Senin, 16 Mei 2016

Agama Dan Aliran Kebatinan



AGAMA DAN KEBATINAN
I. Pendahuluan
            Pada umunya manusia pasti memiliki agama dan kebatinan. Agama sangat bermanfaat untuk menjaga kentraman masyarakat, karena agama mengajarkan banyak hal tentang bagaimana seharusnya manusia di mata Pencipta dan sesamanya manusia. Dan kebatinan sangat berkaitan dengan manusia, karena setiap manusia pasti memilki batin. untuk itu, agar pemahaman kita tentang agama dan kebatinan semakin bertambah, saya sebagai penyaji akan memaparkan beberapa hal yang penting tentang agama dan kebatinan tersebut.

II. Pembahasan
2.1. Agama
2.1.1. Asal Mula Agama[1]
               Dalam kitab kejadian kita dapat menemukan pernyataan yang mutlak, yaitu bahwa agama tidak diciptakan, dikembangkan atau ditemukan oleh manusia. Sejak manusia diciptakan, manusia mengenal “satu” Allah pencipta, dan sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia memuja Allah yang satu itu dengan korban persembahan.  Menurut mereka, jelas bahwa monotheisme dan persembahan binatang sebagai korban sembelihan merupakan dua ciri khas agama asali. Allah adalah Allah, manusia berdosa tidak dapat menghampiri Allah dengan kebenaran dirinya.
               Namun jawaban lain menolak pandangan diatas. Jawaban itu berpangkal pada pendapat bahwa manusia merupakan perkembangan dari mahluk silam dimana binatang tidak beragama. Golongan ini berpendapat bahwa melalui peningkatan yang berangsur-angsur dan berabad-abad lamanya, rasa kuatir mereka terhadap kegelapan yang tidak terselidiki, mencapai tahap “Animatisme”. Sebagaimana disebut oleh Bouquet, “suatu kepercayaan terhadap kekuatan yang kabur, atau kekuatan tak terduga yang mengerikan”. Animatisme berkembang menjadi animisme (kepercayaan kepada roh-roh), yang terdapat pada banyak masyarakat yang terpencil. Kemudian timbul politheisme yang diabdikan dalam mitologi Yunani.

2.1.2. Pengertian Agama
     Kata “Agama” berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa latin “Religio” dan berakar pada kata kerja “re-ligare” yang berarti “mengingat kembali”. Maksudnya dengan bereligi, seseorang akan mengingatkan dirinya kepada Tuhan.[2]
     Ada beberapa pengertian agama menurut tokoh  sarjana Eropa, diantaranya:
1. E. B. Taylor, berpendapat bahwa agama adalah suatu kepercayaan kepada hal-hal yang gaib/rohani yang tak kelihatan.
2. J. G. Frazer, berpendapat bahwa agama adalah suatu ketaatan atau penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, yang dipercaya mengatur dan mengontrol, mengatur jalan alam dan kehidupan tentang manusia.
3. J. Herman Randall, berpendapat bahwa agama merupakan hasil karya agung dari peradaban manusia. Susah payah diperoleh manusia berabad-abad lamanya. Mereka berusaha untuk mendapatkan tata cara hidup yang sempurna dan murni.
4. Sigmund Freud, berpendapat bahwa agama adalah proyeksi dan gambaran dari sebuah perasaan atau pikiran yang tak menentu.[3]
2.1.3. Dasar dan Makna Agama
               Dasar agama adalah ke-Esaan-Pencipta, keabadian roh cinta kepada sesamanya, mengatur hubungan antara manusia satu sama lainnya dengan dasar keadilan dan kebaikan. Kemudian harus mempercayai akan adanya balasan baik dan buruk di alam akhirat nanti.
               Makna beragama secara umum ialah tunduk dan merendahkan diri terhadap sesuatu yang berkenaan dengan kepercayaan yang merupakan suatu kekuatan yang bersumber kepada satu sumber yang mutlak.[4]

2.1.4. Agama-agama di Indonesia
               Departemen Agama  mengakui 6 macam agama dan kepercayaan, yaitu agama Islam, agama  Katolik, agama Protestan, agama Hindu, agama Budha dan agama Konghucu.[5]
2.1.5. Fungsi Agama Dalam Kehidupan Masyarakat
Ada beberapa fungsi agama dalam masyarakat, antara lain:
1. Berfungsi Edukatif
               Para penganut agama berpendapat bahwa ajaran agama yang mereka anut memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi (baik menyuruh maupun melarang).
2. Berfungsi penyelamatan
               Keselamatan yang diberikan oleh agama kepada penganutnya adalah keselamatan yang meliputi dua alam yaitu: dunia dan akhirat.
3. Berfungsi sebagai pendamaian
               Melalui agama seseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntutan agama.
4.  Berfungsi sebagai social control
               Para penganut agama sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya terikat batin kepada tuntutan ajaran tersebut, baik secara pribadi maupun secara kelompok. Ajaarn agama oleh penganutnya dianggap sebagai norma, sehingga dalam hal ini agama  dapat berfungsi sebagai pengawasan sosial.
5. Berfungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas
               Para penganut agama yang sama secara psikologis akan merasa memilki kesamaan dalam satu kesatuan: Iman  dan kepercayaan.
6. Berfungsi transformatif
               Ajaran agama dapat mengubah kehidupan kepribadian seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.
7. Berfungsi kreatif
               Ajaran agama mendorong dan mengajak para penganutnya untuk produktif bukan saja untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain.
8. Berfungsi sublimatif
               Segala usaha manusia selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama, bila dilakukan atas niat yang tulus, karena dan untuk Allah merupakan ibadah.[6]

2.2. Kebatinan
2.2.1. Pengertian Kebatinan
               Istilah kebatian berasal dari kata “batin” yang artinya bagian dalam tubuh manusia. Sehingga kebatinan dapat diartikan sebagai ilmu yang berusaha mempelajari arti yang ada dalam tubuh manusia dan tersembunyi di dalam kitab suci. Menurut Djojodigoeno, merumuskan bahwa kebatian itu mempunyai empat unsur yaitu ilmu ghaib, union mistik, sangkan paranging dumadi dan budi luhur. Sedangkan Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) merumuskan kebatinan sebagai sumber asas dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa untuk mencapai budi luhur guna kesempurnaan hidup.[7]

2.2.2. Ciri-ciri Kebatinan
               Ada beberapa ciri-ciri Kebatinan, antara lain:
1. Tidak terdapatnya tugas yang positif terhadap dunia ini, melainkan untuk melepaskan dirinya dari dunia ini.
2. Tuhan dipandang sebagai zat mutlak, artinya Tuhan menjadi sumber segala sesuatu.
3. Penjadian lebih dipandang sebagai emansi (pengaliran keluar), yang menyebabkan kurang jelasnya batas-batas diantara khalik dengan mahkluk.
4. Menurut kebatinan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan jiwa/inti sari manusia. Jiwa/inti sari manusia dipandang berasal dari pada Allah.
5. Dalam kebatinan ada kelepasan, yakni berupa kelepasan yang terdiri dari pembebasan jiwa penjaranya, serta dikembalikannya kepada asalnya.
6. Aliran kebatian bersifat dualitas, artinya pendirian yang mengajarkan bahwa badan dan jiwa, beda dan roh, mewujudkan dua hal yang saling bertentangan, tanpa dapat dipersatukan, seperti halnya dengan kutub positif dan negatif di dalam magnet. Kedua hal itu dapat dihubungkan apabila ada suatu penengah. Penengah ini didapat dari badan halus/ jiwa.[8]
2.2.3. Tujuan Hidup Menurut Kebatinan
               Adapun yang menjadi tujuan hidup menurut kebatian yaitu untuk mengajarkan para pengikutnya agar hidup dengan baik, berusaha mencapai budi luhur, taat kepada negara dan lain sebagainya. Dengan demikian ia dapat memperbaiki hidupnya sendiri, sehingga akhirnya ia mencapai kelepasan.[9]

2.2.4. Aliran Kebatinan[10]
1. Aliran Panguyuban Sumarah
               Ajaran/aliran Sumarah disebut juga dengan ilmu Sumarah. Menurut Dr. Soerono, ilmu Sumarah adalah suatu ilmu kebatinan dengan jalan sujud sumarah (menyerahkan diri) dan mempelajari sampai tercapai bersatunya jiwa dengan Dhat Yang Maha Esa. Tujuan Panguyuban Sumarah adalah untuk mencapai ketentraman lahir batin, dengan usaha : 1) memberi tuntunan kepada anggotanya untuk melaksanakan “sesanggeman” (tugas, kesanggupan), 2) ikut serta menegakkan negara menuju dunia yang damai, 3) membimbing keutamaan kehidupan lahir anggotanya dalam masyarakat.
               Pokok ajaran Panguyuban Sumarah adalah sujud, yang dikalangan ini diterangkan sebagai “persekutuan dengan Tuhan”. Orang harus melatih diri untuk bersujud hingga mencapai sujud sumarah, yaitu persekutuan dengan Tuhan dengan menyerah. Orang dikatakan sudah mencapai sujud sumarah, jika ia sudah berhasil mempersatukan angan-angan, rasa, dan budi.
Ada beberapa yang menjadi ciri khas ajaran sumarah, yakni:
1. Ajaran Sumarah Tentang Tuhan
        Sudah dikemukakan di atas, bahwa Panguyuban Sumarah termasuk aliran kebatinan yang sederhana, suatu tempat latihan sujud atau persekutuan dengan Tuhan. Di dalamnya tidak ada ajaran yang panjang lebar tentang Allah. Namun, Tuhan Allah ada dan diterima tanpa mengadakan pembicaraan tentang Dia. Tuhan Allah disebut “ Tuhan Yang Maha Esa” atau “ Dhat Yang Maha Esa”.
2. Ajaran Tentang Manusia
        Menurut Sumarah, manusia terdiri dari : badan wadag (jasmani), badan nafsu dan jiwa atau roh. Badan nafsu berasal dari pada Allah dengan perantara iblis dan akan dikembalikan kepada asalnya juga. Ada empat nafsu, yaitu: mutma’inah (sumber segala perbuatan yang baik dan sumber semangat mencari Allah, ammarah (sumber kemarahan), suwyyah (sifat erotis), dan lawwamah, yaitu sifat mementingkan diri sendiri.
        Jiwa atau roh adalah bagian ketiga dari pada manusia, yang berasal dari pada Roh Suci atau dari pada Allah, dan yang akan dikembalikan lagi kepada asalnya, jika orang mati dengan sempurna.
3. Ajaran Tentang Kelepasan
        Kelepasan terdiri dari kelepasan jiwa dari pada siskaan segala nafsunya, untuk dipersatukan kembali dengan Dhat Yang Maha Esa. Jalan kelepasan adalah dengan sujud, yaitu pemusatan angan-angan untuk diarahkan kedalam diri manusia sendiri dan dipalingkan dari dunia luar.
2. Aliran Sapta Darma
               Sapta Darma, yang berarti “tujuh kewajiban” atau “tujuh amal suci”. Seperti halnya dengan panguyuban Sumarah, sebenarnya Sapta Darma adalah tempat suatu latihan sujud. Hanya saja sujud bagi Sapta  Darma lain arti dengan Panguyuban Sumarah. Bagi  Sapta Darma sujud memiliki arti yang asli, yaitu berlutut dan menundukkan kepala hingga menyentuh tanah. Adapun inti sari dari Sapta Darma, yaitu:
1. Menanam tebalnya kepercayaan dengan menunjukkan bukti-bukti serta kesaksian-kesaksian bahwa Allah itu ada dan Esa adanya.
2. Melatih kesempurnaan penyembahan (sujud), yaitu penyembahan rohani kepada Yang Maha Kuasa, berusaha mencapai budi luhur, dengan cara yang mudah dan sederhana, yang dapat dilakukan oleh semua umat.
3. Mendidik manusia untuk bertindak suci dan jujur, berusaha menacapai nafsu, budi pekerti yang ditujukan kepada keluhuran dan keutamaan bagi bekal hidup kemasyarakatan di dalam dunia dan akhirat.
4. Mengajar para anggota agar hidup dengan teratur, secara jasmani dan rohani.
5. Melatih kesempurnaan sujud menurut aturan, agar dapat mendapatkan kewiskitan (titik yang terang) di bidang penglihatan, pembauan, pendengaran dan percakapan.
3. Aliran Bratakesawa
               Bratakesawa adalah seorang pensiunan wartawan, yang  berdiam di Yogyakarta. Pada tahun 1952 beliau menulis sebuah buku yang disebut : Kunci swarga, dengan maksud untuk turut menyumbangkan pikiran bagi pembangunan akhlak bangsa Indonesia, yang sudah bebas dari penjajahan. Beliau bermaksud menguraikan itikad mengenai Tuhan Yang Maha Esa, menurut salah satu faham. Menurut beliau uraiannya itu berdasarkan dalil naqli (Kitab Tuhan) dan dalil aqli (akal pikiran).
4. Aliran Pangestu
               Pangestu adalah suatu persekutuan untuk dapat bertunggal. Maka pangestu bertujuan untuk mengantarkan umat manusia ke kesejahtraan abdi di Pangkuan Sang Suksma Kawekas (Tuhan Allah) dan memperkokoh para anggotanya untuk kesejahtraan umat manusia dan negara.
5. Aliran Paryana Suryadipura
        Hal penting yang perlu kita ketahui dalam ajaran paryana suryadipura tentang Tuhan, yaitu: Tuhan adalah Yang Mutlak, yang dengan terang diberi arti falsafah, yaitu sebagai yang lepas dari segala hubungan, nisbah serta sifat. Tuhan mengatasi segala pengetahuan, artinya akal manusia tak bisa menembusnya.
        Ada beberapa hal penting yang perlu kita ketahui tentang ajaran Paryana Suryadipura tentang manusia, yakni:
a. Manusia dipandang sebagai terdiri dari bagian tubuh yang berjasad atau tubuh kasar dan tubuh yang tidak berjasad atau tubuh halus. 
b. Inti tubuh yang berjasad agaknya terhadap di manas atau pusat akal, dimana terdapat ego manusia yang rendah, yang terdiri dari tenaga yang mengalir melewati pusat akal dan pusat kemauan, dan yang setiap saat berubah karena adanya bermacam-macam arus mengalir ke otak.
c. Tubuh halus adalah cermin tubuh jasmani
d. Inti tubuh halus adalah buddhi. Buddhi ini adalah bagian terpenting dari manusia, karena buddhi adalah mahligai Tuhan, bahkan lebih dari pada itu, buddhi adalah ketuhanan yang ada pada manusia.
e. Manusia pada umumnya tidak mendengarkan ajakan yang datang dari buddhi, yaitu untuk melakukan segala sesuatu bagi Tuhan, sehingga orang hanya menekan kepada perkembangan akal saja. Dengan demikian egoisme merajalela di dunia ini.

2.3. Sisi Kebatinan Dalam Keagamaan
            Perilaku berkebatinan, termasuk berkebatinan dalam agama, apapun agama dan kepercayaannya, baik sekali dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan saja, tetapi materinya harus diperhatikan dan di"filter", memiliki kebijaksanaan untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam, supaya tidak mudah dibodohi, dihasut, atau bahkan diperdaya (ditunggangi / diperalat).
            Kebatinan agama fokusnya kepada jalan keagamaan. Kebatinan agama dilakukan dengan melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajiban dalam beragama, ditambah usahanya yang lebih untuk mendalami detail agama dan sisi kebatinan dan spiritual dalam agama.  Kebatinan agama terutama dilakukan oleh para pemuka / tokoh agama untuk mendalami detail agama dan sisi kebatinan dan spiritual dalam agama yang kemudian diajarkannya kepada para penganut agama mereka yang umumnya kemudian akan menjadi ajaran resmi dalam agama mereka (juga menjadi dogma dan doktrin).
            Kebatinan dalam beragama dilakukan juga oleh orang-orang umum para penganut agama, baik dilakukan secara pribadi maupun melalui perkumpulan / komunitas keagamaan dengan cara rajin menekuni jalan kepercayaan dan mendalami pengetahuan agamanya, rajin beribadah, rajin membaca kitab suci, banyak berdoa dan tekun menjalankan perintah-perintah dalam agama. Itu akan menguatkan rasa keagamaan mereka, menjadi tidak sama lagi dengan sebelumnya yang hanya sekedar menjalankan agama sebatas kewajiban ibadah formal / rutinitas saja.
            Tetapi pada jaman sekarang sudah banyak terjadi "pendangkalan". Ajaran kebatinan dalam agama sudah digantikan dengan membaca dan menghafal ayat dan surat saja, kulitnya saja. Keimanan juga dipandang secara dangkal, hanya diukur dari kerajinan ibadah formal saja. Padahal manusia dinilai bukan hanya dari amal atau ibadahnya saja, tetapi juga dari akhlaknya, sedangkan perbuatan amal dan ibadah hanya sebagian saja dari akhlak. [11]

III. Refleksi Teologis
            Kita sebagai orang Kristen juga dituntut untuk menggunakan indrawi kita sesuai dengan aturan-aturan yang berasal dari Tuhan, agar kita mendapat tempat di Surga. Seperti halnya tertulis dalam Matius 5:29-30 “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka”. Dan manusia harus mampu mengendalikan rohnya, serta menggunakannyaa,  seperti yang tertulis di 1 Korintus 12:7-11:  Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat,dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat,dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat,dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa Roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus,seperti yang dikehendaki-Nya.”
            Dan tidak hanya itu kita sebagai orang yang beragama juga dituntut untuk melakukan hal-hal keagamaan yang sesuai dengan aturan-aturan dalam agama tersebut. Seperti yang tertulis di Zakharia 8:16-17 “Inilah hal-hal yang harus kamu lakukan: Berkatalah benar seorang kepada yang lain dan laksanakanlah hukum yang benar, yang mendatangkan damai di pintu-pintu gerbangmu. Janganlah merancang kejahatan dalam hatimu seorang terhadap yang lain dan janganlah mencintai sumpah palsu. Sebab semuanya itu Kubenci, demikianlah firman Tuhan.” Dalam keagamaan kita dituntut untuk saling bertolerasi terhadap sesama kita manusia meskipun kita tidak seiman dengannya, seperti yang tertulis di 3 Yohanes 1 : 5 ; “Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing”. Dan dalam Efesus 4 : 32  juga tertulis bahwa ; “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

IV. Kesimpulan
            Dari beberapa pemaparan diatas kami sebagai penyaji menyimpulkan bahwa agama adalah kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap gaib atau tak kelihatan yang memiliki kekuatan yang tinggi. Sedangkan kebatinan merupakan ilmu yang mempelajari sesuatu hal yang ada dalam tubuh manusia. Ada pun hubungan agama dengan kebatinan yaitu Perilaku berkebatinan, termasuk berkebatinan dalam agama, apapun agama dan kepercayaannya, baik sekali dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan saja, tetapi materinya harus diperhatikan dan di"filter", memiliki kebijaksanaan untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam, supaya tidak mudah dibodohi, dihasut, atau bahkan diperdaya (ditunggangi / diperalat).

V. Daftar Pustaka
 LP3S, Agama dan Tantangan Zaman, 155
Brow Robert, Asal Mula Agama, Bandung: TONIS, 1986
Cahyanti Nur, Diktat Kuliah Pendidikan Agama Kristen, 2010
Hadikusuma H. Hilman, Antropologi Agama, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993
Hadiwijono Harun, Kebatinan dan Injil, Jakarta: BPK-GM, 1990
Jalaluddin H, Psikologi Agma, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002
Thalhas, T. H. Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta: Galura Pase, 2006


            [1] Robert Brow, Asal Mula Agama, (Bandung: TONIS, 1986), 9-10
[2] Nur Cahyanti, Diktat Kuliah Pendidikan Agama Kristen, (2010), 79
            [3] T. H. Thalhas, Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, (Jakarta: Galura Pase, 2006), 21-22
            [4] T. H. Thalhas, Pengantar Study Ilmu Perbandingan Agama, (Jakarta: Galura Pase, 2006),24
            [5]  LP3S, Agama dan Tantangan Zaman, 155
            [6] H. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), 245-247
                [7]  H. Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993), 85
                [8] Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, (Jakarta: BPK-GM, 1990), 124
                [9] Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, 124
            [10]  Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, 10-118

Tidak ada komentar:

Posting Komentar