Nama : Tuah Ginting
Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan
PERMASALAHAN PENDIDIKAN
I.
PENDAHULUAN
Pendidikan
dalam kehidupan manusia pada masa kini sangatlah penting dimana pendidikan
suatu jalan untuk mencapai tujuan, Pendidikan berlangsung selama hidup, dan
di dalam pendidikan diharapkan adanya perubahan dan perkembangan yang baik.
Dalam
penyelenggaraan pendidikan baik di sekolah, di keluarga maupun di masyarakat, akan ada permasalahan yang akan dihadapi agar tujuan dalam
pendidikan tercapai. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai permasalahan dalam pendidikan. Semoga pembahasan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
II.
PEMBAHASAN
2.1
Permasalahan
Permasalahan menurut Prayitno adalah sesuatu yang tidak disukai, yang
menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan orang lain serta perlu dihilangkan.[1]
2.2
Pendidikan
a.
Istilah Pendidikan
merupakan terjemahan dari “education”
(bahasa inggris). Kata “education”
berasal dari bahasa latin “decure” yang berarti membimbing. Jadi arti dasar dari
Pendidikan adalah suatu tindakan membimbing.[2]
b.
Istilah Pendidikan
yaitu “Pedagogi” yang berarti
Pendidikan dan “Pedagogia” yang
artinya Ilmu Pendidikan. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “Pedagogia” (Paedos dan Agoge) yang
berarti “saya membimbing, memimpin anak”. Berdasarkan asal kata tersebut, maka
pendidikan memiliki pengertian “seorang yang tugasnya membimbing anak di dalam
pertumbuhannya kepada arah berdiri sendiri serta bertanggung jawab”.[3]
c.
Istilah Pendidikan
yaitu “andragogi” yang berarti
Pendidikan orang dewasa. Dilakukan dalam bentuk pengarahan diri untuk bertanya
dan mencari jawaban. Pendidikan orang dewasa dirumuskan sebagai proses yang
menumbuhkan keinginan untuk bertanya dan belajar secara berkesinambungan
sepanjang hidup.[4]
d.
Pendidikan adalah
proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, karakter,
khususnya lewat persekolahan formal (Menurut Webster’s New World Dictionary).[5]
2.3
Permasalahan Pendidikan
1.
Permasalahan Kurikulum
Sebagaimana
diketahui bahwa kondisi masyarakat Indonesia sangat heterogen dengan berbagai
macam keragamannya, seperti budaya, adat, suku, sumber daya alam, dan bahkan
sumber daya manusianya. Masing-masing daerah mempunyai kesiapan dan kemampuan
yang berbeda dalam pelaksanaan pendidikan. Permasalahan pendidikan selama ini
diarahkan pada kurangnya kepercayaan pemerintah pada daerah untuk menata sistem
pendidikannya yang sesuai dengan kondisi objektif di daerahnya. Situasi ini
memacu terciptanya pengangguran lulusan akibat tidak relevannya kurikulum
dengan kondisi daerah.
Kurikulum
adalah keseluruhan program, fasilitas, dan kegiatan suatu lembaga pendidikan
atau pelatihan untuk mewujudkan visi dan misi lembaganya. Oleh karena itu,
pelaksanaan kurikulum untuk menunjang keberhasilan sebuah lembaga pendidikan
harus ditunjang hal-hal sebagai berikut:
a.
Tersedianya tenaga
pengajar (guru) yang kompeten.
b.
Tersedianya fasilitas
fisik atau fasilitas belajar yang memadai dan menyenangkan.
c.
Tersedianya fasilitas
bantu untuk proses belajar-mengajar.
d.
Adanya tenaga penunjang
pendidkan, seperti tenaga administrasi, pembimbing, pustakawan, laboran.
e.
Tersedianya dana yang
memadai.
f.
Manajemen yang efektif
dan efesien.
g.
Terpeliharanya
budayanya yang menunjang, seperti nilai-nilai religious, moral, dan kebangsaan.
h.
Kepemimpinan pendidikan
yang visioner, transparan, dan akuntabel.[6]
2.
Permasalahan Sumber
Daya Manusia (SDM)
Sumber
daya manusia merupakan pilar yang paling utama dalam melakukan implementasi
pendidikan. Banyak kekhuwatiran dalam bidang kesiapan SDM ini, di antaranya
belum terpenuhinya lapangan kerja dengan kemampuan sumber daya manusia yang ada.
Penataan
SDM yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keahliannya
menyebabkan pelaksanaan pendidikan tidak profesional.
Banyak tenaga kependidikan yang latar belakang pendidikannya tidak relevan
ditempatkan di dunia kerja yang ditekuninya.[7]
Permasalahan Siswa
Permasalahan
ini terdiri dari dua bentuk,yakni:
1.
Permasalahan yang timbul dari dalam diri siswa (Internal)
a.
Gangguan secara
fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan
pancaindra, cacat tubuh, serta penyakit menahun (alergi, asma, dan sebagainya).
b.
Ketidakseimbangan
mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti kurangnya kemampuan
mental dan taraf kecerdasan.
c.
Kelemahan
emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri, tercekam
rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.
d.
Kelemahan yang
disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat
terhadap pelajaran sekolah, malas belajar, dan sering bolos dalam pelajaran.[8]
2. Permasalahan yang timbul dari luar diri siswa
(Eksternal)
Ada
2 bentuk lingkungan permasalahan secara eksternal, yakni:
Sekolah,
antara lain:
·
Sifat kurikulum
yang kurang fleksibel
·
Terlalu berat beban
belajar siswa dan guru yang mengajar
·
Metode mengajar
yang kurang memadai
·
Kurangnya alat dan
sumber untuk kegiatan belajar
Keluarga
(rumah), antara lain:
·
Keluarga tidak utuh
atau kurang harmonis
·
Sikap orang tua
yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
·
Keadaan ekonomi.[9]
Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru juga amat memprihatinkan, ebanyakan guru belum
memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya seprti
merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian
dan melakukan pengabdian masyarakat.
Kendala secara kuantitas jumlah guru di Indonesia cukup
memadai, namun secara kualitas mutu guru di negara ini, pada umumnya masih rendah.
Secara umum, para guru di Indonesia kurang bisa memerankan fungsinya dengan
optimal, karena pemerintah masih kurang memperhatikan mereka, khususnya dalam
upaya meningkatkan profesionalismenya. Secara kuantitatif, sebenarnya jumlah
guru di Indonesia relatif tidak terlalu buruk. Meskipun demikian, dalam hal
distribusi guru ternyata banyak mengandung kelemahan yakni pada satu sisi ada daerah atau sekolah yang kelebihan
jumlah guru, dan di sisi lain ada daerah atau sekolah yang kekurangan guru.
Dalam banyak kasus, ada sekolah yang jumlah gurunya hanya tiga hingga empat
orang, sehingga mereka harus mengajar kelas secara paralel dan simultan.
Bila diukur dari persyaratan akademik, baik menyangkut pendidikan minimal maupun kesesuaian bidang studi
dengan pelajaran yang harus diberikan kepada anak didik, ternyata banyak guru
yang tidak memenuhi kualitas mengajar.
Keadaan seperti ini menimpa lebih dari 50 persen guru SD,
SLTP dan SMU/SMK di Indonesia sebenarnya tidak memenuhi kelayakan mengajar.
Dengan kondisi dan situasi seperti itu, diharapkan pendidikan
yang berlangsung di sekolah harus secara seimbang dapat mencerdaskan kehidupan
anak dan harus menanamkan budi pekerti kepada anak didik. “Sangat kurang tepat
bila sekolah hanya mengembangkan kecerdasan anak didik, namun mengabaikan
penanaman budi pekerti kepada para siswanya.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu
keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran
merupakan titik sentral pendidikan dan
kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan andil sangat
besar pada kualitas pendidikan yang menjadi
tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh
masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.[10]
Permasalahan
Profesionalisme Guru
Salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan
dan proses pembelajaran adalah pendidik atau guru. Betapapun kemajuan taknologi
telah menyediakan berbagai ragam alat bantu untuk meningkatkan efektifitas
proses pembelajaran, namun posisi guru tidak sepenuhnya dapat tergantikan. Itu
artinya guru merupakan variable penting bagi keberhasilan pendidikan. “Guru
memiliki peluang yang amat besar untuk mengubah kondisi seorang anak dari gelap
gulita aksara menjadi seorang yang pintar dan lancar baca tulis alfabetikal
maupun fungsional yang kemudian akhirnya ia bisa menjadi tokoh kebanggaan
komunitas dan bangsanya”. Tetapi segera ditambahkan: “guru yang demikian tentu
bukan guru sembarang guru. Ia pasti memiliki profesionalisme yang tinggi,
sehingga bisa ditiru. Guru yang
profesional harus memiliki kualifikasi dan ciri-ciri tertentu. Kualifikasi dan
ciri-ciri dimaksud adalah: (a) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat,
(b) harus berdasarkan atas kompetensi individual, (c) memiliki sistem seleksi
dan sertifikasi, (d) ada kerja sama dan kompetisi yang sehat antar sejawat, (e)
adanya kesadaran profesional yang tinggi, (f) meliki prinsip-prinsip etik (kide
etik), (g) memiliki sistem seleksi profesi, (h) adanya militansi individual,
dan (i) memiliki organisasi profesi.
Dari ciri-ciri atau karakteristik profesionalisme yang
dikemukakan di atas jelaslah bahwa guru tidak bisa datang dari mana saja tanpa
melalui sistem pendidikan profesi dan seleksi yang baik. Itu artinya pekerjaan
guru tidak bisa dijadikan sekedar sebagai usaha sambilan, atau pekerjaan
sebagai moon-lighter. Namun kenyataan dilapangan menunjukkan adanya guru
terlebih terlebih guru honorer, yang tidak berasal dari pendidikan guru, dan
mereka memasuki pekerjaan sebagai guru tanpa melalui system seleksi profesi.
Singkatnya di dunia pendidikan nasional ada banyak guru yang tidak
profesioanal. Inilah salah satu permasalahan internal yang harus menjadi
“pekerjaan rumah” bagi pendidikan nasional masa kini.[11]
3.
Permasalahan Dana,
Sarana, dan Prasarana Pendidikan
Persoalan
dana merupakan
persoalan yang paling krusial dalam perbaikan pembangunan, dan dana juga
merupakan salah satu syarat atau unsur yang sanagt menentukan penyelenggaraan
pendidikan. Dana masyarakat yang selama ini digunakan untuk membiayai
pendidikan belum optimal teralokasikan secara proporsional sesuai denagan
kemanpuan daerah. Sarana da Prasarana pendidikan sangat tergantung pengadaannya
dari pemerintah pusat dan tidak jarang mereka juga menempatkan pembangunan
pendidikan bukan berada pada skala prioritas.
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini
sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan
masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan.
Mahalnya biaya pendidikan dari Taman
Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak
memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh
sekolah.
Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini
dibutuhkan biaya Rp 500.000, sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di
atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.
Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan
pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia
pada realitasnya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana.
Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan
yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.
Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin
murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa
yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk
menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan
dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan
bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin beralih dari
tanggung jawab.
Ada
4 agenda kebijakan yang perlu mendapat perhatian serius:
a.
Besarnya anggaran
pendidikan yang dialokasikan (revenue)
b.
Aspek keadilan dalam
alokasi anggaran.
c.
Aspek efisiensi dalam
pendayaguanaan anggaran.
d.
Anggaran pendidikan dan
desentralisasi pengelolaan.[12]
Untuk sarana fisik misalnya, banyak
sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan
penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara
laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan
sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri,
tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.[13]
4.
Permasalahan Organisasi
Kelembagaan
Proses
desentralisasi kelembagaan pendidikan merupakan proses yang cukup rumit, hal
ini disebabkan oleh beberapa faktor:
a.
Desentralisasi pendidikan dengan kebijakan-kebijakan yang
factual.
b.
Desentralisasi
kelembagaan pendidikan harus mengelolah sumber dayanya dan sekaligus memanfaatkannya.
c.
Desentralisasi
kelembagaan pendidikan harus melatih tenaga kependidikan dan tenaga pengelolah
tingkat lapangan
yang profesional.
d.
Desentralisasi
kelembagaan pendidikan harus menyusun kurikulum yang tepat.
e.
Desentralisasi
kelembagaan pendidikan juga harus dapat mengelolah sistem pendidikan yang
didasarkan
pada kehidupan sosial budaya setempat.
Sebagai
gejala yang umum, jenjang
dan jenis kelembagaan pendidikan dipisah-pisah
sedemikian rupa sehingga tampak satu sama lain tidak mempunyai hubungan. Demikian
juga dengan kelembagaan pendidikan menengah tidak tampak ada hubungannya dengan
kelembagaan pendidikan dasar. Pemilahan jenis dan jenjang kelembagaan
pendidikan ini tampaknya merupakan hasil dari sistem birokrasi dan sentralisasi
pengelolaan kelembagaan pendidikan. Dengan demikian, kelmbagaan pendidikan
tampak terpisah dan eksklusif dari masyarakatnya, serta tidak mengapdi pada
kebutuhan masyarakat dan daerah.[14]
5.
Permasalahan Pembinaan
dan Koordinasi
Selama
pelaksanaan otonomi daerah, pembinaan dan koordinasi
ini semakin sulit dilaksanakan. Hal ini disebabkan oleh adanya ‘’gengsi’’
antara pejara pejabat, yang biasanya bupati/wali kota ‘’enggan’’ selalu
berkonsultasi dengan gubernur karena merasa bukan bawahan dan tidak memiliki
hubungan hierarkis. Sering kali Kepala Dinas Pendidikan Provinsi kesulitan
melakukan rapat-rapat koordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota,
sebab pada waktu bersama Bupati/Walikota juga melakukan rapat dinas.
Meskipun
desentralisasi sudah ada dalam peraturan dan regulasi otonomi daerah, tetapi
dalam kelembagaan dan sikap akademik guru, kepala sekolah dan jajaran Dinas
Pendidikan sebagai atasannya belum sinkron. Pemerintah daerah belum menunjukkan
penampilan dan cara kerja yang jelas, dan yang mereka lakukan masih pada
pemanfaatan dana, dan bukan pada ‘’academic
activityy’’.[15]
6.
Permasalahan Globalisasi
Globalisasi mengandung arti terintegrasinya kehidupan
nasional ke dalam kehidupan global. Dalam bidang ekonomi, misalnya; globalisasi
ekonomi berarti terintegrasinya ekonomi nasional ke dalam ekonomi dunia atau
global [16].
Bila dikaitkan dalam bidang pendidikan, globalisasi pendidikan berarti
terintegrasinya pendidikan nasional ke dalam pendidikan dunia. Sebegitu jauh,
globalisasi memang belum merupakan kecenderungan umum dalam bidang pendidikan.
Namun gejala kearah itu sudah mulai Nampak.
Oleh karena
itu, globalisasi saat ini sudah mulai menjadi permasalahan actual pendidikan.
Permasalahan globalisasi dalam bidang pendidikan terutama menyangkut output
pendidikan. Seperti diketahui, di era globalisasi terjadi pergeseran paradigma
tentang keunggulan suatu Negara, Keunggulam komparatif bertumpu pada kekayaan
sumber daya alam,
sementara keunggulan kompetitif bertumpu pada pemilikan sumber daya manusia
(SDM) yang berkualitas.[17]
7.
Dukungan Orang Tua
Orang tua
sering kali memaksakan kehendaknya kepada anak tanpa memberikan pilihan atau
penjelasan kenapa. Sebetulnya pendidikan yang utama itu dimulai dari keluarga
sebelum sekolah. Dukungan orang tua sangat menunjang keberhasilan sang anak.
Selain dukungan, orang tua adalah role model pertama bagi anak sebelum dia menemukan
role model lain. orang tua sering tidak sadar dan melemparkan tanggung jawab
pendidikan anak ke sekolah. Ketika anak nilainya jelak mereka tidak mencari
tahu apa yang menyebabkan dia nilainya jelek? Tapi langsung memanggil guru les
atau mengikutkan bimbingan belajar. Anak tidak pernah diajak diskusi apa
kesulitannya tapi yang ada justru dimarahi, dikatakan bodoh, nakal dan lain
sebagainya.
Setiap anak
itu unik, begitupula dengan kemampuan dia menerima pelajaran, bersosialisasi di
sekolah atau dengan temannya. Bagaimana dia menghadapi tantangan? Bagaimana dia
mengendalikan dirinya? Kalau orang tua tidak mempunyai kedekatan dengan anak
bagaimana orang tua tahu karakter anaknya. Kalau orang tua tidak pernah
berkomunikasi dengan anak bagaimana dia tahu kesulitan yang dihadapi sang anak.
Orang tua kadang juga tidak memberikan contoh kepada anaknya. Jadi dukungan
orang tua itu lebih penting karena pendidikan di sekolah saja tidak cukup tanpa
peran serta orang tua. Keberhasilan seorang bukan ditentukan oleh nilai yang
dia raih.
Bentuk-bentuk
Dukungan Orang Tua
Mengingat
tanggung jawab pendidikan anak ditanggung oleh keluarga dalam pendidikan
informalnya dan ditanggung oleh sekolah dalam pendidikan formal, maka orang tua
harus berperan dalam menanamkan sikap dan nilai hidup, pengembangan bakat dan
minat serta pembinaan bakat dan kepribadian. Selain itu, orang tua juga harus
memperhatikan sekolah anaknya, yaitu dengan memperhatikan
pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya serta harus dapat
menunjukkan kerja samanya dalam mengarahkan cara anak belajar di rumah, membuat
pekerjaan rumahnya, tidak menyita waktu anak dengan mengerjakan pekerjaan
rumah tangga, orang tua harus berusaha memotivasi dan membimbing anak dalam
belajar.
Pada dasarnya
dukungan orang tua terhadap pendidikan anaknya menyangkut empat hal pokok yaitu
1) dukungan sosial ekonomi, 2) mental/ agama, 3) moral, dan 4) pendidikan.
1)
Dukungan Sosial Ekonomi
Dukungan
sosial ekonomi ini berupa pemenuhan kebutuhan
fisik yaitu biaya pendidikan, fasilitas
belajar, alat dan buku keperluan belajar. Untuk memenuhi
kebutuhan fisik tersebut tentunya berkaitan dengan status sosial
ekonomi keluarga atau pendapatan di dalam
keluarga itu sendiri.
Sebagaimana di
kemukakan oleh Soekirno (2002: 37), menyatakan bahwa pendapatan masyarakat yang
kedudukannya sebagai tenaga kerja akan menerima gaji atau upah, pemilik alat-alat
modal akan menerima bunga, pemilik tanah dan harta tetap lain menerima sewa,
dan pemilik keahlian usahawan akan menerima keuntungan. Jadi yang mencakup
pendapatan ekonomi disini adalah segala penghasilan baik yang berupa uang atau
barang yang diterima sebagai balas jasa atau kontra prestasi.
Keluarga
yang memiliki pendapatan tinggi akan dengan
mudah memenuhi biaya kebutuhan pendidikan anak yang meliputi peralatan sekolah,
transportasi, sarana belajar dirumah, baju seragam, biaya ekstra kurikuler,
dan tidak terkecuali uang saku anak. Dan sebaliknya,
keluarga yang memiliki pendapatan rendah akan kesulitan dalam memenuhi
kebutuhan anak.
Dengan
demikian, siswa yang orang tuanya memiliki
pendapatan tinggi, semua kebutuhan yang berkaitan dengan aktivitas belajar akan
segera terpenuhi, sehingga dengan pemenuhan kebutuhan belajar tersebut
dapat menunjang tercapainya prestasi belajar yang baik yang merupakan harapan
atau cita-cita akhir dari aktivitas belajar. Dan sebaliknya jika dalam suatu
keluarga yang status ekonominya rendah akan
merasa keberatan dalam memenuhi kebutuhan belajar anaknya secara
penuh, sehingga kondisi yang seperti ini akan berdampak pada perolehan prestasi
belajar yang rendah.
2)
Dukungan Mental/ Agama
Seorang anak
yang dirumah, pasti akan mempengaruhi sikap kesiswaannya di sekolah. Anak saleh
tidak dilahirkan, tapi dibentuk dan dibina lewat pendidikan. Ilyas (1999: 176),
Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Ibu bapaknya yang berperan merobah fitrah itu menjadi (dalam bahasa Rasul)
Yahudi, Nashrani, atau Majusi.
Apabila potensi/
fitrah anak ini tidak dibina, tentunya potensi tersebut akan berkembang kearah
yang bertentangan dengan maksud Allah menciptakannya. Setiap orang tua
mempunyai kewajiban memelihara dan mengembangkan fitrah atau potensi dasar
keislaman anak tersebut hingga tumbuh dan berkembang menjadi muslim yang baik.
3)
Dukungan Moral
Dukungan moral
dari orang tua terhadap pendidikan anaknya dapat berupa perhatian terhadap
pemenuhan kebutuhan psikis yang meliputi kasih sayang, keteladanan, bimbingan
dan pengarahan, dorongan, menanamkan rasa percaya diri. Dengan
perhatian orang tua berupa pemenuhan kebutuhan tersebut diharapkan
dapat memberikan semangat belajar anak guna meraih suatu cita-cita atau
prestasi.
Berdasarkan
fenomena yang terjadi di masyarakat tidak semua orang tua atau keluarga
dapat memenuhi kebutuhan psikis tersebut karena adanya
berbagai macam susunan atau karakter dalam sebuah
keluarga.
Dari Uraian
diatas, pendidikan moral yang ditanamkan kepada anak, hasilnya adalah sesuai
dengan dimana anak itu dibesarkan. Apakah dia dibesarkan dalam keluarga yang
bersifat otoriter, demokratis, ataupun bersifat liberal. Perbedaan pola asuh
dari setiap keluarga akan berdampak pada sifat atau tingkah laku anak di
masing-masing keluarga. Hal ini merupakan hasil pola asuh dari perhatian yang
telah ditunjukkan kepada anak, sebagai contoh dalam belajar di sekolah.
4) Dukungan Pendidikan
Pendidikan yang
akan melahirkan anak kompeten adalah pendidikan yanag seimbang, yaitu
pendidikan yang memperhatikan seluruh aspek yang ada pada diri manusia berupa
hati, akal, dan fisik. Pendidikan yang mengutamakan fisik dan mengabaikan akal
dan hati akan menghasilkan manusia hayawani (bersifat seperti hewan), bila
hanya mengutamakan pikiran saja menghasilkan manusia syaithani (bersifat
seperti syetan), sedangkan bila mengutamakan hati semata tentu tidak realistik,
karena manusia tidak bisa menjadi Malaikat (Ilyas, 1999:177).
Dari pendapat di
atas, maka dukungan orang tua dalam pendidikan adalah kesadaran akan tanggung
jawab mendidik dan membina anak secara terus menerus perlu dikembangkan pada
setiap orang tua tentunya dengan bekal teori-teori pendidikan modern sesuai
dengan perkembangan zaman. Bila hal ini dilakukan oleh setiap orang tua maka
generasi mendatang akan mempunyai kekuatan mental menghadapi perubahan dalam
masyarakat.
III.
KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas kami penyaji menyimpulkan bahwa permasalahan adalah
hal yang tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Permasalahan di dalam
pendidikan sangat banyak, ada permasalahan kurikulum, permasalahan sumber daya
manusia (SDM) yang mencakup atas permasalahan pada siswa itu sendiri dan permasalahan pada sipendidik (guru) yang
kurang memiliki kualitas baik dan kurang profesionalisme dalam mendidik anak
dalam mengajar. Permasalahan dana dalam keluarga ataupun bantuan dana dari
pemerintah, sarana dan prasarana yang kurang lengkap dan memadai, dan
permasalahan organisasi kelembagaan, pembinaan, serta koordinasi dan
perkembangan globalisasi yang juga menjadi permasalahan pendidikan. Namun
permasalahan pada dukungan orang tua juga sangat penting karena apabila
dukungan yang diberiakn orang tua kurang baik atau tidak memadai, maka anak
akan kurang bersemangat dalam belajar dan sebaliknya apabila dukungan orang tua
yang baik terhadap anak maka anak itu akan dapat menerima pendidikan dengan
baik.
IV.
DAFTAR
PUSTAKA
Gordon, Thomas, Guru yang Efektif, Jakarta:Raja Grafindo
Persada, 1996
GP, Harianto, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab &
Dunia Pendidikan Masa Kini, Yogyakarta: ANDI, 2012
Hamiyah, Nur, Strategi Belajar Mengajar Di Kelas,
Jakarta: Pustakaraya, 2014
Hasbullah, Otonomi Pendidikan,
Jakarta: Rajagrafindo
Persada, 2006
Kasan, Tholib, Dasar-Dasar Pendidikan, Jakarta Timur:
Studia Press, 2009
Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid:
Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental,
Bandung: Mizan, 2001
Mansour, Fakih, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi,
Yogyakarta: Insist Press dan Pustaka Pelajar, 2000
Nuhamara, Daniel, Pembimbing PAK, Jakarta: Jurnal Info
Media, 2007
Sagala, Syaiful, Etika & Moralitas Pendidikan Peluang dan
Tantangan, Jakarta: Kencana, 2013
Suyanto, Dinamika Pendidikan Nasional
(Dalam Percanturan Dunia Global), Jakarta: PSAP Muhammadiyah, 2006
[2] Daniel Nuhamara, Pembimbing PAK, (Jakarta: Jurnal Info
Media, 2007), 8
[3] Tholib Kasan, Dasar-Dasar Pendidikan, (Jakarta Timur:
Studia Press, 2009), 7
[4] Harianto GP, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab &
Dunia Pendidikan Masa Kini, (Yogyakarta: ANDI, 2012), 83
[5] Syaiful Sagala, Etika & Moralitas Pendidikan Peluang dan
Tantangan, (Jakarta: Kencana, 2013), 42
[11] Suyanto, Dinamika
Pendidikan Nasional (Dalam Percanturan Dunia Global), (Jakarta:PSAP
Muhammadiyah, 2006), 27-28
[16] Fakih Mansour, Runtuhnya
Teori Pembangunan dan Globalisasi, (Yogyakarta: Insist Press dan Pustaka
Pelajar, 2000), 182
[17] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama,
Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental,
(Bandung:Mizan, 2001), 122
Tidak ada komentar:
Posting Komentar