Pendidikan Agama Kristen Di Gereja
I.
Pendahuluan
Pendidikan
Agama Kristen merupakan suatu proses yang kegiatannya membimbing/mengajarkan kehidupan
secara nilai-nilai kristiani dan Alkitab sebagai sumber acuannya. Sehingga
bimbingan/pengajaran tersebut akan sampai pada seseorang melalui perantara,
seperti perantara lingkungan. Perantara lingkungkan itu seperti Gereja,
keluarga, sekolah dan lain-lain. Untuk itu, pada kesempatan kali ini kami akan
membahas tentang Pendidikan Agama
Kristen dalam Gereja.
II.
Pembahasan
2.1. Pengertian Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan
Agama Kristen adalah proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan Alkitab, berpusatkan
pada Kristus, dan bergantung pada kuasa Roh Kudus.[1]
Beberapa
pendapat tokoh tentang pengertian Pendidikan Agama Kristen, diantaranya:
1. E.G.Homrighausen
Pendidikan Agama Kristen adalah pendidikan
yang memasuki persekutuan iman yang hidup dengan Tuhan sendiri dan terhisap
pula pada persekutuan jemaat-Nya yang mengakui dan mempermuliakan Nama-Nya
disegala waktu dan tempat.[2]
2. Randolph
Crump Miller
Pendidikan Agama Kristen adalah proses
pembimbingan setiap pribadi kedalam keputusan untuk hidup sebagai orang
Kristen.[3]
Jadi,
Pendidikan Agama Kristen adalah proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan
alkitab, berpusat pada Kristus dan bergantung pada Roh Kudus yang memasuki
persekutuan iman yang hidup sebagai orang kristen yang mempermulikan Nama-Nya
disegala tempat.
2.2. Pengertian
Gereja
Kata
Gereja berasal dari bahasa Portugis “Igreya”
dan bahasa Yunani “ekklesia” yang
berarti jemaat yang dipanggil keluar dari dunia menjadi milik Tuhan. Jadi,
gereja adalah pesekutuan orang percaya.[4]
Gereja
sering disebut sebagai “yang telah ditebus” atau “persekutuan Roh Kudus”.
1. Gereja
sebagai tubuh kristus
Kiasan ini dipakai oleh Rasul Paulus
untuk menunjukkan bahwa setiap orang merupakan bagian dari gereja, sedangkan
Kristus adalah kepalanya (1 Kor 12:4, Rm 12:4).
2. Gereja
sebagai umat Allah
Dalam Perjanjian Lama, kita melihat
Allah yang memilih orang Yahudi sebagai bangsa pilihan-Nya. Hal ini bukan
berdasarkan keistimewaan khusus dari bangsa ini, melainkan pilihan untuk tugas
menjadi terang bagi orang kafir (Yeremia 11:4).
3. Gereja
sebagai persekutuan Roh Kudus
Pada hari pentakosta (Kis 2),
terciptalah gereja purba yang terus berkumpul, besekutu, saling berbagi,
berpartisipasi dalam persekutuan; inilah koinonia, persekutuan orang kudus.
4. Gereja
sebagai Ekklesia
Kata “Ekklesia” mengandung arti bahwa gereja adalah umat yang dipanggil
keluar untuk menjadi umat Kristus.
5. Gereja
sebagai Perjanjian Baru
Umat Israel di Perjanjian Lama percaya
bahwa Yahwe telah memilih mereka sebagai umat-Nya; itulah gereja dari
Perjanjian Lama. Kepercayaan ini diteruskan dan diambil alih oleh umat
kristiani (Mark 14:24, Yer 31:31-34).[5]
Jadi,
gereja merupakan umat yang dipanggil keluar untuk menjadi umat Kristus, dan
jemaat merupakan bagian dari gereja dan Kristus sebagai kepalanya.
2.3. Tujuan
Pendidikan Agama Kristen
1. Memimpin
murid selangkah demi selangkah kepada pengenalan yang sempurna mengenai
peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam Alkitab dan pengajaran-pengajaran yang
diberitakan oleh-Nya.
2. Membimbing
murid dalam cara menggunakan kebenaran-kebenaran asasi Alkitab untuk
keselamatan seluruh hidupnya.
3. Mendorong
dia mempraktikkan asas-asas Alkitab, supaya membina suatu peranan Kristen yang
kokoh.
4. Meyakinkannya,
supaya mengakui bahwa kebenaran-kebenaran dan asas-asas itu menunjukkan jalan
untuk pemecahan masalah-masalah kesusilaan, sosial, dan politik di dunia ini.[6]
5. Supaya
ia mengambil bagian dalam kebaktian suci, baik dalam rumah tangga maupun dalam
rumah gereja.
6. Supaya
memberikan kesaksian perseorangan, baik dengan perkataan maupun dengan
perbuatan, sambil menaruh perhatian terhadap usaha pekabaran injil di gereja.
7. Supaya
ia hidup sebagai seseorang Kristen yang dalam segala-galanya bertanggung jawab
terhadap Tuhannya.
8. Mengambil
bagian secara aktif dalam jemaat setempat.
Jadi,
Tujuan Pendidikan Agama Kristen adalah memimpin murid dalam pengenalan Alkitab dan hidup sebagai orang Kristen yang
bertanggung jawab terhadap Tuhan, serta agar mampu mengambil bagian dalam
jemaat gereja dan proses penginjilan.
2.4. Tujuan
Pendidikan Agama Kristen di Gereja
1. Menjadikan
jemaat percaya dan mengenal Alkitab.
2. Proses
penemuan kebenaran firman Tuhan yang pada gilirannya jemaat mengalami
pembaharuan tingkah laku dan menghidupi kebenaran.
3. Menjadikan
umat Tuhan menjadi pribadi yang bijaksana dengan menghidupi iman di dalam
Kristus.
4. Dengan
pendidikan kepada jemaat diharapkan warga gereja diperlengkapi dan mengalami
perubahan perbuatan menuju kesempurnaan hidup.
Tujuan Pendidikan Agama Kristen dibagai
menjadi 3 konsep yaitu: aims, goals dan objectives.
Aims
adalah tujuan pak yang diusahakan untuk mencapai akhirnya secara mutlak.
Misalnya tujuan pak di dalam gereja adalah untuk menolong anggota-anggota gereja
bertumbuh menuju kedewasaan Kristen.
Goals
adalah tujuan yang hendak dicapai dalam jangka waktu tertentu. Kegiatanya yang
dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan, satu bulan atau beberapa kali pertemuan.Misalnya
melakukan kursus 3 bulan ini adalah untuk menolong para peserta kursus (anggota
gereja) agar mampu menjelaskan makna dari pokok-pokok utama iman Kristen.
Objectives
adalah tujuan pak yang hendak dicapai dalam suatu proses belajar mengajar dalam
satu kali pertemuan. Biasanya tujuan-tujuan seperti ini dirumuskan sebagai
pernyataan-pernyataan spesifik yakni mengenai apa yang diharapkan dapat
tercapai dalam suatu proses belajar di dalam satu pertemuan.
Jadi, tujuan utama PAK di Gereja
adalah untuk membimbing warga gereja agar percaya dan mengenal Alkitab,
pembaharuan tingkah laku, menjadi pribadi yang bijaksana dalam Kristus yang
menuju kesempurnaan hidup. Sehingga memperlengkapi mereka demi pelayanan yang
efektif. [7]
2.5. Ayat
Alkitab Pendidikan Agama Kristen
Perjanjian
Lama
1. Ulangan 6:7
Dalam Ulangan 6:7 berbunyi “Haruslah engkau mengajar
berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu,
apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau sedang berbaring dan
apabila engkau bangun.”
2. Amsal 22:6
Dalam Amsal 22:6 disampaikan “Didiklah orang muda menurut
jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang
dari pada jalan itu.”[8]
Perjanjian Baru
1. Matius 28:19-20
Dalam
Matius 28:19-20 yakni “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka
melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu.Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
2. II Timotius 2:2
Dalam
Timotius 2:2 yang isinya “Apa yang telah engkau dengar dari padaku didepan
banyak saksi,percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai,yang
juga cakap mengajar orang lain.”
2.6. Ayat
Alkitab Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja
1. Kisah Para Rasul
2:41-42 “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan
pada hari itu memberi diri dibaptis dan
pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun
dalam pengajaran Rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul
untuk memecahkan roti dan berdoa.”
2. Efesus 4:11-12 “Dan
Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk
memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan
tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah,
kedewasan penuh dan tingkat pertumbuhan
yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.[9]
2.7. Mengapa Ada Pendidikan Agama
Kristen di Gereja?
1. Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus, yang berisi
penginjilan, baptisan dan pengajaran (Mat. 28:19-20), (Efesus 4:11)
2. Pendidikan Agama Kristen sebagai tugas panggilan
gereja
Ada 3
tugas panggilan gereja yakni bersekutu, bersaksi dan melayani.
3. Mengajarkan Firman Tuhan
Guru Pendidikan Agama Kristen senantiasa
mengajarkan firman Allah agar siswa (jemaat) memiliki patokan dalam realita
kehidupannya yang akhirnya mengalami perubahan dari hari ke hari, karena firman
Allah bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan,
dan mendidik orang dalam kebenaran (II Timotius
3:16)
4.
Membawa perjumpaan dengan Kristus
Perjumpaan pribadi dengan Kristus
menyebabkan suatu hubungan berubah antara manusia dengan Allah, dan antar
sesamanya serta menghasilkan cara hidup yang benar. Guru berperan dalam
membantu peserta didik untuk mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus.
Apabila siswa mengalami perjumpaan dengan Yesus akan memiliki sikap mengasihi
Allah dan diwujudkan melalui tutur kata, perilaku, pola pikir, dan gaya hidup
yang benar dan hidup dalam iman serta ketaatan-Nya kepada Tuhan
5.
Memiliki Kemampuan dan keterampilan melalui 4 (empat) prinsip utama dalam
Pendidikan Agama Kristen:
1.
Learning to know
Learning
to know berhubungan dengan kempampuan kognitif peserta didik. Kognitif peserta
didik harus dirangsang untuk mampu berpikir, menganalisa, dan
menginterpretasikan. Kaitannya dengan PAK, pendidik bertugas untuk membuat
bahan pembelajaran dari Alkitab yang bisa merangsang kemampuan peserta didik
yang akhirnya bisa menginterpretasikan dalam kehidupannya. Peserta didik
dimampukan untuk mengetahui segala sesuatu tentang dirinya sendiri, dunianya,
sesama, lingkungannya, dan pengetahuan akan Allah serta segala firman-Nya.
2. Learning to do
Pengetahuan
peserta didik yang telah diperolehnya dalam proses belajar diarahkan untuk
mengaplikasikannya. Mereka harus belajar untuk melakukan firman Tuhan. Dengan
demikian peserta didik dapat menjadi garam bagi dunia sebagai orang beriman.
3. Learning to be
Learning
to be menekankan pada pengembangan potensi kepribadiannya. Peserta didik
diarahkan untuk memiliki integritas hidup ditengah masyarakat. Sebagi murid
Kristus, peserta didik diharapkan mampu hidup seperti karakter Tuhan Yesus.
4.
Learning to life together
Peserta
didik adalah makhluk individu yang hidup ditengah makhluk sosial. Berhubung
karena hidup ditengah makhluk sosial peserta didik membutuhkan orang lain.
Orang lain merupakan objek pengaplikasian kasih Allah dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam makhluk sosial inilah siswa mengaktualisasikan dirinya karena
disitu tempat ia bertumbuh, berkembang, bahagia, tabah, dan lain sebagainya.
5.
Pembentukan Spiritualitas, yaitu Seorang
siswa yang memiliki spiritualitas yang bagus maka ia ampu memahami makna
keberadaannya dan bagaimana ia berperan menjadi berkat bagi bagi orang lain
serta memuliakan Allah.[10]
2.8. Jenis-Jenis Pendidikan Agama Kristen
Dalam Gereja
a. Sekolah
Minggu
Sekolah minggu berfungsi sebagai tempat
anak mendengarkan firman Allah, dasar pelatihan kepemimpinan gereja bagi kepemimpinan masa kini dan masa
mendatang dan juga untuk menginjili (Efesus 4:11-12)
b. Kebaktian
Umum/ ibadah bersama
c. Perayaan
hari-hari raya gerejawi.
d. Bible Study
e. Persekutuan
kaum muda, kaum wanita atau kaum bapak
f. Retreat
g. Kunjungan
kerumah-rumah (misalnya, jemaat yang sakit atau meninggal dunia).
h. PA Lapangan
i. Warga jemaat
ikut serta dalam kegitan kemasyarakatan yang positif.
j. Khotbah
Pendeta
k. Kunjungan
terhadap orang yang membutuhkan bantuan atau terkena bencana alam.
l. Ceramah
m. Perjamuan
kudus
n. Pelayanan
o. Bersekutu,
bersaksi, dan melayani
p. Membantu
anak-anak yang ada di panti asuhan.[11]
Pendidikan Agama Kristen di gereja
ditujukan kepada anak-anak, remaja dan orang dewasa.
1. Pendidikan
Agama Kristen Untuk Anak-anak
PAK dimulai dari anak-anak. Sasaran
utamanya adalah anak yang mengenal dan menerima Kristus sebagai Juruselamat
pribadinya. Dengan demikian PAK anak menjadi sangat penting. Secara sosial,
anak-anak belajar berhubungan dengan orang lain dalam konteks sosial. Secara
spiritual, anak-anak dapat menangkapdan memakai konsep-konsep dan
prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupan mereka sesuai dengan konsep yang
diajarkan sesuai dengan tingkat intelektualnya dan dikaitkan dengan pengalamana
mereka sehari-hari. Secara fisik, anak-anak bertumbuh dengan cepat bila
menerima makanan bergizi dan kesehatannya dijaga denagn baik. Secara mental,
anak-anak berkembang secara bertahap dari lahir sampai usia 11 tahun. Secara
intelektual, anak-anak sulit memahami pemikiran abstrak dan simbol-simbol.[12]
Tempat anak-anak dalam jemaat bukan
orang luaran, melainkan mereka sungguh-sungguh terhisap dalam umat Tuhan.
Sedangkan orang baptis mengakui bahwa walaupun mereka tidak membaptis anak-anak
mereka, namun mereka mempersembahkan hidup anak-anak mereka kepada Tuhan Gereja.
Tujuan PAK kepada anak-anak gereja
yaitu agar mereka mengenal Allah sebagai pencipta dan pemerintah seluruh alam
ini, dan Yesus Kristus sebagai penebus, pemimpin dan penolong mereka, serta
mengasihi sesamanya dan insaf akan dosanya sehingga mau bertobat pula.[13]
2. Pendidikan
Agama Kristen untuk Remaja
Pendidikan Agama Kristen remaja
merupakan pendidikan yang berupaya menolong para remaja untuk hidup dalam
terang injil, menemukan kepribadian yang tepat dan menerima tanggung jawab bagi
makna dan nilai yang menjadi jelas bagi mereka ketika mereka mengidentifikasi
diri mereka sendiri dengan tujuan dan misi gereja dalam dunia. Pendidikan ini
bertujuan untuk menjadikan remaja tumbuh sebagai anak Allah dalam persekutuan
Kristen, memenuhi panggilan bersama sebagai murid Yesus di dunia dan tetap pada
pengharapan Kristen.
3.Pendidikan
Agama Kristen untuk Orang Dewasa
Tujuan PAK untuk orang dewasa yaitu
menjangkau orang dewasa agar bisa hidup dalam kedewasaan karena pendidikan
formal yang mereka terima di sekolah pada dasaranya sudah diselesaikan,
dicapai, dan direalisaasikan. Mereka mampu bertumbuh, berubah, dan kadang
secara emosional, mental, sosial dan spiritual. Mereka mampu meningkatkan
kemampuan menetapkan dan menjangkau tujuan hidup mereka.
Tetapi permasalahannya, gereja
kadang-kadang tidak memedulikan kebutuhan mereka. Banyak gereja lokal
berpendapat bahwa mereka mampu mengatasi kehidupan iman mereka. Padahal PAK merupakan kebutuhan yang
sangat diperlukan bagi pengembangan dan pertumbuhan mereka. Bagi orang dewasa,
mempelajari dan menerapkan Alkitab tidak pernah berakhir karena PAK merupakan
usaha yang berkesinambungan selama hidup.[14]
2.9. Tokoh-tokoh
Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja
2.9.1.
Tokoh-tokoh Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja Purba
1. Clementus
Ia menyadari bahwa pendidikan tidak terbatas hanya
pada jam-jam yang dijadwalkan untuk itu. Baik atau buruk, anak belajar juga
dari ucapan orang-orang sekitarnya. Oleh sebab itu, tugas orang tua ialah
menjaga supaya semua ucapan yang masuk
kupingnya turut membangun wataknya dan bukan merusaknya. Jadi, pendidik dan
pembantu di rumah diperingatkan supaya jangan mengucapkan sesuatu yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung orang tua.
2. Augustinus
Gagasan-gagasan pokok di bidang PAK
yang dijelaskan Augustus terdapat dalam tiga karya, yaitu: De Doctrina Christiana (Ajaran Kristen), De Magistra (Sang Guru), dan De
Catechizandis Rudibus (Mengkatekisasi Orang Yang Belum Dididik) yang
dituliskan untuk menjawab pertanyaan tentang pelayanan mengajar para katekumen
yang diajukan kepadanya oleh Saudara Deogratias. Pelajar diajarkan bukan oleh
kata-kata saja, melainkan oleh sengaja apa yang dinyatakan secara batin
kepadanya oleh Allah. Dengan kata lain, kita harus percaya sebelum kita dapat
berpikir secara mendalam dan mengerti. Jadi, orang tidak belajar tentang
kebenaran agamawi itu dengan jalan “diisi dari luar”, malahan penerimaan
kebenaran tersebut memerukan respons pribadi terhadap Allah.[15]
2.9.2.
Tokoh-tokoh Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja Pertengahan
1. Karel Agung
Ia
berkeyakinan bahwa para iman dan birawan wajib belajar maupun mendidik
sepanjang hidup mereka, Karel Agung mengambil tindakan-tindakan yang hendak
mempertinggi mutu semua pelayanan gereja. Kemampuan dan mutu kehidupan sajalah
yang akan memainkan peranan mutlak dalam hal memilih calon pelayanan gereja dan
bukan hubungan pribadi si calon dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam
masyarakat.
Untuk
mempertinggi mutu kehidupan warga jemaat, Karel Agung memerintah para iman untuk
bawakan khotbah yang menjelaskan arti pengakuan keduabelas iman Rasuli, sepuluh
Firman dan Doa Bapa Kami. Disamping itu khotbah tersebut hendaknya mendesak
warga jemaat bertindak adil dalam hubungan sosial.
2. Alfred Agung
Arfred
Agung ingin membuka pintu pengetahuan yang terkunci dalam banyak naskah.
Semuanya itu dapat terjadi hanya kalau pemerintah dan gereja mendirikan
sekolah-sekolah yang akan memperlengkapi para pelajar dengan keterampilan
membaca dan menulis. Alfred Agung berhak dinamakan pendidik besar karena
sebagai kepala negara dia memprakarsai rencana darurat untuk menerjemahkan
sejumlah karya dalam bahasa Latin ke dalam bahasa Sakson (Inggris kuno).
3. Rabanus Maurus
Maurus
ingin menghasilkan seseorang pelayan firman yang mempunyai pengetahuan
berimbang. Semua calon pelayan firman hendaknya memeroleh pengetahuan
sebanyak-banyaknya di samping mencari gaya yang sesyai dengan panggilan mereka.
Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang calon pelayan firman janganlah
berkeberatan terhadap Alkitab kalau di dalamnya terdapat ayat-ayat tertentu
yang tidak mereka pahami. Entah dipahami atau tidak, Alkitab tetap masih tetap
firman Allah.
4. Petrus Abelardus
Abelaradus
adalah seorang pendidik besar karena dia mengajar kita tentang “kesucian” keragu-raguan
bukan sebagai tujuan terakhir, melainkan sebagai tahap kreatif untuk memperoleh
pikiran lebih baik lagi. Ia berdalil bahwa
dengan meragukan, kita mulai bertanya, dan dengan bertanya kita menagkap
kebenaran (Boehkle,1998). Abelardus mendidik kita tentang pentingnya mengajukan
pertanyaan sebagai dasar memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru.
5. Thomas Aquino
Thomas Aquino
menyelaraskan buah akal dengan penyataan. Dia menjelajahi seberapa jauh
pengetahuan yang diketahui melalui penggunaan akal insani dan yang lainnya yang
hanya diketahui melalui penyataan saja. Allah sendirilah kebenaran sehingga
mustahilterjadipertentangan antara penyataan dan pikiran. Karena Allahlah
satu-satunya yang benar, kebenaran itu sendiri cenderung ditemukan pada sumber yang
aneka rupa. Ada dua pendekatan dalam proses memperoleh pengetahuan, yakni:
pertama, setiap pelajar dapat menggunakan pikirannya untuk menemukan sesuatu
yang tidak diketahui sebelumnya. Kedua,
pendekatan yang bergantung pada keahlian seseorang mentor yang memupuk
bakat si pelajar.[16]
2.9.3.
Tokoh-tokoh Pendidikan Agama Kristen Dalam Gereja Zaman Protestan
1. Martin Luther
Bagi Luther, tujuan PAK adalah untuk meyadarkan
anak-anak dan orang dewasa tentang keadaan mereka yang sebenarnya bahwa mereka
merupakan orang berdosa dan karena itu mereka berbuat dosa. Untuk mencapai
tujuan itu,luther membahas arti das titah dalam katekismusnya, baik yang kecil
maupun yang besar. Dengan mengetahui hukum yang menyatkaan tuntutan Allah, para
warga jemaat di antar untuk mengerti bertapa lebarnya jurang yang memisahkan
manusia dari Allah. Para warga jemaat hendaknya mendegar isi kabar baik dalam
yesus kristus serta mengalkannya adalah tujuan PAK yang kedua. Untuk mencapai
tujuan ini, mereka hendaknnya mempelajari Pengakuan Iman Rasuli agar iman dapat
ditanam dalam diri semua pelajar. Demikianlah mereka tidak besandar sama sekali
pada prestasi dan kebajikan pribadi apapun. Dengan perasaan gembira mereka
bersyukur karena dibenarkan oleh iman dan bukan oleh perbuatan.
Tujuan PAK yang ketiga adalah agar para pelajar
memahami doa serta melaksanakan kehidupan berdoa.itulah sebabnya mengapa Doa
Bapa Kami merupakan doa teladan bagi warga jemaat. Dengan doa itu, mereka
hendaknya mengungkapkan isi hati masing-masing di hadapan Tuhan.Tidak ada
golongan khusus yang berhak menengahi antara mereka dan Allah. Setiap warga
jemaat berhak berdoa. Bukan hanya berhak berdoa, melainkan bertanggung jawab
bergumul dengan tuhan dalam doa.[17]
2. Yohanes Calvin
Bagi Calvin yang amat menekankan kedaulatan Allah,
pengajar paling utama tidak lain daripada Allah sendiri. Allahlah yang
memprakarsai pengalaman mengajar dan belajar. Sebagai Alla yang berdaulat,
Dialah yang menentukan apakah perkataan seorang pengajar mengenai sasarannya
atau tidak. Oleh karena itu janganlah seorang pengajar di kalangan gereja
melampaui mandatnya menjadi juru bicara Allah.
Tetapi
Allah cenderung mengajar melalui orang-orang yang menaklukkan diri kepada
firman-Nya. Menurut Calvin, Allah telah mempersiapkan dua jenis jabatan gerejawi
sebagai pelayan-pelayan firman-Nya, yaitu: pendeta (gembala) dan guru (doktor
dalam arti aslinya seseorang yang mengajar). Menurut Calvin terdapat tiga
golongan yang dianggap para pelajar dalam Pendidikan Agama Kristen.
Pertama-tama Calvin menunjukkan bahwa setiap pendeta melayani dua jemaat
sekaligus,yaitu:jemaat anak-anak dan jemaat orang dewasa. Jemaat anak-anak
dilayaninya melalui kelas katekisasi, sedangkan jemaat orang dewasa dilayaninya
melalui kebaktian umum khususnya khotbah.
Golongan pelajar yang kedua adalah mereka yang
menghadiri skeolah di Jenewa baik pada taraf
Sekolah Dasar dan menengah maupun perguruan tinggi yang diperhatikan
oleh para pendeta dan pemimpin kotapraja. Golongan pelajar yang ketiga adalah
pendeta dan pengajar. Selama mereka mengajar orang lain, mereka perlu selalu
mempelajari Alakitab dan sumber lainnya yang memupuk pikirannya. Calvin ingin
supaya kemimpinan gerja dipegang oleh para pelayan yang terpelajar. Ada pun
sumbangan Calvin bagi pikiran dan praktik PAK adalah sebagai berikut:
1.
Yohanes Calvin ingin mendasarkan
pendidikan gerejawi atas dasar teologi dan kemudian mengembangkan pelayanan
pedagogis yang selaras dengan teologi yang ia jelaskan.
2.
Pendidikan Agama Kristen adalah bagian
integral dan pelayanan gereja karena gerejalah Sang ibu yang mengasuh
anak-anaknya.
3.
Dia menjunjung tinggi khotbah sebagai
sarana untuk mendidik para warga jemaat.
4.
Dia menjunjung tinggi khotbah sebagai
sarana untuk mendidik para warga jemaat.
5.
Dia mendidik jemaat memuji Tuhan melalui
penggunaan mazmur-mazmur yang dinyanyikan jemaat dalam bahasa daerah(bahasa
prancis).
6.
Dia menetapkan sakramen Baptisan sebagai
tanda pemilihan Allah dalam Yesus Kristus dan sakramen Perjamuan Kudus sebagai
karunia yang mutlak ada dalam kebaktian selama menjauhkan kedua-duanya dari
ketakhayulan.
7.
Dia mendorong pemerintah dan masyarakat
Jenewa mendirikan akademi sebagai pusat persekolahan gerejaam.[18]
III.
Kesimpulan
Dari beberapa
pemaparan diatas kami sebagai penyaji menyimpulkan bahwa Pendidikan Agama
Kristen adalah proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan alkitab, berpusat
pada Kristus dan bergantung pada Roh Kudus yang memasuki persekutuan iman yang
hidup sebagai orang kristen yang mempermulikan Nama-Nya disegala tempat.
Dan Gereja merupakan umat yang dipanggil
keluar untuk menjadi umat Kristus, dan jemaat merupakan bagian dari gereja dan
Kristus sebagai kepalanya.
Pendidikan
Agama Kristen Dalam Gereja bertujuan untuk membimbing warga jemaat ke dalam
perkembangan rohani dan jasmani melalui pengajaran Alkitab sehingga akan
mempersiapakan manusia dalam pelayanan. Yang mengarah pada setiap anak-anak,
remaja dan orang dewasa melalui sekolah minggu, kebaktian umum, pembelajaran
Alkitab dan lain-lain. Dengan demikian yang menjadi dasar alkitab mengenai hal
tersebut dapat dilihat dari dari berbagai bentuk pengajaran dan baptisan
(Mat.28:19-20). Dan tokoh PAK dalam Gereja Purba antara lain; Clementus &
Augustinus, serta tokoh PAK dalam gereja
pertengahan anatara lain; Karel Agung, Alfred Agung, Rabanus Maurus, Petrus
Abelardus, & Thomas Aquino, dan juga tokoh PAK dalam Gereja Zaman Protestan
antara lain; Martin Luther & Yohanes Calvin.
IV. Daftar Pustaka
Boehike Robert R., Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek
dari Plato sampai lg.Loyola, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994
GP Harianto, Pendidikan Agama Kristen Dalam Alkitab dan
Dunia Pendidikan Masa Kini, Yogyakarta:
ANDI, 2012
Homrighausen
E.G. & Enklaar I.H.,Pendidikan Agama
Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011
Kristianto Paulus
Lilik, Prinsip & Praktik Pendidikan
Agama Kristen, Yogyakarta: ANDI, 2008
Muhamara Daniel, Pembimbing PAK, Bandung: Jurnal Info
Media, 2007
Nainggolan John. M., Menjadi Guru Agama Kristen, Bandung:
Generasi Info Media, 2007
Sijabat B. S., Strategi Pendidikan Kristen, Yogyakarta:
ANDI,1994
Stefanus Daniel, Sejarah PAK(Tokoh-tokoh Besar PAK),
Bandung: Bima Media Informasi, 2009
Sukarman
Timotius, Gereja: yang Bertumbuh &
Berkembang, Yogyakarta: ANDI,2012
Tanya
Eli,Gereja dan Pendidikan Agama Kristen,
Cipanas:Sekolah Tinggi Teologia Cipanas,1999
[10]John. M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen, (Bandung:
Generasi Info Media, 2007), hlm. 12.
[13]
E.G.Homrighausen & I.H.Enklaar,Pendidikan
Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 120-122
[16]Daniel
Stefanus, Sejarah PAK(Tokoh-tokoh Besar
PAK), (Bandung: Bima Media Informasi, 2009), 66-72
Tidak ada komentar:
Posting Komentar