Senin, 16 Mei 2016

Aliran-aliran Pendidikan



ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN
I. Pendahuluan
            Pendidikan merupakan suatu proses yang kegiatannya membimbing orang agar mampu mengembangkan dan menyiapkan diri guna mengambil tempat semestinya dalam pengembangan masyarakat dan dunianya dihadapan sang pencipta.[1] Sehingga melalui pendidikan manusia akan dibekali moral dan nilai-nilai kemasyarakatan. Sebenarnya masih banyak sekali peranan-peranan pendidikan bagi manusia. Nah, untuk itu pada kesempatan ini kita akan membahas bagaimana sebenarnya peranan pendidikan jika dilihat melalui aliran-aliran yang ada pada pendidikan tersebut. Apakah pendidikan memiliki peranan atau malah sebaliknya, yang tidak sama sekali memiliki peranan dalam membentuk manusia.
II. Pembahasan
2.1. Pengertian Aliran
            Aliran diartikan sebagai sesuatu yang mengalir, namun aliran yang dimaksud disini merupakan pendapat, paham dan andangan hidup.[2]

2.2. Pengertian Pendidikan
            Pendidikan merupakan kebutuhan esensial manusia yang menyentuh kerangka otak atau dapat juga dikatakan suatu proses berpikir tentang pengetahuan, pemahaman, skill, etika dan sebagainya, yang aktivitasnya menuju suatu proses transmition. Transmition sering disebut sebagai pepindahan sesuatu (pengetahuan, pemahaman, skill, etika) dari pikiran seseorang ke pikiran orang lain. Pendidikan tidak akan berlangsung tanpa adanya proses transmitif, sehingga guru harus mempunyai something  dimana murid tidak memilikinya dan  pendidik adalah fasilitas untuk belajar.
            Istilah pendidikan dalam bahasa Inggris disebut dengan “Education” dengan kata dasar Educate(mendidik atau membimbing).[3] Kata Education juga berhubungan dengan bahasa Latin yaitu Educare (e = keluar dan ducare = mengangkat atau memimpin.[4] Jadi, Education adalah mengangkat keluar dengan cara mendidik anak.
            Secara Etimologi pendidikan berarti Pedagogie yang berasal dari kata Yunani “paedos”, yang berarti anak dan “agogos” artinya mengantar atau membimbing.[5]Jadi Paeogogie adalah suatu usaha yang kegiatannya membimbing atau mengarahkan anak. Dalam proses Paeogogie hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarahkan, serta pengalaman guru dialihkan ke pihak murid. Sehingga gurulah yang menentukan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dengan demikian peran gurulah yang lebih menonjol dalam paeogogie dan murid belum memiliki cara pikir yang kreatif.
            Dari Istilah bahasa Yunani pendidikan berarti Andragogie yang terdiri atas dua kata “Andr” berarti orang dewasa dan “agogos” yang berarti memimpin atau membimbing.Jadi, Andragogie adalah membimbing dan membantu orang dewasa untuk belajar.[6] Dalam Andragogie hubungan itu bersifat timbal-balik dan saling membantu, serta pengalaman yang dimiliki seorang pelajar dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Sehingga anak didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri dan guru hanya sebagai fasitator. Dengan demikian anak didik disini telah memiliki cara pikir yang keatif dan aktif.

2.3. Jenis-jenis Aliran pendidikan
1. Aliran Nativisme
            Aliran nativisme (aliran pembawaan) dipelopori oleh Schopenhauer. Aliran ini berkeyakinan bahwa anak yang baru lahir membawa bakat, kesanggupan dan sifat-sifat tertentu dari orang tuanya. Pendidikan dan lingkungan tidak berpengaruh sama sekali dan tidak berkusa dalam menentukan perkembangan seseorang. Jadi, dapat dikatakan bahwa perkembangan manusia dalam hidup bermasyarakat itu tergantung kepada pembawaan, sehingga pengaruh luar sangat sedikit sekali dan bahkan hampir tidak ada. Orang menjadi ali agama, pelukis, guru dan lain-lainnya itu semua semata-mata faktor karena pembawaan, bukan karena pengaruh lingkungan atau pendidikan.[7] Misalnya kalau ayahnya ahli musik maka kemungkinan besar anaknya juga akan ahli musik.
            Namun, apabila dipandang dari segi ilmu pendidikan hal itu tidak dapat dibenarkan, karena jika benar segala sesuatu tergantung pada dasar, jadi pengaruh lingkungan dan pendidikan dianggap tidak ada, maka konsekuensinya harus kita tutup saja semua sekolah, sebab sekolah toh tidak mampu mengubah anak. Akan tetapi hal yang demikian justru bertentangan dengan kenyataan yang kita hadapi, karena sudah sejak zaman dahulu hingga sekarang orang berusaha mendidik generasi muda, karena pendidikan itu perlu dan bahkan harus dilakukan. Jadi, konsepsi nativisme itu tidak dapat dipertahankan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.[8]
            Aliran empirisme ini juga dapat dianggap sebagai aliran yang pesimistis, karena menerima kepribadian sebagaimana adanya, tanpa ada kepercayaan adanya terhadap pendidikan untuk merubahnya[9]
2. Aliran Empirisme
            Aliran Empirisme merupakan aliran yang menganggap bahwa manusia semata-mata ditentukan oleh dunia luar. Sedangkan pengaruh-pengaruh dari dalam (faktor keturunan) dianggapnya tidak ada. Aliran ini dipelopori oleh John Locke, dengan teorinya Tabularasa. Ia mengangggap bahwa seorang anak yang baru lahir ibarat kertas putih dan lingkungan itulah yang menulisinya.[10]
            Namun apakah aliran empirisme ini memang tahan diuji? Jika sekiranya konsepsi ini memang benar, maka kita dapat menciptakan manusia yang ideal sebagaimana kita cita-citakan asalkan kita dapat menyediakan kondisi-kondisi yang diperlukan untuk itu. Tetapi kenyataan yang kita jumpai menunjukkan hal yang berbeda daripada yang digambarkan itu. Banyak anak-anak orang kaya yang mengecewakan orang tuanya karena tidak berhasil di dalam belajar, walaupun fasilitas-fasilitas bagi mereka sangat luas, sebaliknya banyak juga orang yang kurang mampu berhasil dalam belajar, walaupun fasilitas mereka perlukan sangat jauh dari mencukupi. Jadi, aliran empirisme ini juga tidak tahan uji dan tidak dapat dipertahankan.[11]
3. Aliran Konvergensi
            Konvergensi berasal dari kata Convergenti yang artinya, penyatuan hasil atau kerjasama untuk mencapai satu hasil. Aliran ini merupakan kombinasi antara aliran Nativisme dan Empirisme. Aliran ini mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia itu tergantung pada dua faktor, yakni faktor bakat/pembawaan dan faktor lingkungan, pengalaman/pendidikan.
            William Stern, pelopor aliran ini mengatakan bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dibawa lahir itu adalah petunjuk-petunjuk nasib. Namun, tenaga-tenaga dari luar dapat menolong tetapi bukanlah ia yang menyebabkan pertumbuhan itu, karena ini datangnya dari dalam  yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong. Sebagai contoh, anak dalam tahun pertama belajar mengoceh, kemudian baru bercakap-cakap. Ia meniru suara-suara yang didengarnya dari ibunya dan dari orang-orang sekitarnya. Bakat dan dorongan itu tidak dapat berkembang, jika tidak ada bantuan dari luar yang membantunya. Dalam hal ini, jika tidak ada suara-suara atau kata-kata yang didengarnya, maka tidak mungkin anak tersebut bercakap- cakap.
            Teori ini digambarkan sebagai bakat, dorongan hasil, tujuan, pengalaman, lingkungan dan pendidikan. Aliran ini mempunyai dasar yang kuat dari pada teori-teori yang lain, karena dalam kenyataannya kedua faktor itu memang tidak bisa diabaikan. Namun, aliran ini juga mempunyai kelemahan.[12]
4. Aliran Behaviorisme
            Aliran ini merupakan aliran ilmu jiwa di Amerika. Pelopor aliran ini ialah: William James, Thorndike, dan Waston.
Ciri-ciri aliran Behaviorisme
1.      Aliran ini mempelajari perbuatan menusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman-pengalaman batin di kesampingkan dan hanya perubahan pada badan saja yang dipelajari. Maka sering dikatakan bahwa behaviorisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa.
2.      Semua perbuatan dikembalikan pada reflek. Behaviorisme mencari unsur-unsur yang paling sederhana yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran yang dinamakan reflek.
3.      Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Menurut aliran ini pendidikan adalah maha kuasa. Manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan dan pendidikan dapat mempengaruhinya.[13]
5. Aliran Progressivisme
            Aliran ini berkeyakinan bahwa manusia mempunyai kesanggupan-kesanggupan untuk mengendalikan hubungannya dengan alam, sanggup meresapi rahasia-rahasia alam dan menguasainya. Namun, disisi lain ada kesangsian bahwa apakah manusia dapat belajar bagaimana mempergunakan kesanggupan itu. Tetapi meskipun demikian Progressivisme bersikap optimis, tetap percaya bahwa manusia dapat menguasai seluruh lingkungannya, lingkungan alam dan lingkungan sosial.
            Maka tugas pendidikan menurut pragmatisme ialah meneliti sejelasnya kesanggupan -kesanggupan manusia itu dan menguji kesanggupan-kesanggupan itu dalam pekerjaan praktis . Yang dimaksud disini ialah bahwa manusia hendaknya mempekerjakan ide-ide atau pikiran-pikirannya. Istilah progressivisme dalam bagian ini akan dipakai dalam hubungannya dengan pendidikan dan menunjukkan sekelompok keyakinan-keyakinan yang tersusun secara harmonis dan sisitematis dalam hal mendidik. Keyakinan yang didasarkan pada sekelompok keyakinan-keyakinan filsafat yang lazim disebut orang pragmatisme,instrumentalisme dan eksperimentalisme.
            Dewey berpendapat bahwa tujuan umum pendidikan ialah menjadikan warga masyarakat yang demokratis, isi pendidikan lebih mengutamakan bidang bidang studi seperti: IPA, Sejarah, Keterampilan, serta hal-hal yang berguna atau langsung dirasakan oleh masyarakat. Metode scientific lebih dipentingkan dan bukan metode memorisasi seperti pada aliran esensialisme. Praktek kerja di laboratorium, di bengkel, di kebun (lapangan) merupakan kegiatan yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya “learning by doing” Progressivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan secara terpisah, melainkan harus diusahakan terintegrasi dalam unit, karena perubahan yang selalu terjadi maka diperlukan fleksibilitas dalam pelaksanaannya dalam arti tidak kaku,tidak menghindar dari perubahan, tidak terikat oleh doktrin tertentu bersifat ingin tahu, toleran, dan berpandangan luas serta terbuka.[14]
6. Aliran Essensialisme
            Tujuan utama aliran essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi essensialisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadiakan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan keagungan.[15]
            Bagi essensialisme, pendidikan yang berpijak pada dasarnya itu mudah goyah dan kurang terarah karena itu essensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga memberikan kestabilan dan arah yang jelas. Essensialisme didasari atas pandangan tumanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, ilmiah dan metrialistik. Selain itu juga diwarnai oleh pandangan-pandangan dari paham penganut aliran idealisme dan realisme. Ada beberapa beberapa tokoh utama yang berperan dalam peyebaran aliran essensialisme, yaitu:
1. Johhnn Amos Comenius(1592-1670)
               Comenius berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan membentuk anak sesuai dengan kehendak tuhan, karena pada hakekatnya dunia adalah dinamis dan bertujuan.
2. John Locke(1692-1704)
               Ia berpendapat bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi.
3. Johann Henrich Pestalozzi(1746-1852)
               Pestalozzi mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia,sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampan wajarnya. Selain itu, ia mempunyai keyakinan bahwa manusia juga mempunyai hubungan trasendental langsung dengan Tuhan.
4. Johann Friederich Frobel(1782-1852)
               Frobel berkeyakinan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini, sehingga manusia harus tunduk dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum alam. Terhadap pendidikan Frobel memandang anak sebagai makhluk yang berekspresi kreatif, yang dalam tingkah lakunya akan nampak adanya kualitas metafisis. Jadi tugas pendidikan ada diri sendiri yang murni selaras dengan fitrah kejadiannya.
            Melalui organisasi ini pandangan-pandangan esensialisme dikembangkan dalam dunia pendidikan pandangan yang dipengaruhi oleh paham idelisme dan realisme, maka konsep-konsepnya tentang pendidikan sedikit banyak ikut diwarnai oleh konsep-konsep idealisme dan realisme. Tujuan umum aliran essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan,kesenian dan segala yang mampu menggerakkan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi esensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum seperti pola idealisme, realisme dan sebagainya. Sehingga peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada di masyarakat.[16]
7. Aliran Perennialisme
            Aliran perennialisme mengandung kepercayaan fisafat yang berpegang pada nilai- nilai dan norma-norma yang bersufat jejak abadi. Perennialisme melihat bahwa akibat dari kehidupan zaman modern telah menimbulkan banyak krisis diberbagai bidang kehidupan umat manusia. Untuk mengatasi krisis ini perennialisme memberikan jalan keluar berupa “kembali kepada kebudayaan masa lampau “regressive road to culture”. Oleh sebab itu perennialisme memandang penting peranan pendidikan dalam proses memgablikan keadaan manusia zaman modern ini kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan yang telah terpuji ketangguhannya. Sikap kembali pada masa lampau bukanlah berarti nostalgia sikap yang membanggakan kesuksesan dan memulihkan kepercayaan pada nilai-nilai asasi abad silam yang diperlukan dalam kehidupan abad modern.
Prinsip-prinsip perennialisme
            Menurut plato, manusia secara kodrati memliki tiga potensi yaitu:nafsu, kemauan dan pikiran. Pendidikan hendaknya beorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat,agar supaya kebutuhan yang da pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Ide-ide plato itu dikembangkan oleh aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia kenyataan.Bagi aristoteles tujuan pendidikan adalah kebahagiaan. Untuk mencapai tujuan pendidikan itu,maka aspek jasmani, emosi, dan intelek harus dikembangkan secara seimbang.
            Menurut Thomas Aqunias, tujuan pendidikan adalah sebagai usaha mewujudkan kapasitas yang ada dalam individu agar menjadi aktulisasi aktif dan nyata. Dalam hal ini peranan guru adalah mengajar memberi bantuan pada anak didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya. Prinsip-prinsip pendidikan perenialisme tersebut perkembangannya telah mempengaruhi sistem pendidikan modren, seperti pembagian kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi dan pendidikan orang dewasa.[17]

8. Aliran Rekonstruksionalisme
            Pada dasarnya aliran rekonstruksionalisme adalah sepaham dengan aliran perennialisme dalam hendak mengatasi krisis kehidupan modern, hanya saja jalan yang ditempuhnya berbeda dengan apa yang dipakai oleh perennialisme, tetapi sesuai dengan istilah yang dikandungnya, yaitu tentang tujuan utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia. Untuk mencapai tujuan itu, rekonstruksionalsme berusaha mencari kesepakatan semua orang mengenai tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan baru seluruh lingkungannya. Maka melalui lembaga dan proses pendidikan, rekonstruksionalisme ingin merombak susunan yang lama, dan membangun susunan hidup kebudayaan yang baru.
            Dalam rangka mewujudkan cita-cita pendidikan yang dimaksud ini, diperlukan adanya kerja sama semua bangsa-bangsa. Para penganut aliran rekonstruksionalisme berkeyakinan bahwa bangsa-bangsa di dunia memppunyai hasrat yang sama untuk menciptakan satu dunia baru, dengan satu kebudayaan baru di bawahsatu kedaulatan dunia, dalam pengawasan mayoritas umat manusia.[18]
9. Aliran Eksistensialisme
            Aliran eksistensialisme biasanya dialamatkan sebagai salah satu reaksi dari sebagian terbesar reaksi terhadap peradaban manusia yang hampir punah akibat perang dunia kedua. Dengan demikian eksistensialisme pada hakikatnya merupakan aliran filsafat yang bertujuan mengembalikan kebenaran umat manusia sesuai dengan keadaan hidup asasi yang dimiliki dan dihadapinya.
               Kierkegaard mengatakan bahwa eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala bentuk kemutlakan rasional. Dengan demikian aliran ini hendak memadukanhidup yang dimiliki dengan pengalaman, dan situasi sejarah yang dialami,  dan tidak mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak dan spekulatif. Baginya segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya.
               Van Cleve Morris berpendapat bahwa eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan dalam segala bentuk. Olewh karena itu, eksistensialisme dalam hal ini menolak bentuk-bentuk pendidikan sebagaimana yang ada sekarang. Namun bagaimana konsep pendidikan eksistensialisme menurut morris sebagai Existentialisme’s concept of freedom in education.[19]

III. Kesimpulan
            Dari beberapa pemaparan diatas, saya sebagai penyaji menyimpulkan bahwa aliran-aliran pendidikan itu memiliki ciri-ciri atau cara pandang yang berbeda terhadap faktor yang mempengaruhi perubahan-perubahan manusia. Namun, dari setiap aliran tersebut memiliki kelemahan satu sama lain, sehingga dari kelemahan tersebut bisa dijadikan sebagai pemersatu atau saling memperlengkapi satu sama lain. Dengan demikian kita dapat melihat bagaimana sebenarnya proses pembentukan manusia tersebut apakah di pengaruhi oleh faktor keturunan atau faktor lingkungan/pendidikan, atau bahkan faktor keduanya.

IV. Daftar Pustaka
-----, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,2007
-------, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1988
AhmadAbu i, Ilmu Pendidikan , Jakarta: PT. RINEKA CIPTA, 2013
Brajonegoro, Pengantar Umum Pendidikan, Jakarta:Hksara Baru,1988
Ismail Andar,Selamat Ribut Rukun, Jakarta:BPK-GM,1993
Jalaluddin, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997
Mardiatmaadja B.S, Tantangan Dunia Pendidikan, Yogyakarta:Kanisius,1986
Suprijanto H, Pendidikan Orang Dewasa, Jakarta:Bumi Aksara,200
Suryabrata Sumadi, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA,        2013
Syah Muhibbin, Psikologi Pendidikan, Bandung:Remaja Rasda Karya,1995



                [1] B.S Mardiatmaadja, Tantangan Dunia Pendidikan, (Yogyakarta:Kanisius,1986),19
                [2] -----, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,2007), 31
                [3] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung:Remaja Rasda Karya,1995),10
                [4] Andar Ismail, Selamat Ribut Rukun, (Jakarta:BPK-GM,1993),114
                [5] Brajonegoro, Pengantar Umum Pendidikan, (Jakarta:Hksara Baru,1988),17
                [6] H.Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa, (Jakarta:Bumi Aksara,2007).11
                [7] Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. RINEKA CIPTA, 2013), 291-292
                [8] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, 2013), 177-178
                [9] -------, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, ( Surabaya: Usaha Nasional, 1988), 9
                [10] Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan,  (Jakarta: PT. RINEKA CIPTA, 2013), 293-294
                [11]Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, 2013), 178-179

                [12]Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan(Jakarta: PT. RINEKA CIPTA, 2013), 294-297
                [13]Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, 297-299
                [14] Tholib Kasan, Dasar-dasar Pendidikan(Jakarta: Studia Press, 2009), 76-80
                [15] Jalaluddin, Filsafat Pendidikan(Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), 83
                [16]Tholib Kasan, Dasar-dasar Pendidikan(Jakarta: Studia Press, 2009), 80-84
                [17]Jalaluddin, Filsafat Pendidikan(Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), 89-96
                [18]Tholib Kasan, Dasar-dasar Pendidikan(Jakarta: Studia Press, 2009), 84-85
                [19]Tholib Kasan, Dasar-dasar Pendidikan, 85-87

1 komentar:

  1. 188bet - TH TOP BET
    188bet is one of the pioneers of online sports betting, combining the power of innovation with 188bet the knowledge dafabet link of william hill the most advanced sports in the world. It offers

    BalasHapus