Rabu, 27 April 2016

Pendidikan Agama Kristen Di Gereja @Tuah Gtm

Pendidikan Agama Kristen  Di Gereja
I.         Pendahuluan
            Pendidikan Agama Kristen merupakan suatu proses yang kegiatannya membimbing/mengajarkan kehidupan secara nilai-nilai kristiani dan Alkitab sebagai sumber acuannya. Sehingga bimbingan/pengajaran tersebut akan sampai pada seseorang melalui perantara, seperti perantara lingkungan. Perantara lingkungkan itu seperti Gereja, keluarga, sekolah dan lain-lain. Untuk itu, pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang  Pendidikan Agama Kristen dalam Gereja.

II.      Pembahasan
2.1.   Pengertian Pendidikan Agama Kristen
            Pendidikan Agama Kristen adalah proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan Alkitab, berpusatkan pada Kristus, dan bergantung pada kuasa Roh Kudus.[1]
            Beberapa pendapat tokoh tentang pengertian Pendidikan Agama Kristen, diantaranya:
1.      E.G.Homrighausen
     Pendidikan Agama Kristen adalah pendidikan yang memasuki persekutuan iman yang hidup dengan Tuhan sendiri dan terhisap pula pada persekutuan jemaat-Nya yang mengakui dan mempermuliakan Nama-Nya disegala waktu dan tempat.[2]
2.      Randolph Crump Miller
     Pendidikan Agama Kristen adalah proses pembimbingan setiap pribadi kedalam keputusan untuk hidup sebagai orang Kristen.[3]
            Jadi, Pendidikan Agama Kristen adalah proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan alkitab, berpusat pada Kristus dan bergantung pada Roh Kudus yang memasuki persekutuan iman yang hidup sebagai orang kristen yang mempermulikan Nama-Nya disegala tempat.

2.2.  Pengertian Gereja
            Kata Gereja berasal dari bahasa Portugis “Igreya” dan bahasa Yunani “ekklesia” yang berarti jemaat yang dipanggil keluar dari dunia menjadi milik Tuhan. Jadi, gereja adalah pesekutuan orang percaya.[4]  
            Gereja sering disebut sebagai “yang telah ditebus” atau “persekutuan Roh Kudus”.
1.    Gereja sebagai tubuh kristus
          Kiasan ini dipakai oleh Rasul Paulus untuk menunjukkan bahwa setiap orang merupakan bagian dari gereja, sedangkan Kristus adalah kepalanya (1 Kor 12:4, Rm 12:4).
2.    Gereja sebagai umat Allah
          Dalam Perjanjian Lama, kita melihat Allah yang memilih orang Yahudi sebagai bangsa pilihan-Nya. Hal ini bukan berdasarkan keistimewaan khusus dari bangsa ini, melainkan pilihan untuk tugas menjadi terang bagi orang kafir (Yeremia 11:4).
3.    Gereja sebagai persekutuan Roh Kudus
          Pada hari pentakosta (Kis 2), terciptalah gereja purba yang terus berkumpul, besekutu, saling berbagi, berpartisipasi dalam persekutuan; inilah koinonia, persekutuan orang kudus.
4.    Gereja sebagai Ekklesia
          Kata “Ekklesia” mengandung arti bahwa gereja adalah umat yang dipanggil keluar untuk menjadi umat Kristus.
5.    Gereja sebagai Perjanjian Baru
          Umat Israel di Perjanjian Lama percaya bahwa Yahwe telah memilih mereka sebagai umat-Nya; itulah gereja dari Perjanjian Lama. Kepercayaan ini diteruskan dan diambil alih oleh umat kristiani (Mark 14:24, Yer 31:31-34).[5]
                 Jadi, gereja merupakan umat yang dipanggil keluar untuk menjadi umat Kristus, dan jemaat merupakan bagian dari gereja dan Kristus sebagai kepalanya. 

2.3.  Tujuan Pendidikan Agama Kristen
1.      Memimpin murid selangkah demi selangkah kepada pengenalan yang sempurna mengenai peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam Alkitab dan pengajaran-pengajaran yang diberitakan oleh-Nya.
2.      Membimbing murid dalam cara menggunakan kebenaran-kebenaran asasi Alkitab untuk keselamatan seluruh hidupnya.
3.      Mendorong dia mempraktikkan asas-asas Alkitab, supaya membina suatu peranan Kristen yang kokoh.
4.      Meyakinkannya, supaya mengakui bahwa kebenaran-kebenaran dan asas-asas itu menunjukkan jalan untuk pemecahan masalah-masalah kesusilaan, sosial, dan politik di dunia ini.[6]
5.      Supaya ia mengambil bagian dalam kebaktian suci, baik dalam rumah tangga maupun dalam rumah gereja.
6.      Supaya memberikan kesaksian perseorangan, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sambil menaruh perhatian terhadap usaha pekabaran injil di gereja.
7.      Supaya ia hidup sebagai seseorang Kristen yang dalam segala-galanya bertanggung jawab terhadap Tuhannya.
8.      Mengambil bagian secara aktif dalam jemaat setempat.
            Jadi, Tujuan Pendidikan Agama Kristen adalah memimpin murid dalam pengenalan Alkitab  dan hidup sebagai orang Kristen yang bertanggung jawab terhadap Tuhan, serta agar mampu mengambil bagian dalam jemaat gereja dan proses penginjilan.

2.4.  Tujuan Pendidikan Agama Kristen di Gereja
1.      Menjadikan jemaat percaya dan mengenal Alkitab.
2.      Proses penemuan kebenaran firman Tuhan yang pada gilirannya jemaat mengalami pembaharuan tingkah laku dan menghidupi kebenaran.
3.      Menjadikan umat Tuhan menjadi pribadi yang bijaksana dengan menghidupi iman di dalam Kristus.
4.      Dengan pendidikan kepada jemaat diharapkan warga gereja diperlengkapi dan mengalami perubahan perbuatan menuju kesempurnaan hidup.
            Tujuan Pendidikan Agama Kristen dibagai menjadi 3 konsep yaitu: aims, goals dan objectives.
            Aims adalah tujuan pak yang diusahakan untuk mencapai akhirnya secara mutlak. Misalnya tujuan pak di dalam gereja adalah untuk menolong anggota-anggota gereja bertumbuh menuju kedewasaan Kristen.
            Goals adalah tujuan yang hendak dicapai dalam jangka waktu tertentu. Kegiatanya yang dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan, satu bulan  atau beberapa kali pertemuan.Misalnya melakukan kursus 3 bulan ini adalah untuk menolong para peserta kursus (anggota gereja) agar mampu menjelaskan makna dari pokok-pokok utama iman Kristen.
            Objectives adalah tujuan pak yang hendak dicapai dalam suatu proses belajar mengajar dalam satu kali pertemuan. Biasanya tujuan-tujuan seperti ini dirumuskan sebagai pernyataan-pernyataan spesifik yakni mengenai apa yang diharapkan dapat tercapai dalam suatu proses belajar di dalam satu pertemuan.
            Jadi, tujuan utama PAK di Gereja adalah untuk membimbing warga gereja agar percaya dan mengenal Alkitab, pembaharuan tingkah laku, menjadi pribadi yang bijaksana dalam Kristus yang menuju kesempurnaan hidup. Sehingga memperlengkapi mereka demi pelayanan yang efektif. [7]
2.5.  Ayat Alkitab Pendidikan Agama Kristen
Perjanjian Lama
1. Ulangan 6:7
          Dalam Ulangan 6:7 berbunyi “Haruslah engkau mengajar berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau sedang berbaring dan apabila engkau bangun.”
2. Amsal 22:6
          Dalam Amsal 22:6 disampaikan “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”[8]
Perjanjian Baru
1. Matius 28:19-20
          Dalam Matius 28:19-20 yakni “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu.Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
2. II Timotius 2:2
          Dalam Timotius 2:2 yang isinya “Apa yang telah engkau dengar dari padaku didepan banyak saksi,percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai,yang juga cakap mengajar orang lain.”

2.6.  Ayat Alkitab Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja
1. Kisah Para Rasul 2:41-42 “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu memberi  diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran Rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”
2. Efesus 4:11-12 “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan  pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasan penuh  dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.[9]

2.7. Mengapa Ada Pendidikan Agama Kristen di Gereja?
1. Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus, yang berisi penginjilan, baptisan dan pengajaran (Mat. 28:19-20), (Efesus 4:11)

2. Pendidikan Agama Kristen sebagai tugas panggilan gereja
       Ada 3 tugas panggilan gereja yakni bersekutu, bersaksi dan melayani.
3. Mengajarkan Firman Tuhan
       Guru Pendidikan Agama Kristen senantiasa mengajarkan firman Allah agar siswa (jemaat) memiliki patokan dalam realita kehidupannya yang akhirnya mengalami perubahan dari hari ke hari, karena firman Allah bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (II Timotius  3:16)
4. Membawa perjumpaan dengan Kristus
       Perjumpaan pribadi dengan Kristus menyebabkan suatu hubungan berubah antara manusia dengan Allah, dan antar sesamanya serta menghasilkan cara hidup yang benar. Guru berperan dalam membantu peserta didik untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus. Apabila siswa mengalami perjumpaan dengan Yesus akan memiliki sikap mengasihi Allah dan diwujudkan melalui tutur kata, perilaku, pola pikir, dan gaya hidup yang benar dan hidup dalam iman serta ketaatan-Nya kepada Tuhan
5. Memiliki Kemampuan dan keterampilan melalui 4 (empat) prinsip utama dalam Pendidikan Agama Kristen:
1. Learning to know
                        Learning to know berhubungan dengan kempampuan kognitif peserta didik. Kognitif peserta didik harus dirangsang untuk mampu berpikir, menganalisa, dan menginterpretasikan. Kaitannya dengan PAK, pendidik bertugas untuk membuat bahan pembelajaran dari Alkitab yang bisa merangsang kemampuan peserta didik yang akhirnya bisa menginterpretasikan dalam kehidupannya. Peserta didik dimampukan untuk mengetahui segala sesuatu tentang dirinya sendiri, dunianya, sesama, lingkungannya, dan pengetahuan akan Allah serta segala firman-Nya.
2. Learning to do
                        Pengetahuan peserta didik yang telah diperolehnya dalam proses belajar diarahkan untuk mengaplikasikannya. Mereka harus belajar untuk melakukan firman Tuhan. Dengan demikian peserta didik dapat menjadi garam bagi dunia sebagai orang beriman.
3. Learning to be
                        Learning to be menekankan pada pengembangan potensi kepribadiannya. Peserta didik diarahkan untuk memiliki integritas hidup ditengah masyarakat. Sebagi murid Kristus, peserta didik diharapkan mampu hidup seperti karakter Tuhan Yesus.
4. Learning to life together
                        Peserta didik adalah makhluk individu yang hidup ditengah makhluk sosial. Berhubung karena hidup ditengah makhluk sosial peserta didik membutuhkan orang lain. Orang lain merupakan objek pengaplikasian kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makhluk sosial inilah siswa mengaktualisasikan dirinya karena disitu tempat ia bertumbuh, berkembang, bahagia, tabah, dan lain sebagainya.
5.    Pembentukan Spiritualitas, yaitu Seorang siswa yang memiliki spiritualitas yang bagus maka ia ampu memahami makna keberadaannya dan bagaimana ia berperan menjadi berkat bagi bagi orang lain serta memuliakan Allah.[10]

 2.8. Jenis-Jenis Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja
a. Sekolah Minggu
            Sekolah minggu berfungsi sebagai tempat anak mendengarkan firman Allah, dasar pelatihan kepemimpinan  gereja bagi kepemimpinan masa kini dan masa mendatang dan juga untuk menginjili (Efesus 4:11-12)
b. Kebaktian Umum/ ibadah bersama
c. Perayaan hari-hari raya gerejawi.
d. Bible Study
e. Persekutuan kaum muda, kaum wanita atau kaum bapak
f. Retreat
g. Kunjungan kerumah-rumah (misalnya, jemaat yang sakit atau meninggal dunia).
h. PA Lapangan
i. Warga jemaat ikut serta dalam kegitan kemasyarakatan yang positif.
j. Khotbah Pendeta
k. Kunjungan terhadap orang yang membutuhkan bantuan atau terkena bencana alam.
l. Ceramah
m. Perjamuan kudus
n. Pelayanan
o. Bersekutu, bersaksi, dan melayani
p. Membantu anak-anak yang ada di panti asuhan.[11]
            Pendidikan Agama Kristen di gereja ditujukan kepada anak-anak, remaja dan orang dewasa.
1. Pendidikan Agama Kristen Untuk Anak-anak
            PAK dimulai dari anak-anak. Sasaran utamanya adalah anak yang mengenal dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya. Dengan demikian PAK anak menjadi sangat penting. Secara sosial, anak-anak belajar berhubungan dengan orang lain dalam konteks sosial. Secara spiritual, anak-anak dapat menangkapdan memakai konsep-konsep dan prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupan mereka sesuai dengan konsep yang diajarkan sesuai dengan tingkat intelektualnya dan dikaitkan dengan pengalamana mereka sehari-hari. Secara fisik, anak-anak bertumbuh dengan cepat bila menerima makanan bergizi dan kesehatannya dijaga denagn baik. Secara mental, anak-anak berkembang secara bertahap dari lahir sampai usia 11 tahun. Secara intelektual, anak-anak sulit memahami pemikiran abstrak dan simbol-simbol.[12]
            Tempat anak-anak dalam jemaat bukan orang luaran, melainkan mereka sungguh-sungguh terhisap dalam umat Tuhan. Sedangkan orang baptis mengakui bahwa walaupun mereka tidak membaptis anak-anak mereka, namun mereka mempersembahkan hidup anak-anak mereka kepada Tuhan Gereja.
            Tujuan PAK kepada anak-anak gereja yaitu agar mereka mengenal Allah sebagai pencipta dan pemerintah seluruh alam ini, dan Yesus Kristus sebagai penebus, pemimpin dan penolong mereka, serta mengasihi sesamanya dan insaf akan dosanya sehingga mau bertobat pula.[13]
2. Pendidikan Agama Kristen untuk Remaja
            Pendidikan Agama Kristen remaja merupakan pendidikan yang berupaya menolong para remaja untuk hidup dalam terang injil, menemukan kepribadian yang tepat dan menerima tanggung jawab bagi makna dan nilai yang menjadi jelas bagi mereka ketika mereka mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan tujuan dan misi gereja dalam dunia. Pendidikan ini bertujuan untuk menjadikan remaja tumbuh sebagai anak Allah dalam persekutuan Kristen, memenuhi panggilan bersama sebagai murid Yesus di dunia dan tetap pada pengharapan Kristen. 
3.Pendidikan Agama Kristen untuk Orang Dewasa
            Tujuan PAK untuk orang dewasa yaitu menjangkau orang dewasa agar bisa hidup dalam kedewasaan karena pendidikan formal yang mereka terima di sekolah pada dasaranya sudah diselesaikan, dicapai, dan direalisaasikan. Mereka mampu bertumbuh, berubah, dan kadang secara emosional, mental, sosial dan spiritual. Mereka mampu meningkatkan kemampuan menetapkan dan menjangkau tujuan hidup mereka.
            Tetapi permasalahannya, gereja kadang-kadang tidak memedulikan kebutuhan mereka. Banyak gereja lokal berpendapat bahwa mereka mampu mengatasi kehidupan iman  mereka. Padahal PAK merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan bagi pengembangan dan pertumbuhan mereka. Bagi orang dewasa, mempelajari dan menerapkan Alkitab tidak pernah berakhir karena PAK merupakan usaha yang berkesinambungan selama hidup.[14]

2.9. Tokoh-tokoh Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja
2.9.1. Tokoh-tokoh Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja Purba
1. Clementus
Ia menyadari bahwa pendidikan tidak terbatas hanya pada jam-jam yang dijadwalkan untuk itu. Baik atau buruk, anak belajar juga dari ucapan orang-orang sekitarnya. Oleh sebab itu, tugas orang tua ialah menjaga  supaya semua ucapan yang masuk kupingnya turut membangun wataknya dan bukan merusaknya. Jadi, pendidik dan pembantu di rumah diperingatkan supaya jangan mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung orang tua.
2. Augustinus
Gagasan-gagasan pokok di bidang PAK yang dijelaskan Augustus terdapat dalam tiga karya, yaitu: De Doctrina Christiana (Ajaran Kristen), De Magistra (Sang Guru), dan De Catechizandis Rudibus (Mengkatekisasi Orang Yang Belum Dididik) yang dituliskan untuk menjawab pertanyaan tentang pelayanan mengajar para katekumen yang diajukan kepadanya oleh Saudara Deogratias. Pelajar diajarkan bukan oleh kata-kata saja, melainkan oleh sengaja apa yang dinyatakan secara batin kepadanya oleh Allah. Dengan kata lain, kita harus percaya sebelum kita dapat berpikir secara mendalam dan mengerti. Jadi, orang tidak belajar tentang kebenaran agamawi itu dengan jalan “diisi dari luar”, malahan penerimaan kebenaran tersebut memerukan respons pribadi terhadap Allah.[15]



2.9.2. Tokoh-tokoh Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja Pertengahan
1. Karel Agung
     Ia berkeyakinan bahwa para iman dan birawan wajib belajar maupun mendidik sepanjang hidup mereka, Karel Agung mengambil tindakan-tindakan yang hendak mempertinggi mutu semua pelayanan gereja. Kemampuan dan mutu kehidupan sajalah yang akan memainkan peranan mutlak dalam hal memilih calon pelayanan gereja dan bukan hubungan pribadi si calon dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam masyarakat.
     Untuk mempertinggi mutu kehidupan warga jemaat, Karel Agung memerintah para iman untuk bawakan khotbah yang menjelaskan arti pengakuan keduabelas iman Rasuli, sepuluh Firman dan Doa Bapa Kami. Disamping itu khotbah tersebut hendaknya mendesak warga jemaat bertindak adil dalam hubungan sosial.
2. Alfred Agung
     Arfred Agung ingin membuka pintu pengetahuan yang terkunci dalam banyak naskah. Semuanya itu dapat terjadi hanya kalau pemerintah dan gereja mendirikan sekolah-sekolah yang akan memperlengkapi para pelajar dengan keterampilan membaca dan menulis. Alfred Agung berhak dinamakan pendidik besar karena sebagai kepala negara dia memprakarsai rencana darurat untuk menerjemahkan sejumlah karya dalam bahasa Latin ke dalam bahasa Sakson (Inggris kuno).
3. Rabanus Maurus
     Maurus ingin menghasilkan seseorang pelayan firman yang mempunyai pengetahuan berimbang. Semua calon pelayan firman hendaknya memeroleh pengetahuan sebanyak-banyaknya di samping mencari gaya yang sesyai dengan panggilan mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang calon pelayan firman janganlah berkeberatan terhadap Alkitab kalau di dalamnya terdapat ayat-ayat tertentu yang tidak mereka pahami. Entah dipahami atau tidak, Alkitab tetap masih tetap firman Allah.
4. Petrus Abelardus
     Abelaradus adalah seorang pendidik besar karena dia mengajar kita tentang “kesucian” keragu-raguan bukan sebagai tujuan terakhir, melainkan sebagai tahap kreatif untuk memperoleh pikiran lebih baik lagi. Ia berdalil bahwa  dengan meragukan, kita mulai bertanya, dan dengan bertanya kita menagkap kebenaran (Boehkle,1998). Abelardus mendidik kita tentang pentingnya mengajukan pertanyaan sebagai dasar memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru.
5. Thomas Aquino
     Thomas Aquino menyelaraskan buah akal dengan penyataan. Dia menjelajahi seberapa jauh pengetahuan yang diketahui melalui penggunaan akal insani dan yang lainnya yang hanya diketahui melalui penyataan saja. Allah sendirilah kebenaran sehingga mustahilterjadipertentangan antara penyataan dan pikiran. Karena Allahlah satu-satunya yang benar, kebenaran itu sendiri cenderung ditemukan pada sumber yang aneka rupa. Ada dua pendekatan dalam proses memperoleh pengetahuan, yakni: pertama, setiap pelajar dapat menggunakan pikirannya untuk menemukan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. Kedua,  pendekatan yang bergantung pada keahlian seseorang mentor yang memupuk bakat si pelajar.[16]

2.9.3. Tokoh-tokoh Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja Zaman Protestan
1. Martin Luther
Bagi Luther, tujuan PAK adalah untuk meyadarkan anak-anak dan orang dewasa tentang keadaan mereka yang sebenarnya bahwa mereka merupakan orang berdosa dan karena itu mereka berbuat dosa. Untuk mencapai tujuan itu,luther membahas arti das titah dalam katekismusnya, baik yang kecil maupun yang besar. Dengan mengetahui hukum yang menyatkaan tuntutan Allah, para warga jemaat di antar untuk mengerti bertapa lebarnya jurang yang memisahkan manusia dari Allah. Para warga jemaat hendaknya mendegar isi kabar baik dalam yesus kristus serta mengalkannya adalah tujuan PAK yang kedua. Untuk mencapai tujuan ini, mereka hendaknnya mempelajari Pengakuan Iman Rasuli agar iman dapat ditanam dalam diri semua pelajar. Demikianlah mereka tidak besandar sama sekali pada prestasi dan kebajikan pribadi apapun. Dengan perasaan gembira mereka bersyukur karena dibenarkan oleh iman dan bukan oleh perbuatan.
Tujuan PAK yang ketiga adalah agar para pelajar memahami doa serta melaksanakan kehidupan berdoa.itulah sebabnya mengapa Doa Bapa Kami merupakan doa teladan bagi warga jemaat. Dengan doa itu, mereka hendaknya mengungkapkan isi hati masing-masing di hadapan Tuhan.Tidak ada golongan khusus yang berhak menengahi antara mereka dan Allah. Setiap warga jemaat berhak berdoa. Bukan hanya berhak berdoa, melainkan bertanggung jawab bergumul dengan tuhan dalam doa.[17]
2. Yohanes Calvin       
Bagi Calvin yang amat menekankan kedaulatan Allah, pengajar paling utama tidak lain daripada Allah sendiri. Allahlah yang memprakarsai pengalaman mengajar dan belajar. Sebagai Alla yang berdaulat, Dialah yang menentukan apakah perkataan seorang pengajar mengenai sasarannya atau tidak. Oleh karena itu janganlah seorang pengajar di kalangan gereja melampaui mandatnya menjadi juru bicara Allah.
Tetapi Allah cenderung mengajar melalui orang-orang yang menaklukkan diri kepada firman-Nya. Menurut Calvin, Allah telah mempersiapkan dua jenis jabatan gerejawi sebagai pelayan-pelayan firman-Nya, yaitu: pendeta (gembala) dan guru (doktor dalam arti aslinya seseorang yang mengajar). Menurut Calvin terdapat tiga golongan yang dianggap para pelajar dalam Pendidikan Agama Kristen. Pertama-tama Calvin menunjukkan bahwa setiap pendeta melayani dua jemaat sekaligus,yaitu:jemaat anak-anak dan jemaat orang dewasa. Jemaat anak-anak dilayaninya melalui kelas katekisasi, sedangkan jemaat orang dewasa dilayaninya melalui kebaktian umum khususnya khotbah.
Golongan pelajar yang kedua adalah mereka yang menghadiri skeolah di Jenewa baik pada taraf  Sekolah Dasar dan menengah maupun perguruan tinggi yang diperhatikan oleh para pendeta dan pemimpin kotapraja. Golongan pelajar yang ketiga adalah pendeta dan pengajar. Selama mereka mengajar orang lain, mereka perlu selalu mempelajari Alakitab dan sumber lainnya yang memupuk pikirannya. Calvin ingin supaya kemimpinan gerja dipegang oleh para pelayan yang terpelajar. Ada pun sumbangan Calvin bagi pikiran dan praktik PAK adalah sebagai berikut:
1.      Yohanes Calvin ingin mendasarkan pendidikan gerejawi atas dasar teologi dan kemudian mengembangkan pelayanan pedagogis yang selaras dengan teologi yang ia jelaskan.
2.      Pendidikan Agama Kristen adalah bagian integral dan pelayanan gereja karena gerejalah Sang ibu yang mengasuh anak-anaknya.
3.      Dia menjunjung tinggi khotbah sebagai sarana untuk mendidik para warga jemaat.
4.      Dia menjunjung tinggi khotbah sebagai sarana untuk mendidik para warga jemaat.
5.      Dia mendidik jemaat memuji Tuhan melalui penggunaan mazmur-mazmur yang dinyanyikan jemaat dalam bahasa daerah(bahasa prancis).
6.      Dia menetapkan sakramen Baptisan sebagai tanda pemilihan Allah dalam Yesus Kristus dan sakramen Perjamuan Kudus sebagai karunia yang mutlak ada dalam kebaktian selama menjauhkan kedua-duanya dari ketakhayulan.
7.      Dia mendorong pemerintah dan masyarakat Jenewa mendirikan akademi sebagai pusat persekolahan gerejaam.[18]


III.     Kesimpulan
            Dari beberapa pemaparan diatas kami sebagai penyaji menyimpulkan bahwa Pendidikan Agama Kristen adalah proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan alkitab, berpusat pada Kristus dan bergantung pada Roh Kudus yang memasuki persekutuan iman yang hidup sebagai orang kristen yang mempermulikan Nama-Nya disegala tempat.
Dan Gereja merupakan umat yang dipanggil keluar untuk menjadi umat Kristus, dan jemaat merupakan bagian dari gereja dan Kristus sebagai kepalanya. 
            Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja bertujuan untuk membimbing warga jemaat ke dalam perkembangan rohani dan jasmani melalui pengajaran Alkitab sehingga akan mempersiapakan manusia dalam pelayanan. Yang mengarah pada setiap anak-anak, remaja dan orang dewasa melalui sekolah minggu, kebaktian umum, pembelajaran Alkitab dan lain-lain. Dengan demikian yang menjadi dasar alkitab mengenai hal tersebut dapat dilihat dari dari berbagai bentuk pengajaran dan baptisan (Mat.28:19-20). Dan tokoh PAK dalam Gereja Purba antara lain; Clementus & Augustinus,  serta tokoh PAK dalam gereja pertengahan anatara lain; Karel Agung, Alfred Agung, Rabanus Maurus, Petrus Abelardus, & Thomas Aquino, dan juga tokoh PAK dalam Gereja Zaman Protestan antara lain; Martin Luther & Yohanes Calvin.


IV.  Daftar Pustaka
Boehike Robert R., Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek dari Plato sampai       lg.Loyola,  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994
GP Harianto, Pendidikan Agama Kristen Dalam Alkitab dan Dunia Pendidikan Masa Kini,           Yogyakarta: ANDI, 2012
Homrighausen E.G. & Enklaar I.H.,Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia,       2011
Kristianto Paulus Lilik, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, Yogyakarta: ANDI,            2008
Muhamara Daniel, Pembimbing PAK, Bandung: Jurnal Info Media, 2007 
Nainggolan John. M., Menjadi Guru Agama Kristen, Bandung: Generasi Info Media, 2007
Sijabat B. S., Strategi Pendidikan Kristen, Yogyakarta: ANDI,1994
Stefanus Daniel, Sejarah PAK(Tokoh-tokoh Besar PAK), Bandung: Bima Media Informasi,          2009
Sukarman Timotius, Gereja: yang Bertumbuh & Berkembang, Yogyakarta: ANDI,2012
Tanya Eli,Gereja dan Pendidikan Agama Kristen, Cipanas:Sekolah Tinggi Teologia           Cipanas,1999




                 [1]Paulus Lilik Kristianto, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: ANDI, 2008), 5
                 [2] E.G.Homrighausen & I.H.Enklaar,Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 26
                [3] Eli Tanya,Gereja dan Pendidikan Agama Kristen, (Cipanas:Sekolah Tinggi Teologia Cipanas,1999), 54
                [4] B. S. Sijabat, Strategi Pendidikan Kristen, (Yogyakarta: ANDI,1994), 28
                [5]Eli Tanya, Gereja dan Pendidikan Agama Kristen, (Cipanas: Sekolah Tinggi Teologi Cipanas, 1999), hlm. 1-4.         
                [6]E. G. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1957), 36
                [7]Daniel Muhamara, Pembimbing PAK, (Bandung: Jurnal Info Media, 2007), 29-31. 
                [8] Harianto GP, Pendidikan Agama Kristen Dalam Alkitab dan Dunia Pendidikan Masa Kini, (Yogyakarta: ANDI, 2012), 62-63
                [9] Paulus Lilik Kristianto, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: ANDI, 2008), 126
[10]John. M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen, (Bandung: Generasi Info Media, 2007), hlm. 12. 
                [11] Timotius Sukarman, Gereja: yang Bertumbuh & Berkembang, (Yogyakarta: ANDI,2012), 86-87
                [12]Paulus Lilik Kristianto, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: ANDI, 2008), 85
                [13] E.G.Homrighausen & I.H.Enklaar,Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 120-122

                [14] Paulus Lilik Kristianto, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: ANDI, 2008), 120-121
                [15] Daniel Stefanus, Sejarah PAK(Tokoh-tokoh Besar PAK), (Bandung: Bima Media Informasi, 2009), 34-47
                [16]Daniel Stefanus, Sejarah PAK(Tokoh-tokoh Besar PAK), (Bandung: Bima Media Informasi, 2009), 66-72

                [17] Robert R.Boehike, Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek dari Plato sampai lg.Loyola, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 307-328


                [18]Daniel Stefanus, Sejarah PAK(Tokoh-tokoh Besar PAK), (Bandung: Bima Media Informasi, 2009), 78-83


Tidak ada komentar:

Posting Komentar