap oleh si penerima secara utuh. Artinya, satu
atau beberapa bagian dari isi pesan itu tidak akan dicerna atau diolah karena
tidak masuk dalam kerangka pengetahuan dan pengalaman hidupnya, atau karena
dipandang tidak sesuai dengan keperluan, minat, dan keinginannya. Beberapa
studi menunjukkan bahwa, tingkat pendidikan seseorang secara signifikan turut
mempengaruhi derajat pengolahan informasi yang sampai kepada dirinya. Orang
yang latar belakang pendidikannya relative ‘tinggi’, di samping tinggi rasa
ingin tahunya tentang sesuatu, juga cenderung lebih kritis, selektif, dan
banyak pertimbangan dibandingkan dengan orang yang latar belakang pendidikannya
lebih rendah.
b. Khalayak sebagai “Problem
Solver”
Khalayak
jelas tidak terlepas dari permasalahan kehidupan yang mereka hadapi. Mereka
juga akan selalu berupaya mencari cara-cara pemecahannya. Dari pihak penerima pesan (khalayak), salah
satu fungsi yang diharapkan dari penyebaran informasi melalui media massa
adalah , bahwa informasi tersebut mampu membantu memecahkan permasalahan yang
dihadapi. Dengan demikian informasi atau pesan yang dipandang tidak membantu
mereka dalam memecahkan permasalahan atau malah mungkin menambah
kesulitan/permaslahan baru, jelas tidak akan mendapat perahtian mereka.
c. Khalayak Sebagai Mediator
Pada dasarnya proses penyebaran
informasi tidak berhenti pada khalayak sasaran secara langsung sebagai barisan
pertama. Proses penyebaran komuniaksi yang demikain lazim disebut sebagai
“multi-step flow of communication”.
d. Khalayak Yang Mencari Pembela
Pada suatu waktu seseorang dapat
mengalami krisis keyakinan dan diliputi rasa ketidakpastian. Hal ini bisa
terjadi karena adanya sesuatu yang baru yang mempengaruhi keyakinan, atau
karena faktor-faktor yang lainnya. Dalam keadaan demikian orang tersebut akan
berupaya mencari data dan informasi yang dipandang bisa mendukung atau membela
keyakinannya.
Motivasi mencari informasi yang diharapkan akan dapat menjadi “pembela” keyakinan merupakan salah satu factor yang mendorong terjadinya seleksi media. Dengan perkataa n lain, seseorang memilih stu medium tertentu dengan alasan bahwa informasi yang diperoleh dari medium tersebut mampu mendukung atau mempekuat keyakianannya. Dengan perkataan lain, seseorang memilih satu medium tertentu dengan alasan bahwa informasi yang diperoleh dari medium tersebut mampu mendukung atau memperkuat keyakinannya.
Motivasi mencari informasi yang diharapkan akan dapat menjadi “pembela” keyakinan merupakan salah satu factor yang mendorong terjadinya seleksi media. Dengan perkataa n lain, seseorang memilih stu medium tertentu dengan alasan bahwa informasi yang diperoleh dari medium tersebut mampu mendukung atau mempekuat keyakianannya. Dengan perkataan lain, seseorang memilih satu medium tertentu dengan alasan bahwa informasi yang diperoleh dari medium tersebut mampu mendukung atau memperkuat keyakinannya.
e. Khalayak Sebagai Anggota
Kelompok
Sebagai mahluk sosial, seorang
individu juga terikat oleh nilai-nilai kelompok yang diikutinya, baik secara
formal maupun informal.
f. Khalayak Sebagai Kelompok
Secara sosiologis masyarakat
terdiri dari kelompok-kelompok orang yang mempunyai ciri-ciri tertentu.
Ciri-ciri bisa menyangkut cirri demografis seperti jenis kelamin, usia,
pekerjaan, sukubangsa, dan bisa juga brdasarkan cirri-ciri nondemografis
seperti nilai, hobi, orientasi, dan lain-lain.Cara berbicara dengan kalangan
orang tua tentunya berbeda dengan kalangan anak muda. Kaitannya dengan proses
penyebaran informasi melalui media massa adalah, bahwa diperlukan adanya
“segmentasi” khalayak. Melalui segmentasi ini khalayak dipandang sebagai suatu
kelompok yang secara relative mempunyai ciri-ciri yang tidak terlalu beragam.
Dengan demikian, penyajian pesan/ informasi dengan sendirinya akan disesuaikan
dengan kondisi dan karakteristik dari kelompok khalayak.
g. Selera Khalayak
Dalam kaitannya dengan media
massa seperti surat kabar dan majalah, selera khalayak ini bisa menyangkut
aspek-aspek jenis isi informasi, (misalnya informasi politik, ekonomi, sosial,
budaya), teknik penyajian (bentuk huruf, lay out), atau bentuk/formatnya (surat
kabar, majalah, tabloid, sheet). Agar penyampaian informasi mencapai
sasarannya, terlebih dahulu perlu diketahui apa dan bagaimana selera dari calon
sasaran khalayak yang akan dituju. Selera khalayak ini bisa juga berubah-ubah.[3]
2.3.
Aspek-Aspek Yang Perlu Diketahui Komunikator Menyangkut Khalayak
Ada
tiga aspek yang perlu diketahui seorang komunikator menyangkut khalayaknya, yakni
aspek sosiodemografik, aspek profil psikologis, dan aspek karakteristik
perilaku khalayak.
1. Aspek Sosiodemografik
Dalam aspek ini komunikator perlu
memahami hal-hal sebagai berikut.
1.
Jenis kelamin, apakah khalayak itu mayoritas laki-laki atau wanita.
2.
Usia, apakah khalayak umumnya anak-anak, remaja atau orang tua.
3.
Populasi, apakah jumlah khalayak yang ada kurang dari 10 orang atau llebih dari
50 orang.
4.
Lokasi, apakah khalayak unmumnya tinggal di desa atau di kota.
5.
Tingkat pendidikan, apakah mereka rata-rata sarjana atau hanya tamatan
sekolah dasar.
6.
Bahasa, apakah mereka bisa mengerti bahasa Indonesia atau tidak.
7.
Agama, apakah semuanya beragama Islam atau ada yang beragama lain.
8.
Pekerjaan, apakah mereka umumnya petani, nelayan, guru atau pengusaha.
9.
Ideologi, apakah mereka umumnya anggota partai tertentu atau tidak.
10.
Pemikiran media, apakah mereka rata-rata memiliki pesawat TV, berlangsung surat
kabar atau tidak.
2. Aspek Profil Psikologis
Dalam aspek ini komunikator memahami
khalayak dari segi kejiwaan, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.
Emosi, apakah mereka rata-rata memiliki temperamen mudah tersinggung, sabar
atau periang.
2.
Bagaimana pendapat-pendapat mereka.
3.
Adakah keinginan mereka yang perlu dipenuhi?
4.
Adakah selama ini mereka menyimpan rasa kecewa, flustrasi atau dendam?
3. Aspek Karakteristik Perilaku
Khalayak
Dalam aspek ini ada beberapa hal yang
perlu diketahui komunikator, diantaranya:
1. Hobi, apakah mereka umumnya suka
olahraga, menyanyi atau pelesiran.
2. Nilai dan norma, hal-hal apa
yang menjadi tabu bagi mereka.
3. Mobilitas sosial, apakah mereka
umumnya suka berpergian atau tidak?
4. Perilaku komunikasi, apakah
kebisaan mereka suka berterus terang atau tidak[4]
2.4.
Selektivitas Pesan Pada Khalayak
Ada
beberapa macam selektivitas pesan yang bisa terjadi pada setiap khalayak,
diantaranya:
1.
Selective Perception
Selektive
Perception maksudnya bahwa penerima memberi arti pesan menurut
presepsinya. Persepsi ialah proses dimana seorang menyadari adanya objek yang
menyentuh salah satu pancaindranya, apakah itu mata atau telinga. Persepsi
terbentuk karena adanya rangsangan yang terorganisasi kemudian diberi
interpretasi menurut pengalaman, budaya, dan tingkat pengetahuannya.
2.
Selective Exposure
Selective
Exposure maksudnya, orang cenderung memilih informasi
berdasarkan liputan yang disenanginya. Pilihan terhadap informasi bisa menurut ideologi,
agama, suku, dan pekerjaan. Misalnya karena ia bekerja sebagai seorang polisi,
maka ia lebih banyak memberi perhatian pada berita-berita kriminal yang dimuat
dalam surat kabar daripada berita lainnya.
3.
Selective Retention
Selective
Retention merupakan pemilihan informasi yang memberi kesan
tersendiri pada penerima. Misalnya penerima memberi perhatian yang serius pada
tayangan parawisata negeri Belanda, karena mengingatkan penerima pada
pengalamannya ketika sekolah di negeri kincir itu.[5]
2.5.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Khalayak Untuk Menerima Pesan
Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi khalayak untuk menerima pesan (ide),
diantaranya:
1.
Adanya kepentingan ganda yang dapat diperoleh kedua belah pihak, yakni antara
sumber dan penerima (overlapping of
interest)
2.
Pesan itu memberi pemecahan masalah pada masalah yang dihadapi oleh khalayak (problem
solving).
3.
Khalayak percaya komunikator yang menyampaikan pesan itu memiliki kompetensi
dan kredibilitas yang penting.
4.
Khalayak percaya bahwa pesan itu dapat membuat perubahan sebagaimana yang
diinginkan
oleh khalayak.
Namun
Brent D. Ruben menyimpulkan bahwa khalayak menerima suatu pesan bukan saja
ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga oleh semua komponen yang mendukung
terjadinya komunikasi. Sehingga, menurutnya ada beberapa faktor yang
mempengaruhi penerimaan informasi, diantaranya:
1. Penerima;
a.
Keterampilan berkomunikasi
b.
Kebutuhan
c.
Tujuan yang diinginkan
d.
Sikap, nilai, kepercayaan, dan kebiasaan-kebiasaan
e.
Kemamapuan untuk menerima
g.
Kegunaan pesan
2.
Pesan;
a. Tipe dan model pesan
b. Karakteristik dan fungsi pesan
c. Struktur pengelolaan pesan
d. Kebaharuan (aktualitas) pesan
3. Sumber;
a. Kredibilitas dan kompetensi dalam bidang yang
disampaikan
b. Kedekatan dengan penerima
c. Motivasi dan perhatian
d. Kesamaan dengan penerima (homophily)
e. Cara penyamapaiannya
f. Daya tarik
4. Media;
a.
Tersedianya media
b. Kehandalan (daya liput) media
c.
Kebiasaan menggunakan media
d.
Tempat dan situasi[6]
2.6.
Perspektif tentang khalayak (audience)
Melvin
De Fleur dan Sandra Ball-Rokeach (1988) mengkaji interaksi audience dan
bagaimana tindakan audiens terhadap isi media. Mereka menyajikan tiga
perspektif yang menjelaskan kajian tersebut. Ketiga perspektif itu adalah
sebagai berikut:
1. Individual
Differences Perspective
Perspektif
perbedaan individual memandang bahwa sikap dan organisasi personal-psikologis
individu akan menentukan bagaimana individu memilih memilih stimuli dari
lingkungan, dan bagaimana ia memberi makna pada stimuli tersebut. Berdasarkan
ide dasar dari stimulus-response, perspektif ini beranggapan bahwa tidak
ada audiens yang relatif sama, makanya pengaruh media massa pada masing-masing
individu berbeda dan tergantung pada kondisi psikologi individu itu yang
berasal dari pengalaman masa lalunya. Dengan kata lain, masing-masing individu
anggota audiens bertindak menanggapi pesan yang disiarkan media secara berbeda,
hal ini menyebabkan mereka juga menggunakan atau merespon pesan secara berbeda pula.
Dalam diri individu audiens terdapat apa yang disebut konsep
diri, konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi -mempengaruhi kepada
pesan apa kita bersedia membuka diri, bagaimana kita mempersepsi pesan itu, dan
apa yang kita ingat. Dengan kata lain, konsep diri mempengaruhi terpaan
selektif, persepsi selektif, ingatan selektif.
2. Social Categories Perspective
Perspektif ini
melihat di dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial yang didasarkan
pada karakteristik umum seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, pendapatan,
keyakinan beragama, tempat tinggal, dan sebagainya. Masing-masing kelompok
sosial itu memberi kecenderungan anggota-anggotanya mempunyai kesamaan norma
sosial, nilai, dan sikap. Dari kesamaan itu mereka akan mereaksi
secara sama pada pesan khusus yang diterimanya.
Berdasarkan perspektif ini, pemilihan dan penafsiran isi oleh
audiens dipengaruhi oleh pendapat dan kepentingan yang ada dan oleh
norma-norma kelompok sosial. Dalam konsep audiens sebagai pasar dan
sebagai pembaca, perspektif ini melahirkan segmentasi. Contoh: Anak-anak
membaca Bobo, Yunior, Ananda. Ibu-ibu membaca Kartini, Sarinah, Femina. Kaum
Islam membaca Sabili, Hidayah.
3. Social Relation Perspective
Persektif
ini menyatakan bahwa hubungan secara informal mempengaruhi audiens dalam
merespon pesan media massa. Dampak komunikasi massa yang diberikan diubah
secara signifikan oleh individu-individu yang mempunyai kekuatan
hubungan sosial dengan anggota audiens. Tentunya perspektif ini
eksis pada proses komunikasi massa dua tahap, dan atau multi tahap.[7]
2.7. Klasifikasi Khalayak Sasaran
Media Massa[8]

Berdasarkan
bagan tersebut terlihat bahwa mulai dari tingkat individu sampai tingkat
khalayak massa:
1. Pada tingkat individu
Perlu
pertimbangan tentang: (i) kebutuhan, keinginan, masalah, situasi, dan isu; (ii)
hambatan untuk memperoleh kebutuhan dan merealisasikan keinginan; (iii)
keterlibatan proses perolehan.
2. Pada tingkat publik dan komuniti
Perlu
diperhatikan tentang keadaan pasar “versus” kebutuhan dan keinginan publik;
(ii) kategori kelompok yang mulai mengadopsi apa yang ditawarkan.
3. Pada tingkat kategori psikografis,
gaya hidup dan subbudaya
Perlu
memperhatikan: (i) hubungan-hubungan sosial yang tejadi diantara anggota suatu publik atau komunitas
khusus, (ii) keadaan psikografis dan gaya hidup dan (iii) subbudaya yang
berlaku diantara mereka dan hubungannya dengan inovasi
4. Pada tingkat geodemografis dan
kategori sosial lebih diutamakan pada kategori sosial selain berdasarkan asas
demografis juga memperhatikan geografis tempat sasaran menetap.
5. Akhirnya sedikit demi sedikit kita
meraih suatu sasaran khalayak massa yang lebih besar.
2.8.
Khalayak Massa
Sifat-sifat
dari khalayak massa, diantaranya:
1. Terdiri dari jumlah yang besar.
Pendengar radio, televisi, atau pembaca koran adalah massa dalam jumlah yang
besar. Dan sulit untuk memperediksi jumlah mereka.
2. Suatu pemberitaan media massa dapat
ditangkap oleh masyarakat dari berbagai tempat, sehingga sifat audience massa
juga ada tersebar dimana-mana, terpencar, dan tidak menelompok pada wilayah
tertentu.
3. Pada mulanya audiensi masa tidak
interaktif, artinya antara media massa dan pendengar atau pemirsanya tidak
saling berhubungan, namun saat ini konsep mulai ditinggal, karena audien massa
dan media massa dapat berintraksi satu dengan lainnya melalui komunikasi
telepon.
4. Terdiri atas berbagai lapisan
masyarakat yang sangat heterogen dan sulit dikelompokkan.
5. Tidak terorganisir dan bergerak
sendiri.[9]
III.
Kesimpulan
Dari
pemaparan diatas kami sebagai penyaji menyimpulkan bahwa khalayak adalah
penerima, sasaran, pembaca, pendengar, pemirsa, audience, decoder atau
komunikan. Khalayak merupakan salah satu aktor dari proses komunikasi. Karena
itu unsur khalayak tidak boleh diabaikan, sebab berhasil tidaknya suatu poroses komunikasi sangat
ditentukan oleh khalayak. Adapun yang menjadi karakteistik dari khalayak yaitu khalayak
sebagai penggarap informasi, khalayak sebagai “problem Solver”, khalayak
Sebagai Mediator, khalayak yang mencari pembela, khalayak sebagai anggota
kelompok, khalayak sebagai kelompok, dan selera khalayak. Sehingga ada beberapa
faktor yang mempengaruhi khalayak dalam penerimaan pesan yaitu penerimanya itu
sendiri, pesan, sumber, dan media.
IV.
Daftar Pustaka
Buangin Burhan, Sosiologi Komunikasi,
Jakarta: KENCANA, 2006
Cangara Hafied, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada,2007
http://belajar-komunikasi.blogspot.co.id/2011/02/psikologi-khalayak.html
Liliweri Alo, Garta-Garta
Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001
Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa, Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 2007
[1] Hafied
Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2007), 157
[2] Alo
Liliweri, Garta-Garta Komunikasi
Antarbudaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), 302
[3]
http://belajar-komunikasi.blogspot.co.id/2011/02/psikologi-khalayak.html
[4] Hafied
Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2007), 157-159
[5] Hafied
Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2007), 161-162
[6] Hafied
Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,2007), 171-173
[7] Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa, (Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 2007), 106-108
[8] Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa, (Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 2007), 304-306
[9] Burhan
Buangin, Sosiologi Komunikasi, (
Jakarta: KENCANA, 2006), 75-77
Tidak ada komentar:
Posting Komentar