AGAMA
DAN KEBATINAN
I. Pendahuluan
Pada
umunya manusia pasti memiliki agama dan kebatinan. Agama sangat bermanfaat
untuk menjaga kentraman masyarakat, karena agama mengajarkan banyak hal tentang
bagaimana seharusnya manusia di mata Pencipta dan sesamanya manusia. Dan
kebatinan sangat berkaitan dengan manusia, karena setiap manusia pasti memilki
batin. untuk itu, agar pemahaman kita tentang agama dan kebatinan semakin
bertambah, saya sebagai penyaji akan memaparkan beberapa hal yang penting
tentang agama dan kebatinan tersebut.
II. Pembahasan
2.1. Agama
2.1.1. Asal Mula Agama[1]
Dalam
kitab kejadian kita dapat menemukan pernyataan yang mutlak, yaitu bahwa agama
tidak diciptakan, dikembangkan atau ditemukan oleh manusia. Sejak manusia
diciptakan, manusia mengenal “satu” Allah pencipta, dan sejak kejatuhan manusia
ke dalam dosa, manusia memuja Allah yang satu itu dengan korban
persembahan. Menurut mereka, jelas bahwa
monotheisme dan persembahan binatang
sebagai korban sembelihan merupakan dua ciri khas agama asali. Allah adalah
Allah, manusia berdosa tidak dapat menghampiri Allah dengan kebenaran dirinya.
Namun
jawaban lain menolak pandangan diatas. Jawaban itu berpangkal pada pendapat
bahwa manusia merupakan perkembangan dari mahluk silam dimana binatang tidak
beragama. Golongan ini berpendapat bahwa melalui peningkatan yang
berangsur-angsur dan berabad-abad lamanya, rasa kuatir mereka terhadap
kegelapan yang tidak terselidiki, mencapai tahap “Animatisme”. Sebagaimana disebut oleh Bouquet, “suatu kepercayaan
terhadap kekuatan yang kabur, atau kekuatan tak terduga yang mengerikan”. Animatisme berkembang menjadi animisme (kepercayaan kepada roh-roh),
yang terdapat pada banyak masyarakat yang terpencil. Kemudian timbul politheisme yang diabdikan dalam
mitologi Yunani.
2.1.2. Pengertian Agama
Kata “Agama” berasal dari bahasa Sanskerta,
agama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini
adalah religi yang berasal dari bahasa latin “Religio” dan berakar pada kata
kerja “re-ligare” yang berarti “mengingat kembali”. Maksudnya dengan bereligi,
seseorang akan mengingatkan dirinya kepada Tuhan.[2]
Ada beberapa pengertian agama menurut tokoh sarjana Eropa, diantaranya:
1. E. B. Taylor,
berpendapat bahwa agama adalah suatu kepercayaan kepada hal-hal yang
gaib/rohani yang tak kelihatan.
2. J. G. Frazer,
berpendapat bahwa agama adalah suatu ketaatan atau penyerahan diri kepada
kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, yang dipercaya mengatur dan
mengontrol, mengatur jalan alam dan kehidupan tentang manusia.
3. J. Herman Randall,
berpendapat bahwa agama merupakan hasil karya agung dari peradaban manusia.
Susah payah diperoleh manusia berabad-abad lamanya. Mereka berusaha untuk
mendapatkan tata cara hidup yang sempurna dan murni.
4. Sigmund Freud,
berpendapat bahwa agama adalah proyeksi dan gambaran dari sebuah perasaan atau
pikiran yang tak menentu.[3]
2.1.3.
Dasar dan Makna Agama
Dasar
agama adalah ke-Esaan-Pencipta, keabadian roh cinta kepada sesamanya, mengatur
hubungan antara manusia satu sama lainnya dengan dasar keadilan dan kebaikan.
Kemudian harus mempercayai akan adanya balasan baik dan buruk di alam akhirat
nanti.
Makna beragama
secara umum ialah tunduk dan merendahkan diri terhadap sesuatu yang berkenaan
dengan kepercayaan yang merupakan suatu kekuatan yang bersumber kepada satu
sumber yang mutlak.[4]
2.1.4.
Agama-agama di Indonesia
Departemen Agama
mengakui 6 macam agama dan kepercayaan, yaitu agama Islam, agama Katolik, agama Protestan, agama Hindu, agama
Budha dan agama Konghucu.[5]
2.1.5.
Fungsi Agama Dalam Kehidupan Masyarakat
Ada beberapa fungsi agama dalam masyarakat,
antara lain:
1. Berfungsi Edukatif
Para
penganut agama berpendapat bahwa ajaran agama yang mereka anut memberikan
ajaran-ajaran yang harus dipatuhi (baik menyuruh maupun melarang).
2. Berfungsi penyelamatan
Keselamatan
yang diberikan oleh agama kepada penganutnya adalah keselamatan yang meliputi
dua alam yaitu: dunia dan akhirat.
3. Berfungsi sebagai pendamaian
Melalui
agama seseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin
melalui tuntutan agama.
4.
Berfungsi sebagai social control
Para
penganut agama sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya terikat batin kepada
tuntutan ajaran tersebut, baik secara pribadi maupun secara kelompok. Ajaarn
agama oleh penganutnya dianggap sebagai norma, sehingga dalam hal ini agama dapat berfungsi sebagai pengawasan sosial.
5. Berfungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas
Para
penganut agama yang sama secara psikologis akan merasa memilki kesamaan dalam
satu kesatuan: Iman dan kepercayaan.
6. Berfungsi transformatif
Ajaran
agama dapat mengubah kehidupan kepribadian seseorang atau kelompok menjadi
kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
7. Berfungsi kreatif
Ajaran
agama mendorong dan mengajak para penganutnya untuk produktif bukan saja untuk
kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain.
8. Berfungsi sublimatif
Segala
usaha manusia selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama, bila
dilakukan atas niat yang tulus, karena dan untuk Allah merupakan ibadah.[6]
2.2.
Kebatinan
2.2.1.
Pengertian Kebatinan
Istilah
kebatian berasal dari kata “batin”
yang artinya bagian dalam tubuh manusia. Sehingga kebatinan dapat diartikan
sebagai ilmu yang berusaha mempelajari arti yang ada dalam tubuh manusia dan
tersembunyi di dalam kitab suci. Menurut Djojodigoeno, merumuskan bahwa
kebatian itu mempunyai empat unsur yaitu ilmu
ghaib, union mistik, sangkan paranging dumadi dan budi luhur. Sedangkan
Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) merumuskan kebatinan sebagai sumber
asas dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa untuk mencapai budi luhur guna
kesempurnaan hidup.[7]
2.2.2.
Ciri-ciri Kebatinan
Ada beberapa ciri-ciri Kebatinan,
antara lain:
1.
Tidak terdapatnya tugas yang positif terhadap dunia ini, melainkan untuk
melepaskan dirinya dari dunia ini.
2.
Tuhan dipandang sebagai zat mutlak, artinya Tuhan menjadi sumber segala
sesuatu.
3.
Penjadian lebih dipandang sebagai emansi (pengaliran
keluar), yang menyebabkan kurang jelasnya batas-batas diantara khalik dengan mahkluk.
4.
Menurut kebatinan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan jiwa/inti
sari manusia. Jiwa/inti sari manusia dipandang berasal dari pada Allah.
5.
Dalam kebatinan ada kelepasan, yakni berupa kelepasan yang terdiri dari
pembebasan jiwa penjaranya, serta dikembalikannya kepada asalnya.
6.
Aliran kebatian bersifat dualitas, artinya pendirian yang mengajarkan bahwa
badan dan jiwa, beda dan roh, mewujudkan dua hal yang saling bertentangan,
tanpa dapat dipersatukan, seperti halnya dengan kutub positif dan negatif di
dalam magnet. Kedua hal itu dapat dihubungkan apabila ada suatu penengah.
Penengah ini didapat dari badan halus/ jiwa.[8]
2.2.3. Tujuan Hidup Menurut
Kebatinan
Adapun
yang menjadi tujuan hidup menurut kebatian yaitu untuk mengajarkan para pengikutnya
agar hidup dengan baik, berusaha mencapai budi luhur, taat kepada negara dan
lain sebagainya. Dengan demikian ia dapat memperbaiki hidupnya sendiri,
sehingga akhirnya ia mencapai kelepasan.[9]
2.2.4.
Aliran Kebatinan[10]
1. Aliran Panguyuban Sumarah
Ajaran/aliran
Sumarah disebut juga dengan ilmu Sumarah. Menurut Dr. Soerono, ilmu
Sumarah adalah suatu ilmu kebatinan dengan jalan sujud sumarah (menyerahkan diri) dan mempelajari sampai tercapai
bersatunya jiwa dengan Dhat Yang Maha Esa.
Tujuan Panguyuban Sumarah adalah untuk mencapai ketentraman lahir batin, dengan
usaha : 1) memberi tuntunan kepada anggotanya untuk melaksanakan “sesanggeman” (tugas, kesanggupan), 2)
ikut serta menegakkan negara menuju dunia yang damai, 3) membimbing keutamaan
kehidupan lahir anggotanya dalam masyarakat.
Pokok
ajaran Panguyuban Sumarah adalah sujud, yang
dikalangan ini diterangkan sebagai “persekutuan
dengan Tuhan”. Orang harus melatih diri untuk bersujud hingga mencapai
sujud sumarah, yaitu persekutuan dengan Tuhan dengan menyerah. Orang dikatakan
sudah mencapai sujud sumarah, jika ia
sudah berhasil mempersatukan angan-angan, rasa, dan budi.
Ada
beberapa yang menjadi ciri khas ajaran sumarah, yakni:
1. Ajaran Sumarah Tentang Tuhan
Sudah dikemukakan di atas, bahwa Panguyuban Sumarah termasuk aliran
kebatinan yang sederhana, suatu tempat latihan sujud atau persekutuan dengan
Tuhan. Di dalamnya tidak ada ajaran yang panjang lebar tentang Allah. Namun,
Tuhan Allah ada dan diterima tanpa mengadakan pembicaraan tentang Dia. Tuhan
Allah disebut “ Tuhan Yang Maha Esa” atau “ Dhat
Yang Maha Esa”.
2. Ajaran Tentang Manusia
Menurut Sumarah, manusia terdiri dari : badan wadag (jasmani), badan nafsu dan jiwa atau roh. Badan nafsu berasal
dari pada Allah dengan perantara iblis dan akan dikembalikan kepada asalnya
juga. Ada empat nafsu, yaitu: mutma’inah (sumber
segala perbuatan yang baik dan sumber semangat mencari Allah, ammarah (sumber kemarahan), suwyyah (sifat erotis), dan lawwamah, yaitu sifat mementingkan diri
sendiri.
Jiwa atau roh adalah bagian ketiga dari
pada manusia, yang berasal dari pada Roh Suci atau dari pada Allah, dan yang
akan dikembalikan lagi kepada asalnya, jika orang mati dengan sempurna.
3. Ajaran Tentang Kelepasan
Kelepasan terdiri dari kelepasan jiwa
dari pada siskaan segala nafsunya, untuk dipersatukan kembali dengan Dhat Yang Maha Esa. Jalan kelepasan
adalah dengan sujud, yaitu pemusatan angan-angan untuk diarahkan kedalam diri
manusia sendiri dan dipalingkan dari dunia luar.
2. Aliran Sapta Darma
Sapta
Darma, yang berarti “tujuh
kewajiban” atau “tujuh amal suci”.
Seperti halnya dengan panguyuban Sumarah,
sebenarnya Sapta Darma adalah tempat
suatu latihan sujud. Hanya saja sujud bagi Sapta Darma lain arti dengan Panguyuban Sumarah. Bagi Sapta
Darma sujud memiliki arti yang asli, yaitu berlutut dan menundukkan kepala
hingga menyentuh tanah. Adapun inti sari dari Sapta Darma, yaitu:
1.
Menanam tebalnya kepercayaan dengan menunjukkan bukti-bukti serta
kesaksian-kesaksian bahwa Allah itu ada dan Esa adanya.
2.
Melatih kesempurnaan penyembahan (sujud), yaitu penyembahan rohani kepada Yang
Maha Kuasa, berusaha mencapai budi luhur, dengan cara yang mudah dan sederhana,
yang dapat dilakukan oleh semua umat.
3.
Mendidik manusia untuk bertindak suci dan jujur, berusaha menacapai nafsu, budi
pekerti yang ditujukan kepada keluhuran dan keutamaan bagi bekal hidup
kemasyarakatan di dalam dunia dan akhirat.
4.
Mengajar para anggota agar hidup dengan teratur, secara jasmani dan rohani.
5.
Melatih kesempurnaan sujud menurut aturan, agar dapat mendapatkan kewiskitan
(titik yang terang) di bidang penglihatan, pembauan, pendengaran dan
percakapan.
3. Aliran Bratakesawa
Bratakesawa
adalah seorang pensiunan wartawan, yang
berdiam di Yogyakarta. Pada tahun 1952 beliau menulis sebuah buku yang
disebut : Kunci swarga, dengan maksud
untuk turut menyumbangkan pikiran bagi pembangunan akhlak bangsa Indonesia,
yang sudah bebas dari penjajahan. Beliau bermaksud menguraikan itikad mengenai
Tuhan Yang Maha Esa, menurut salah satu faham. Menurut beliau uraiannya itu
berdasarkan dalil naqli (Kitab Tuhan)
dan dalil aqli (akal pikiran).
4. Aliran Pangestu
Pangestu adalah suatu persekutuan untuk
dapat bertunggal. Maka pangestu bertujuan untuk mengantarkan umat manusia ke
kesejahtraan abdi di Pangkuan Sang Suksma
Kawekas (Tuhan Allah) dan memperkokoh para anggotanya untuk kesejahtraan
umat manusia dan negara.
5. Aliran Paryana Suryadipura
Hal penting yang perlu kita ketahui
dalam ajaran paryana suryadipura tentang Tuhan, yaitu: Tuhan adalah Yang
Mutlak, yang dengan terang diberi arti falsafah, yaitu sebagai yang lepas dari
segala hubungan, nisbah serta sifat. Tuhan mengatasi segala pengetahuan,
artinya akal manusia tak bisa menembusnya.
Ada beberapa hal penting yang perlu kita
ketahui tentang ajaran Paryana Suryadipura tentang manusia, yakni:
a.
Manusia dipandang sebagai terdiri dari bagian tubuh yang berjasad atau tubuh
kasar dan tubuh yang tidak berjasad atau tubuh halus.
b.
Inti tubuh yang berjasad agaknya terhadap di manas atau pusat akal, dimana terdapat ego manusia yang rendah,
yang terdiri dari tenaga yang mengalir melewati pusat akal dan pusat kemauan,
dan yang setiap saat berubah karena adanya bermacam-macam arus mengalir ke
otak.
c.
Tubuh halus adalah cermin tubuh jasmani
d.
Inti tubuh halus adalah buddhi. Buddhi ini adalah bagian terpenting dari
manusia, karena buddhi adalah mahligai Tuhan, bahkan lebih dari pada itu,
buddhi adalah ketuhanan yang ada pada manusia.
e.
Manusia pada umumnya tidak mendengarkan ajakan yang datang dari buddhi, yaitu
untuk melakukan segala sesuatu bagi Tuhan, sehingga orang hanya menekan kepada
perkembangan akal saja. Dengan demikian egoisme merajalela di dunia ini.
2.3. Sisi Kebatinan
Dalam Keagamaan
Perilaku berkebatinan, termasuk
berkebatinan dalam agama, apapun agama dan kepercayaannya, baik sekali
dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak
dangkal pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan saja, tetapi materinya harus
diperhatikan dan di"filter", memiliki kebijaksanaan untuk memilih
yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian dapat menjadi pribadi
yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam, supaya tidak
mudah dibodohi, dihasut, atau bahkan diperdaya (ditunggangi / diperalat).
Kebatinan agama fokusnya kepada
jalan keagamaan. Kebatinan agama dilakukan dengan melaksanakan apa yang sudah
menjadi kewajiban dalam beragama, ditambah usahanya yang lebih untuk mendalami
detail agama dan sisi kebatinan dan spiritual dalam agama. Kebatinan agama terutama dilakukan oleh para
pemuka / tokoh agama untuk mendalami detail agama dan sisi kebatinan dan
spiritual dalam agama yang kemudian diajarkannya kepada para penganut agama
mereka yang umumnya kemudian akan menjadi ajaran resmi dalam agama mereka (juga
menjadi dogma dan doktrin).
Kebatinan dalam beragama dilakukan juga oleh orang-orang umum para penganut agama, baik dilakukan secara pribadi maupun melalui perkumpulan / komunitas keagamaan dengan cara rajin menekuni jalan kepercayaan dan mendalami pengetahuan agamanya, rajin beribadah, rajin membaca kitab suci, banyak berdoa dan tekun menjalankan perintah-perintah dalam agama. Itu akan menguatkan rasa keagamaan mereka, menjadi tidak sama lagi dengan sebelumnya yang hanya sekedar menjalankan agama sebatas kewajiban ibadah formal / rutinitas saja.
Kebatinan dalam beragama dilakukan juga oleh orang-orang umum para penganut agama, baik dilakukan secara pribadi maupun melalui perkumpulan / komunitas keagamaan dengan cara rajin menekuni jalan kepercayaan dan mendalami pengetahuan agamanya, rajin beribadah, rajin membaca kitab suci, banyak berdoa dan tekun menjalankan perintah-perintah dalam agama. Itu akan menguatkan rasa keagamaan mereka, menjadi tidak sama lagi dengan sebelumnya yang hanya sekedar menjalankan agama sebatas kewajiban ibadah formal / rutinitas saja.
Tetapi pada jaman sekarang sudah
banyak terjadi "pendangkalan". Ajaran kebatinan dalam agama sudah
digantikan dengan membaca dan menghafal ayat dan surat saja, kulitnya saja.
Keimanan juga dipandang secara dangkal, hanya diukur dari kerajinan ibadah
formal saja. Padahal manusia dinilai bukan hanya dari amal atau ibadahnya saja,
tetapi juga dari akhlaknya, sedangkan perbuatan amal dan ibadah hanya
sebagian saja dari akhlak. [11]
III.
Refleksi Teologis
Kita
sebagai orang Kristen juga dituntut untuk menggunakan indrawi kita sesuai
dengan aturan-aturan yang berasal dari Tuhan, agar kita mendapat tempat di
Surga. Seperti halnya tertulis dalam Matius 5:29-30 “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah
itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada
tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan
menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika
satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka”.
Dan manusia harus mampu mengendalikan rohnya, serta menggunakannyaa, seperti yang tertulis di 1 Korintus 12:7-11: “Tetapi
kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan
hikmat,dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata
dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan
kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang
Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat,dan kepada yang lain Ia
memberikan karunia untuk bernubuat,dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia
untuk membedakan bermacam macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia
untuk berkata-kata dengan bahasa Roh, dan kepada yang lain Ia memberikan
karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan yang memberikan
karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus,seperti yang dikehendaki-Nya.”
Dan
tidak hanya itu kita sebagai orang yang beragama juga dituntut untuk melakukan
hal-hal keagamaan yang sesuai dengan aturan-aturan dalam agama tersebut.
Seperti yang tertulis di Zakharia 8:16-17 “Inilah
hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan
laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu
gerbangmu. Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang
lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci,
demikianlah firman Tuhan.” Dalam keagamaan kita dituntut untuk saling
bertolerasi terhadap sesama kita manusia meskipun kita tidak seiman dengannya,
seperti yang tertulis di 3 Yohanes 1 : 5 ; “Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak
sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk
saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing”. Dan dalam
Efesus 4 : 32 juga tertulis bahwa ;
“Tetapi
hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling
mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
IV. Kesimpulan
Dari
beberapa pemaparan diatas kami sebagai penyaji menyimpulkan bahwa agama adalah
kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap gaib atau tak kelihatan yang
memiliki kekuatan yang tinggi. Sedangkan kebatinan merupakan ilmu yang
mempelajari sesuatu hal yang ada dalam tubuh manusia. Ada pun hubungan agama
dengan kebatinan yaitu Perilaku
berkebatinan, termasuk berkebatinan dalam agama, apapun agama dan
kepercayaannya, baik sekali dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran
yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan
saja, tetapi materinya harus diperhatikan dan di"filter", memiliki
kebijaksanaan untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga
kemudian dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan
benar dan mendalam, supaya tidak mudah dibodohi, dihasut, atau bahkan diperdaya
(ditunggangi / diperalat).
V.
Daftar Pustaka
LP3S, Agama dan Tantangan Zaman, 155
Brow
Robert, Asal Mula Agama, Bandung:
TONIS, 1986
Cahyanti
Nur, Diktat Kuliah Pendidikan Agama
Kristen, 2010
Hadikusuma
H. Hilman, Antropologi Agama, Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti, 1993
Hadiwijono
Harun, Kebatinan dan Injil, Jakarta:
BPK-GM, 1990
Jalaluddin
H, Psikologi Agma, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2002
Thalhas,
T. H. Pengantar Study Ilmu Perbandingan
Agama, Jakarta: Galura Pase, 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar